Showing posts with label renungan. Show all posts
Showing posts with label renungan. Show all posts

Sunday, January 15, 2017

Ziarah ke Goa Maria Klaces – Nusakambangan

Selasa, 15 Oktober 2013, saya bersama seorang umat mengadakan perjalanan ke Klaces, Nusakambangan. Berhubung kami menggunakan kendaraan bermotor, kami menyebutnya dengan touring ke Klaces. Klaces merupakan suatu tempat di mana di sana ada sebuah Goa yang diyakini untuk berziarah. Goa ini menarik banyak peziarah, sebab di sana ada batu yang menyerupai patung Bunda Maria. Sehingga, banyak orang menyebutnya Goa Maria Klaces. Klaces berada di pulau terpencil, tepatnya Nusakambangan, Kecamatan Kampung Laut, Kabupaten Cilacap.
Perjalanan saya dimulai pada jam 6.45 setelah misa pagi. Kami berdua berjalan dengan menggunakan kendaraan bermotor. Saya menggunakan kendaraan Megapro milik paroki, sedangkan umat, Felix, menggunakan motor cross. Kami menuju Kalipucang-Majingklak untuk menyebrang ke Nusakambangan. Aktivitas jalan raya tampak lowong, sebab pagi itu sedang diadakan Sholat Ied Hari Raya Idul Adha. Oleh karena itu, kami hanya menempuh 1 jam kurang untuk sampai Majingklak. Sampai Majingklak, kami bertemu dengan seorang operator perahu yang nanti akan membawa kami sampai pada Nusakambangan.
Biasanya, para peziarah datang ke klaces menggunakan perahu dengan kapasitas 15 orang. Namun, kami  menyewa perahu untuk 2 orang dan 2 kendaraan motor. Setelah semua motor dirasa aman, kami bertiga berlayar menyusuri muara Pantai Selatan. Perahu berjalan dengan kecepatan + 30 km/jam. Penyebrangan kami untuk sampai Kampung Laut memakan waktu 30 menit. Selama di perjalanan, saya mengamati aktivitas nelayan yang ada di muara. Ada banyak perahu melakukan aktivitas di pagi hari. Saya pun melihat rumah-rumah penduduk di Kampung Laut. Saya melihat begitu sederhana rumah-rumah di pinggir muara. Mereka hanya membuat rumah dengan kerangka kayu dan ditutup dengan asbes sebagai dinding rumah. Bagi mereka yang tidak mampu, mereka hanya menggunakan kain atau spanduk iklan-iklan sebagai dinding dan beratap daun. Kehidupan di Kampung Laut masih relative kekurangan.
Perahu menepi di sebuah dermaga kecil. Sebab tidak jauh dermaga di mana saya menepi, ada dermaga besar milik Kecamatan Kampung Laut. Kami pun menaiki motor-motor ke darat.
Touring pun dimulai
Felix, seorang umat Sidareja, menawari saya untuk menggunakan motor cross selama di Kampung Laut. Ia tahu bahwa saya menyukai motor, sehingga saya dipinjami motor cross untuk perjalanan ke Klaces. Motor cross memang berbeda dengan motor pada umumnya. Untuk medan bebatuan dan berlubang, motor cross sungguh tepat digunakan untuk mengadakan perjalanan. Saya pun memakai motor cross untuk menyusuri Kampung Laut, sedangkan Felix menggunakan motor paroki bersama operator perahu. Akhirnya, kami bertiga menuju Klaces. Saya menikmati dinamika penduduk Kampung Laut. Tatapan tajam penduduk sangat tampak ketika ada orang asing. Apalagi, saya menggunakan motor cross 2 tak yang bersuara nyaring.
Perjalanan menuju Klaces dari dermaga dengan kendaraan bermotor membutuhkan waktu 45 menit. Kami bertiga belum pernah ada yang ke Goa. Kami pun bertanya ke penduduk letak Goa. Kami melihat ada beberapa penunjuk arah yang bertulisan “MARIA”. Kami pun mengerti maksud dari penunjuk arah itu meski tidak begitu jelas. Situasi jalan sangat rusak. Kami harus melewati jalan bebatuan, tanah, semak belukar, dan tanah liat. Sejauh memandang, saya hanya melihat semak belukar, hutan, laut.
Akhirnya, saya sampai pada kontemplasi Rm. Carolus OMI membantu penduduk Kampung Laut. Belum selesai saya membayangkan karya Rm. Carolus, kami tersasar di tengah hutan. Kami tidak melihat tanda penunjuk arah ketika di hadapkan 3 persimpangan. Kami mencoba melihat arah matahari. Namun sayang, kami pun tidak menemukan arah yang jelas untuk sampai pada Goa Klaces. Kami mengandalkan feeling yang kuat untuk memutuskan arah menuju Goa Klaces. Lagi-lagi, kami harus melewati semak belukar, jalan bebatuan, dan tanah liat. Kami pun melihat ada banyak ayam hutan berwarna hitam berterbangan di depan kami.
