Showing posts with label gereja santo laurensius. Show all posts
Showing posts with label gereja santo laurensius. Show all posts

Sunday, January 15, 2017

5 Tahun Paroki Alam Sutera

Foto Gereja Santo Laurensius.

5 Tahun Paroki Alam Sutera

Pada hari 15 Januari 2012 tepat ulang tahun ke-5 sebagai Paroki yang pada hari Minggu, 15 Januari 2012, Uskup Agung Jakarta, Mgr. Ignatius Suharyo menerbitkan Surat Penegasan Pendirian Paroki Santo Laurensius, Alam Sutera – Serpong Utara, Tangerang, dengan no : 025A/3.15/2012.  Juga melantik Dewan Paroki dan Pengurus Gereja dan Dana Papa Roma Katolik Gereja Santo Laurensius, Alam Sutera – Serpong Utara, Tangerang Selatan.

Perayaan Ulangtahun Paroki diperingati secara sederhana dengan Misa  konselebrasi sebagai selebran utama Romo Hadi dan  konselebran Romo Wiryo dan Romo Danto pada Misa pukul 8:30 pagi.



Pelindung Gereja - Santo Laurensius, Martir

Pelindung Gereja

 

Santo Laurensius, Martir

Laurensius lahir pada abad III di Via Tiburtino, Roma, dari keluarga bangsawan yang kaya. Ayahnya bernama Crence dan ibunya Patience. Pada waktu itu orang Kristen sudah mempunyai banyak pengikut, namun masih menderita banyak kesukaran, terutama dari penguasa Romawi yang kejam. Kaisar Romawi pada waktu itu adalah Valerianus yang menuntut penyembahan dewa-dewa kepada semua warganya. Padahal orang-orang Kristen dengan giatnya menyebarkan Injil, yang bertentangan dengan penyembahan dewa-dewa. Maka, mereka pun menghadapi resiko yang amat besar. Banyak dari mereka yang kemudian ditangkap dan dibunuh atas perintah kaisar. Ketika itu Laurensius belum dibaptis, namun ia amat tertarik kepada ajaran Kristus. Ia sering pergi ke Gereja dan mendengarkan dengan tekun khotbah dan pengajaran Katolik, sehingga ia pun layak dipermandikan. Kemudian Laurensius menjadi seorang Katolik yang amat saleh dan bersemangat untuk menyebarkan agamanya. Selain saleh, ia juga didapati amat dekat dengan rakyat jelata. Oleh karena kebaikannya ini, Paus Sixtus II (257-258) berkenan mengangkatnya menjadi diakon. Laurensius termasuk salah satu dari ketujuh diakon agung yang membantu Sri Paus di Roma. Oleh Paus Sixtus, Laurensius ditugaskan mengurus harta kekayaan Gereja dan membagi-bagikan derma kepada para fakir miskin di seluruh kota Roma. Ia menunaikan tugasnya dengan sabar, penuh cintakasih, dan halus budi. Ia berhasil menarik orang-orang tak terpelajar dan kaum miskin ke Gereja. Tentu saja Kaisar menjadi marah sekali mendengar itu semua dan semakin gigih mengejar umat Kristen. Penganiayaan dan pengejaran itu meluas ke seluruh kota Roma, hingga Yang Mulia Bapa Suci pun terpaksa berdiam di bawah tanah di dalam katakombe. Di dalam katakombe-katakombe itulah para imam mengurbankan Misa suci. Pada tanggal 6 Agustus 258, katakombe Praetextatus masih gelap. Di segala penjuru sunyi senyap, pintu batu yang menganga lebar tidak pula ditembusi sinar terang. Tiba-tiba orang yang menjaga pintu melihat nyala lilin di dalam kegelapan. Ia bangkit tegak berdiri, siap dengan senjatanya. Nyala lilin makin mendekat, 8 orang nampak bersama-sama mendekati pintu “Pax Christi, Salam Kristus bagimu,” bisik si penjaga pintu. Serentak mereka memberikan jawaban, “Pax Christi.” Penjaga pintu pun berlutut, ketakutannya lenyap. Kedelapan orang itu lalu masuk ke bagian paling dalam dari katakombe. Di tempat itulah Sri Paus Sixtus II hendak mempersembahkan Misa. Lilin di kanan kiri altar telah dinyalakan. Misa dimulai, imam Quartus, diakon Laurensius yang jenaka, serta keenam diakon lainnya dengan khidmat berlutut di depan altar. “Kyrie eleison... Christe eleison....,”berbagai doa permohonan turut serta dipanjatkan ke hadirat Tuhan. Ketika Misa sampai pada Gloria... tiba-tiba terdengarlah jerit penjaga pintu, suaranya tercekik, tak jelas, minta tolong...! Jeritan disusul teriakan dahsyat bergema di segala penjuru katakombe. Segerombolan serdadu ganas telah masuk ke kapel di katakombe; jalan masuk telah mereka temukan. Penjaga pintu mereka bunuh. Dengan kasar ditariknyalah Sri Paus Sixtus II dari altar suci. Sebentar saja kedua tangan beliau telah terikat erat-erat bersilang di belakang. Ketujuh orang diakon dan imam berusaha menolong tetapi jumlah serdadu jauh lebih banyak dan bersenjata lengkap sehingga tak lama mereka pun ikut terbelenggu semua. “Hai saudara-saudara, apa sebabnya kamu menangkap saya?” tanya Sri Paus. “Tak perlu tanya-tanya!” jawab serdadu-serdadu tanpa sopan. “Lihat apa ini? Tak mengertikah kau akan edictum Kaisar Valerianus ini?” “Kaisar menyuruhmu menangkap saya,” ujar Bapa Suci setelah menatap edictum itu. “Tak salah katamu!” “Tangkaplah saya, tetapi biarkan diakon-diakon ini tinggal di sini,” kata Bapa Suci tanpa gentar sedikit pun menghadapi maut. “Tak ada perkecualian!” Maka Sri Paus, imam Quartus dan keenam diakon pun diseret keluar dan dihadapkan ke pengadilan walikota Roma. Kemudian Sri Paus Sixtus dibawa kembali ke katakombe Praetextatus untuk dihukum mati di sana. Sementara itu Laurensius meminta agar walikota memperbolehkannya ikut serta pergi ke katakombe. Akhirnya, dengan dikawal serdadu Laurensius menyusul Sri Paus Sixtus II yang telah berada di sana. Hampir terlambat... serdadu telah mengayunkan kapaknya. Cepat bagaikan kilat Laurensius berteriak, menjatuhkan dirinya, dan mencium kaki Sri Paus Sixtus II. “Oh, Bapa Suci, engkau tidak akan pernah pergi tanpa diakonmu ini!” “Laurensius, tabahkanlah hatimu. Biarkanlah aku mendahuluimu,” demikian kata Bapa Suci menenangkan Laurensius. Serdadu terpaku, kapak perlahan-lahan kembali ke bahunya. “Ah Bapa Suci, pernahkah aku tidak setia kepadamu? Pernahkah aku mengingkarimu? Bapa Suci, aku ikut serta denganmu,” pinta Laurensius. “Kudoakan, jangan berkecil hati. Tak lama lagi engkau akan menyusul aku ke hadirat Tuhan. Bahkan penderitaanmu akan lebih besar dari ini. Tinggallah sebentar. Bagikanlah derma dan dana yang ada pada Gereja ke-pada orang-orang miskin. Sudah Laurensius, sekian!” Sang algojo pun sudah tak sabar, kapak diangkat tinggi-tinggi, dan... kepala Bapa Suci pun terguling jatuh ke tanah. Laurensius tak bergerak, air matanya meleleh jatuh ke pangkuannya. Tak lama kemudian Laurensius pun dibawa kembali ke hadapan pengadilan walikota. Tentunya walikota Roma sangat senang melihat Laurensius dihadapkan kembali kepadanya. Mukanya berseri-seri seolah-olah tak tahu menahu akan kepedihan hati Laurensius. “Saudaraku Laurensius, saya merasa kasihan padamu. Kau masih muda, tampan pula rupamu. Janganlah kau bertegar hati dengan