Goa Maria Klaces
Perjalanan menuju goa sebenarnya tidaklah sulit. Namun, saya menjadi ragu ketika tampilan muka goa tidak meyakinkan kalau goa ini yang disebut Goa Maria Klaces. Oleh karena ragu, kami meninggalkan tempat itu dan mencari lagi tanda-tanda keberadaan Goa Maria Klaces. Semakin jauh meninggalkan tempat tadi, kami semakin tidak menemukan apa-apa selain semak belukar dan hutan. Akhirnya kami memutuskan untuk kembali ke tempat tadi. Di jalan, kami berjumpa dengan penduduk dan bertanya letak goa maria. Penduduk itu memberi tahu tempat yang tadi sudah kami kunjungi. Ternyata, tempat yang tadi kami kunjungi adalah Goa Maria Klaces. Sepintas, saya merasa tidak percaya kalau mulut goa itu adalah goa Maria. Sebab, situasi di dalam goa sangat gelap. Saya merasa goa itu kecil sekali. Namun kami beruntung karena ada rombongan dari Paroki Minomartani yang akan ziarah. Sehingga, ada petugas membawa genset penerangan. Kami pun memanfaatkan kesempatan ini untuk masuk ke goa.
Setelah genset dinyalakan, kami masuk goa. Kami sangat terkejut/kaget ketika melihat isi dalam goa itu. Mulut goa Klaces memang kecil, tetapi setelah masuk ke dalam ada ruangan yang sangat luas dan tinggi. Saya menduga bisa menampung kurang lebih ratusan orang. stalagtit alami sangat nampak menghiasi dinding goa.
Di dalam goa, saya melihat sebuah batu menjulang tinggi hingga menyentuh atap goa di atas tanah yang agak tinggi. Sepintas, batu itu seperti bentuk patung Bunda Maria. Namun ketika didekati hanyalah batu biasa yang ramping nan meninggi. Saya menduga batu ini yang sering disebut patung Bunda Maria. Tidak hanya batu yang menyerupai patung Bunda Maria, di sisi agak dalam ada patung yang disebut patung 12 rasul. Batu ini berbentuk bulat namun di setiap sisi lingkaran muncul batu menonjol. Sehingga ketika dilihat dari jauh seperti kepala orang sedang berkumpul dan duduk melingkar. Oleh karena bentuknya seperti kepala orang sedang duduk berkumpul, batu itu disebut batu 12 rasul. Kekaguman saya tidak berhenti pada 2 batu tadi. Saya masih terkagum dengan sungai yang membelah 2 bagian. Sungai ini terhubung dengan sungai goa yang tidak jauh dari goa Klaces. Untuk menghubungi daratan yang 1 dengan yang di seberang ada sebuah jembatan sederhana. saya pun melihat sebuah kolam. Banyak orang mempercayai kolam ini merupakan sumber mata air yang tidak pernah habis meski diambil airnya.
Saya menyayangkan dengan kondisi Goa Maria Klaces yang tidak terawat. Sehingga, orang tidak tahu bahwa di Klaces ada Goa Maria yang bagus. Tampilan muka Goa terlihat semrawut dan banyak sampah. Apalagi ilalang semak belukar tumbuh tinggi menutupi goa.
Sekitar sejam saya berada di dalam goa. Waktu menunjukkan pukul 10.00 pagi. Saya mengajak Felix untuk jalan-jalan di seputar Nusakambangan. Saya mengajak Felix dan mas Juwono ke Lapas Nusakambangan. Sebab, saya pernah diminta untuk misa di Lapas, tetapi pada waktu itu saya tidak jadi. Saya ingin tahu situasi dan keadaan Lapas di Nusakambangan.
Kampung Laut
Lagi-lagi kami hanya mengandalkan feeling untuk ke Lapas. Kami menyusuri hutan dan semak belukar untuk sampai Lapas atas saran penduduk waktu di goa. Namun kami tersesat. Kami bingung karena tidak tahu harus mengarah ke mana ketika dihadapkan dengan beberapa persimpangan. Akhirnya, kami memutuskan kembali ke arah goa dan melewati perkampungan Kampung Laut. Meski melewati perkampungan Kampung Laut, kami masih belum menemukan jalan untuk sampai Lapas Nusakambangan. Saya melihat situasi dan dinamika penduduk Kampung Laut yang begitu sederhana. Ada banyak anak-anak kecil bermain tanpa alas kaki di tengah terik matahari yang menyengit. Saya pun melihat kesibukan para orangtua menjemur pakaian, padi serta perahu yang baru saja ditambal. Kehidupan di Kampung Laut sangat sederhana. Rumah-rumah yang mereka tempati pun terbuat dari “gedhek”, asbes, dan daun kelapa.