kepercayaanmu itu.” “Apa gunanya berbicara denganmu, hai Tuan Mulia! Apa yang ingin kauperbuat terhadap diriku, lakukanlah dengan segera,” jawab Laurensius dengan jenaka. Walikota tak menampakkan kemarahannya, bahkan ditutupinya dengan senyum manis yang dibuat-buat. “Laurensius, aku tak bermaksud membunuh engkau, asal...” “Aku tak akan mengingkari imanku!” jawab Laurensius. “Bukan begitu yang kumaksud.” “Apa lagi?” “Tak perlu kauingkari imanmu, asalkan kau mau menyerahkan semua harta benda Gereja yang kaukuasai itu kepada kekaisaran Roma guna kepentingan perangnya. Aku jamin dengan demikian engkau akan selamat.” “Harta benda Gereja?” “Ya, semua uang dan semua harta bendanya.” “Baik, aku bersedia menyerahkan, tetapi beri aku waktu 3 hari untuk mempertimbangkan ini semua masak-masak.” “Laurensius sahabatku, bagus betul keputusanmu. Engkau akan selamat!” Lalu Laurensius pun dilepaskan dari penjara. Setelah lepas dari penjara, Laurensius menjalankan tugasnya, yaitu dengan cara membagikan harta benda kepada fakir miskin. Bahkan ia menjelajah segala pelosok kota Roma sampai ke pedusunan-pedusunan pula. Ia mengumpulkan orang-orang sakit, janda, anak-anak yatim piatu dan terlantar, para pengemis di pinggiran jalan-jalan; mereka semua diarak ke kota Roma. Di sanalah mereka mendapat makanan dan pakaian dari Laurensius. Berduyun-duyun segala orang miskin dengan segera membanjiri kota, hingga selama dua hari terkumpullah sekitar 1500 orang, tua muda, besar kecil, laki-laki dan perempuan. "Saudara-saudariku sekalian,” demikian seru Laurensius kepada mereka. “Tuhan telah berkenan mengumpulkan kamu semua di kota ini. Lihatlah, Tuhan telah memberi kamu apa saja yang kamu butuhkan. Ambillah ini, pakailah, itu semua untukmu, dan berterima kasihlah kepada Tuhan.” Serentak mereka semua berlutut bersyukur, “Terima kasih, ya Tuhan.” “Hai saudara-saudariku, hanya satu permintaanku kepadamu. Datanglah besok pagi kekoloseum menghadap pengadilan kota Roma,” demikian Laurensius melanjutkan. “Akan dihukumkah kami?” tanya orang-orang miskin itu. “Jangan takut, Tuhan akan melindungimu.” Pada keesokan harinya, yaitu pada hari ketiga, Laurensius bersama dengan sekitar 1500 orang miskin dan sengsara pergi me-nuju Colloseum di kota Roma. Pengadilan kota Roma telah siap menanti kedatangan Laurensius yang akan menyerahkan semua harta benda Gereja kepada Kaisar. “Ha-ha-ha, selamat datang Laurensius! Kaisar akan sangat gembira menyambutmu. Sudah siapkah engkau menyerahkan semua harta benda itu?” “Ya Tuan, semua sudah siap!” “Bagus benar! Di manakah harta benda itu?” “Semuanya telah kubawa ke sini. Lihatlah, semuanya telah sedia!” Di dekat koloseum orang-orang yang datang bersama Diakon Laurensius telah tak sabar lagi menanti, gaduh benar suaranya. Walikota pun dengan diiringi Laurensius datang ke tempat orang-orang itu berkumpul. “Mana harta benda yang kaukatakan tadi?” “Tuan walikota yang terhorhat, ambillah dan peliharalah orang-orang miskin dan sengsara ini.Mereka inilah yang menjadi kekayaan Gereja. Ambillah, persembahkanlah kepada Kaisar.” Walikota pun segera naik pitam, “Kurang ajar! Gila betul, engkau memperolok-olok saya. Serdadu, tangkap orang gila ini! Bawa ke tempat penggorengan!” Serdadu pun menangkap Laurensius, menanggalkan bajunya, dan menariknya ke atas penggorengan. Kaki tangannya terikat erat pada sisi-sisi tempat tidur besi. Orang-orang miskin yang hadir di situ terkejut mendengar keputusan ini. Mereka berusaha membela Laurensius dan melepaskannya, tetapi tak berdaya melawan para serdadu yang bersenjata lengkap. Dengan menggerutu walikota duduk di dekat penggorengan tempat Laurensius terentang. Di sekeliling tempat itu para pembesar kota juga telah hadir untuk menyaksikan pertunjukan yang sangat mengerikan itu. Walikota berdiri tegak dan dengan garang memandang Laurensius, “Algojo! Ambil alat penyesahmu. Cambuk orang gila ini sampai sepuasmu!” Walau tubuh Laurensius ge-etar penuh luka, namun wajahnya tetap tersenyum. “Ya Tuhan, kuatkanlah hambamu ini,” bisiknya dalam hati. Para penonton kagum, mereka menggeleng-gelengkan kepala. Walikota semakin marah, ia merasa terhina. “Ambil kayu bakar, nyalakan api di bawah penggorengan itu!” Kayu mulai menyala dan dengan perlahan membakar daging Laurensius sedikit demi sedikit. Namun, wajah Laurensius yang menatap orang-orang di sekelilingnya memancarkan sinar yang indah. Setelah penderitaan yang lama, ia berpaling kepada walikota dan berkata dengan senyum yang gembira, “Hai, Tuan Walikota yang mulia! Suruhlah serdadu-serdadumu ini membalikkan tubuhku ini, sebab yang sebelah bawah telah masak. Suruhlah balikkan agar yang sebelah lain masak juga!” Dengan marah dan geram walikota berteriak, “Serdadu, besarkan api! Buat api berkobar-kobar, seganas mungkin!” Tiba-tiba walikota mundur sedikit. Semua yang hadir berpandang-pandangan, kerongkongan mereka bagai tersumbat. Ada apa gerangan? Dari tubuh yang menderita itu tersebar aroma yang harum memenuhi seluruh tempat itu. “Bau apa ini?” mereka berbisik-bisik. Tak seorang pun dapat menjawab; mereka sangat ketakutan dan tidak tahu apa yang harus dilakukan. Sementara itu Laurensius yang gagah berani telah menghadap ke hadirat Tuhan sebagai seorang ksatria Kristus..... Banyak di antara mereka yang hadir sangat kagum akan ketabahan Sang Martir ini. Seketika itu pula banyak dari mereka bertobat, berpaling kepada Kristus, dan minta dipermandikan. Sebagian orang lainnya meminta tubuh Sang Martir yang telah hangus itu, dan menguburkannya di Ciriaca dalam Kampus Verano di Via Tiburtina; ketika itu tanggal 10 Agustus 258. Di kemudian hari, pada zaman Kaisar Konstantinus Agung, di atas makam Diakon Laurensius didirikan sebuah gereja megah yang melambangkan keperwiraan Sang Martir. St. Ambrosius mengemukakan bahwa walaupun tubuh St. Laurensius terbakar di atas benda yang bernyala dengan api, tetapi api cinta Tuhan jauh lebih berkobar-kobar di dalam hatinya, dan membuatnya tidak lagi menghiraukan rasa sakit yang dideritanya. Dalam tulisan-tulisan St. Agustinus dikatakan, “Martir ini tidak merasakan siksaan-siksaan para penyiksanya, karena begitu mendalam keinginannya untuk memiliki Kristus.” Karunia-karunia kecil diberikan kepada orang-orang yang berdoa dengan perantaraan St. Laurensius supaya mereka terdorong untuk memohon karunia yang lebih besar, yaitu cinta kasih kepada sesama dan kesetiaan kepada Kristus. “Jiwaku melekat pada-Mu, ya Tuhan, dan tubuhku dipanggang demi nama-Mu.”   Sumber : http://www.carmelia.net  

http://www.santo-laurensius.org/tentang-kita/pelindung-gereja/

SEJARAH PAROKI ALAM SUTERA, SERPONG UTARA Gereja Santo Laurensius Sebagai Paroki ke-62 di Keuskupan Agung Jakart

Sejarah Paroki

 
SEJARAH PAROKI ALAM SUTERA, SERPONG UTARA Gereja Santo Laurensius Sebagai Paroki ke-62 di Keuskupan Agung Jakarta Pada awalnya adalah sebuah mimpi.  Mimpi yang kemudian dirajut menjadi sebuah harapan.  Dengan sebuah usaha, kerja keras, keringat dan air mata, maka harapan itu menjadi sebuah kenyataan. Demikian pula yang terjadi pada kelompok-kelompok umat yang tinggal di perumahan Gading Serpong, Alam Sutera, dan yang tinggal di kawasan hunian sekitarnya.  Memerlukan waktu dan jarak tempuh lebih dari 10 Km untuk sampai dan beribadah di Gereja Santa Monika, BSD City.  Beberapa wacana muncul untuk membeli sebidang tanah di Gading Serpong, namun belum berwujud.  Hingga tiba saatnya di awal tahun 2004, salah satu keluarga Katolik bersama pengembang PT Alfa Goldland Realty di Alam Sutera berbincang dengan Pastor Paroki di Santa Monika, Serpong.  Kerinduan akan adanya sebuah Gereja akan segera diwujudkan melalui pemanfaatan lahan di perumahan Alam Sutera, yang letaknya tepat di samping kompleks Sekolah Santa Laurensia Pastor beserta Dewan Paroki Santa Monika menyambut niat baik tersebut dengan membentuk Panitia Pembangunan Gereja pada 19 Maret 2004.  Sebulan kemudian, 20 April 2004, Bp. Ign. Haryanto Tirtohadiguno sebagai Ketua Umum dilantik beserta segenap jajaran Panitia Pembangunan Gereja (PPG) Santo Laurensius.  Nama Pelindung Santo Laurensius dipilih semata-mata tanpa maksud mendekatkan diri dengan Sekolah Santa Laurensia yang menghormati nama pelindungnya Santo Laurensius dari Brindisi.  Santo Laurensius yang dipilih untuk Pelindung PPG adalah seorang martir, yang diperingati setiap 10 Agustus.  Misa Pelantikan dipersembahkan oleh Pastor Paroki Santa Monika Serpong, RP Y.D. Widyasuharjo, OSC. Proses legalisasi PPG semakin diperkuat dengan terbitnya Keputusan Uskup Agung Jakarta, Mgr. Julius Kardinal Darmaatmadja, SJ., dalam Pembentukan Pengurus Gereja dan Dana Papa Roma Katolik (PGDP) Gereja Santo Laurensius, pada 4 Mei 2004.  Ketua PGDP Santo Laurensius dijabat secara ex officio oleh Pastor Kepala Paroki Santa Monika, Serpong. Selanjutnya badan hukum PGDP itu pun dikukuhkan dengan Akta Notaris No.8 oleh Notaris Nanny Sri Wardani pada 21 Mei 2004.  Sementara itu desain dan gambar teknis gereja disetujui oleh Pastor Stefanus Roy Djakarya, Pr., Biro Hukum dan Pertanahan Keuskupan Agung Jakarta, pada 9 September 2004. Syukur kepada Tuhan.  Di tengah maraknya berita tentang sulitnya memperoleh izin membangun Gereja di kawasan Provinsi Banten, namun justru pada 6 Mei 2005, Bupati Kepala daerah Tingkat II Tangerang, Drs. H. Ismet Iskandar, berkenan menerbitkan Izin Pendirian Bangunan Gereja Katolik yang dituangkan dalam Surat Keputusan Bupati Tangerang nomor 593/Kep.143-Huk/2005.  Dinas Bangunan dan Pemukiman Kabupaten Tangerang atas nama Bupati segera menindaklanjuti dengan mengeluarkan surat Izin Mendirikan Bangunan dengan no surat 645.8/787-DBP/2005, pada 31 Mei 2005. Dengan memegang izin dari pihak Gereja maupun Sipil, maka PPG memohon ke Paroki Santa Monika agar dapat diperkenankan menyelenggarakan perayaan ekaristi mingguan di lokasi yang berdekatan dengan tanah yang akan dibangun gereja di atasnya.  Dewan Paroki mendukung usulan tersebut, dan menunjuk Bp. Danurdoro Susetio atau yang biasa dipanggil Pak Wawan untuk membentuk Tim Liturgi yang bertugas mempersiapkan Peletakan Batu Pertama dan menangani penyelenggaraan Perayaan Ekaristi mingguan.  Pastor Antonius Suprapto, SSCC pun menerima perutusan untuk mendampingi reksa pastoral tim liturgi tersebut disamping juga mendampingi PPG.  Akhirnya dengan diiringi doa triduum memohon tuntunan Roh Kudus pada 3 hari sebelumnya, maka Ibadat Pemberkatan Tiang Pancang dan Peletakan Batu Pertama berhasil dlaksanakan pada 10 September 2005.  Ibadat dipimpin RD Stefanus Roy Djakarya bersama RP Y.D. Widyasuharjo, OSC., dan Pastor Antonius Suprapto, SSCC.  Selanjutnya pada 27 November 2005, Perayaan Ekaristi perdana berhasil terlaksana di Gymnasium Sekolah Santa Laurensia, sebagai Misa ke-7 dari Paroki Santa Monika, Serpong. Pembangunan mulai dilakukan, setahap demi setahap, perlahan namun pasti.  Mulai dari pembangunan struktur, sampai dengan akhirnya topping off pada 22 Juli 2007.  Penggalangan dana juga terus dilakukan oleh PPG dan tim kerjanya tanpa mengenal lelah.  Pastor pendamping pun silih berganti, mulai dari RP Antonius Suprapto, SSCC., kemudian RP Serafin Danny Sanusi, OSC., hingga RP Donatus Manalu, OSC. Memasuki tahun 2007, perkembangan jumlah umat semakin meningkat, sehingga membutuhkan pelayanan yang lebih baik, tidak hanya untuk bidang peribadatan saja.  Maka Dewan paroki Santa Monika pun atas izin Bapa Uskup berkenan membentuk kepengurusan Dewan Stasi, yang dilantik pada 18 Februari 2007.  Dewan Stasi Santo Laurensius yang diketuai oleh RP Donatus Manalu, OSC ini dilantik oleh RP Y.D. Widyasuharjo, OSC.  Pastor Paroki Santa Monika Serpong. Satu bulan setelahnya, yaitu 18 Maret 2007, dilantiklah pengurus Dewan Stasi Pleno yang terdiri dari para Ketua Lingkungan dan Wilayah, serta para Ketua Seksi.  Pada saat pembentukan PPG di tahun 2004, wilayah yang menjadi area pelayanan umatnya mencakup 4 Wilayah, yaitu Wilayah 7A dan 7B di kawasan Alam Sutera dan sekitarnya, serta Wilayah 8 dan 9 di kawasan Gading Serpong dan sekitarnya.  Pada saat Dewan Stasi dilantik, maka Wilayah itu telah dimekarkan serta namanya disesuaikan menjadi 7 Wilayah, yang disebut Wilayah Laurensius 1 sampai dengan 7. Kebutuhan umat yang memerlukan layanan sakramen juga semakin meningkat, sehingga pada 1 September 2007, diberkatilah untuk pertama kalinya 2 pasang mempelai dalam saling menerimakan Sakramen Perkawinan di Gereja Santo Laurensius.  Pada hari yang sama juga telah dilakukan Pembaptisan pada 33 orang bayi.  Disusul 41 orang dewasa yang menerima Pembaptisan pada 23 Desember 2007. Dengan demikian Paroki Santa Monika sangat terbantu dengan inisiatif layanan ini. Layanan-layanan yang lainnya perlahan-lahan mulai diselenggarakan secara mandiri meskipun tetap berada di bawah koordinasi Paroki Santa Monika. Pada malam Natal, 24 Desember 2008, untuk pertama kalinya gedung Gereja Santo Laurensius itu digunakan untuk Perayaan Ekaristi.  Namun mengingat pembangunan belum sepenuhnya selesai maka Perayaan Ekaristi mingguan kembali dilaksanakan di gedung serba guna untuk memberi kesempatan PPG menyelesaikan pembangunan.  Gedung Gereja untuk seterusnya mulai digunakan untuk Perayaan Ekaristi pada saat Pekan Suci di tahun 2009.  Akhirnya, pada 21 Mei 2009, Gedung Gereja Santo Laurensius diresmikan oleh Uskup Agung Jakarta, Mgr. Julius Kadinal Darmaatmadja, SJ. Memasuki tahun 2010, umat semakin bergiat dalam kehidupan menggereja.  Bertumbuh dalam iman serta mengembangkan semangat pelayanan seperti yang diteladankan Santo Laurensius.  Pertumbuhan jumlah umat yang berdatangan dan berdomisili di kawasan Serpong dan sekitarnya, membuat Lingkungan dan Wilayah pun ikut semakin bertambah banyak.  Kegiatan-kegiatan seksi dan kelompok kategorial juga semakin berkualitas.  Para imam, pengurus Dewan Stasi dan umat kemudian memberanikan diri untuk mengusulkan kepada Keuskupan Agung Jakarta agar berkenan meningkatkan status menjadi Paroki.  Di lain pihak, dalam rangka memaksimalkan pelayanan, Ordo Salib Suci (OSC), tarekat para imam yang melayani di Paroki Santa Monika dan Stasi Santo Laurensius, bermaksud menyerahkan sepenuhnya penggembalaan umat beriman di Stasi kelak bilamana di kemudian hari menjadi paroki kepada Keuskupan Agung Jakarta, melalui para imamnya.  Namun demikian, jumlah imam yang ditahbiskan tidak sebanding dengan jumlah paroki yang membutuhkan.  Syukur kepada Tuhan, bahwa ada 2 keluarga yang pada pertengahan 2010 telah menyerahkan putra nya untuk dididik menjadi calon imam di Seminari Menengah Wacana Bhakti. Sambil mempersiapkan diri untuk menjadi sebuah paroki mandiri, Dewan Stasi beserta umat bersama-sama melengkapi bangunan dan infrastruktur pendukung dalam kompleks gereja.  Hal ini terlihat dari begitu padatnya kegiatan di stasi setiap minggu dan bahkan setiap hari.  Tidak jarang Pastor beserta pengurus Dewan Stasi mengadakan rapat resmi di bawah pohon atau tenda kecil, karena semua ruangan telah habis digunakan untuk aneka kegiatan umat.  Pada akhir 2010 mulai dibangun gedung Pastoran yang merupakan sumbangan salah satu umat beriman, yang sudah siap di gunakan sejak pertengahan 2011.   Pada 2 Juli 2011, dilaksanakan pemberkatan tiang pancang sebagai awal pembangunan Gedung Karya Pastoral yang panitianya diketuai oleh Bp. Tommy Budiyanto.  Disusul pada 14 Agustus 2011, diadakan pemberkatan Gua Maria Penuh Rahmat yang letaknya juga di dalam kompleks gereja Santo Laurensius.  Sebuah gua sederhana yang memvisualisasikan patung Bunda Maria berbusana kecoklatan dalam adegan khas memberi berkat ini, konon telah mengundang banyak umat dari luar paroki berdoa bersama di sana. Di tengah maraknya kegiatan umat stasi yang salah satunya diwarnai oleh semangat membangun sebuah paroki mandiri, sebagian umat yang berdomisili di kawasan perumahan Gading Serpong, sejak pertengahan 2010 memulai kembali perjalanan panjang impian membangun sebuah gereja di sana.  Impian itu pada dasarnya sudah ada jauh sebelum dimulainya pembangunan Gereja Santo Laurensius.  Beberapa kali impian itu telah diupayakan untuk diwujudkan dalam bentuk rapat informal di antara umat serta pendekatan pada pemilik tanah maupun pengembang di Gading Serpong, dengan tujuan memperoleh sebidang tanah untuk pembangunan gereja.  Namun begitu banyak tantangan yang harus dhadapi sehingga barulah pada pertengahan tahun 2011, RP Aloysius Supandoyo, OSC., bersama Dewan Paroki Santa Monika membentuk Tim Persiapan Pembangunan Gedung Gereja Gading Serpong yang diketuai oleh Bp. Lukas Agung Prasojo.  Tim ini bekerja di bawah tanggung jawab Dewan Paroki Santa Monika, yang bertugas melakukan persiapan seperlunya dalam mengadakan pembelian tanah di kawasan Gading Serpong.  Pada akhir Oktober 2011, Tim ini dinyatakan selesai masa tugasnya dan memperoleh rekomendasi untuk melanjutkan upaya pengadaan tanah tersebut d bawah pembinaan bersama antara Paroki Santa Monika dan Stasi Santo Laurensius bilamana kelak statusnya telah ditingkatkan menjadi Paroki mandiri. Melihat situasi yang ada mengenai minimnya imam di Keuskupan Agung Jakarta, maka Pimpinan Ordo Salib Suci Provinsi Sang Kristus Indonesia yang berkedudukan di Bandung akhirnya berkenan mengutus RP Barnabas Nono Juarno, OSC untuk berkarya sebagai Pastor Kepala bilamana kelak Stasi Santo Laurensius ditingkatkan statusnya menjadi sebuah Paroki, mulai awal tahun 2012, untuk 3 tahun lamanya. Setelah masa itu berakhir maka selanjutnya akan digembalakan oleh para imam KAJ.  Hal ini tampaknya disambut baik oleh pihak Keuskupan dengan segera memutuskan penetapan peningkatan status stasi menjadi paroki. Pada Minggu, 15 Januari 2012, Uskup Agung Jakarta, Mgr. Ignatius Suharyo menerbitkan Surat Penegasan Pendirian Paroki Santo Laurensius, Alam Sutera – Serpong Utara, Tangerang, dengan no : 025A/3.15/2012.  Juga melantik Dewan Paroki dan Pengurus Gereja dan Dana Papa Roma Katolik Gereja Santo Laurensius, Alam Sutera – Serpong Utara, Tangerang Selatan. Pada awal Paroki ini dibentuk terdapat 2.757 kepala keluarga dengan 9.627 orang umat beriman.  Terbagi dalam 66 lingkungan dengan 16 wilayah.  29 lingkungan / 6 wilayah berada di kawasan Alam Sutera dan sekitarnya, sementara 37 lingkungan / 10 wilayah berada di kawasan Gading Serpong dan sekitarnya. RP Barnabas Nono Juarno, OSC, yang menggembalakan Paroki ini pun akhirnya memperoleh rekan kerja untuk membantu tugas pastoralnya sebagai Pastor Paroki.  Secara berturut-turut, RD Johan Ferdinand Wijshijer, mulai bertugas sejak 1 Maret 2012.  Sebelumnya beliau bertugas di Paroki Kalvari, Lubang Buaya.  Selanjutnya pada 1 Mei 2012, RP Sangker Sihotang, OSC, bergabung melengkapi jajaran imam di Paroki Santo Laurensius.  Sebelumnya beliau bertugas di Paroki Cimahi. Dengan bersemboyankan “Pauperes Sunt Thesauri Ecclesiae”, Kaum Miskin adalah Harta Gereja, maka Paroki Santo Laurensius turut bergiat dalam kehidupan menggereja di Keuskupan Agung Jakarta sebagai Paroki-nya yang ke-62, dan menjadi Paroki ke-11 di Dekenat Tangerang, serta menjadi pemekaran ke-3 dari Paroki Santa Monika, Serpong.



INFORMASI PAROKI & KEGIATAN PAROKI - 23/09/2018

INFORMASI PAROKI & KEGIATAN PAROKI MISA REMAJA 30 SEPTEMBER 2018. Seluruh remaja usia BIR(10- 15th) diundang hadir untuk menghadiri Misa...