Ketika menyusuri Kampung Laut, saya mengingat kembali karya pastoral Rm. Carolus OMI. Tiba-tiba, bayangan 20 tahun yang lalu muncul dalam benak. Saya membayangkan situasi 20 tahun yang lalu. Betapa sulitnya kehidupan di Kampung Laut. Ketika di Goa, seorang penduduk bercerita tentang jasa Rm. Carolus OMI. Mereka bersyukur ada Rm. Carolus OMI yang membantu pembangunan jalan. Saya memang melihat jalan-jalan di Kampung Laut pada umumnya sudah berbatu. Saya membayangkan jalan-jalan di Kampung Laut sebelum diaspal dengan batu-batu blok seperti apa. Penduduk tadi bercerita betapa sulitnya penduduk Kampung Laut di kala hujan. Semua jalan menjadi licin. Mereka berjuang  untuk tetap bertahan hidup dengan situasi seperti itu. Kampung Laut bisa dikatakan sebagai daerah misi di tanah Jawa.
Maka peran Rm. Carolus OMI dan para Rama OMI pada waktu itu memberikan air dan angin segar untuk penduduk Kampung Laut. Meski pun penduduk mengatakan masih kurang, namun bagi saya situasi sekarang sudah lebih baik jika dibandingkan beberapa puluh tahun yang lalu di mana Kampung Laut masih begitu sulit untuk dihuni.
Lapas Nusakambangan
Kami pun bertanya kepada penduduk arah menuju Lapas Nusakambangan. Perjalanan kami dari Klaces sampai Lapas Nusakambangan memakan waktu kurang lebih 1,5 jam tanpa henti. Bagi saya, waktu 1,5 jam merupakan waktu yang lama untuk sampai jalan menuju Lapas Nusakambangan. Selama waktu itu, saya hanya melihat rumah di pinggir sungai, perahu, dan sungai. Sungguh pemandangan yang tidak asing. Sebab, saya sering melihat pemandangan itu di Stasi Sekarmayang dan Gendiwungcagak. Jalan berbatu pun menjadi pemandangan selama perjalanan menuju Lapas Nusakambangan.
Kami pun menemukan jalan raya “HOTMIK”. Saya merasa senang karena setelah sekian lama berada di perkampungan Kampung Laut kami menemukan jalan raya. Namun sekali lagi, kami bingung harus mengarah kemana. Kami pun memutuskan untuk belok kiri (tidak tahu arah mata angin hehehehe). Tidak lama kami menyusuri jalan raya, saya menemui Lapas Kembang Kuning (kalau tidak salah). Saya senang bisa menemukan Lapas di Nusakambangan. Sebab ketika saya pernah diminta untuk misa di Lapas Nusakambangan, saya tidak punya bayangan situasi Nusakambangan seperti apa. Bayangan saya, Nusakambangan merupakan pulau yang menakutkan, karena di sana hanya ada Lapas dan Lapas.
Lapas Kembang Kuning
Kami memutuskan untuk beristirahat di warung yang tidak jauh dari Lapas Kembang Kuning. Seorang ibu yang berjualan menyapa kami. Kami pun memesan beberapa minuman sambil bertanya-tanya tentang Lapas yang ada di Nusakambangan. Ternyata di Nusakambangan, ada banyak Lapas. Lapas Kembang Kuning merupakan Lapas kelas IIA sejauh saya membaca spanduk di pintu Lapas. Ketika kami sedang minum, ada seorang lelaki paruh baya datang ke warung untuk mengantar makanan. Setelah lelaki itu meninggalkan warung, ibu itu mengatakan bahwa lelaki itu adalah seorang narapidana.
Di Nusakambangan, para narapidana berkeliaran bebas di luar Lapas. Namun tidak semua Napi boleh berkeliaran di luar Lapas. Hanya Napi yang akan bebas beberapa bulan ke depan diberi kesempatan untuk penyesuaian hidup di luar Lapas. Saya bertanya kepada ibu tadi, mengapa mereka diberi kesempatan untuk keluar dari Lapas? Apakah ada kemungkinan kalau mereka akan kabur dari Lapas? Ibu penjual itu menceritakan kronologi para napi yang diberikan kesempatan untuk keluar Lapas.
Mereka tetap dalam pengawasan petugas, namun tidak seketat mereka yang berada di dalam Lapas. Kalau mereka berniat kabur dari Lapas, maka mereka sendiri yang akan rugi sendiri. Sebab jika ketangkap, mereka harus masuk Lapas kembali dengan waktu yang lama. Mereka juga memakai pakaian Lapas, sehingga banyak penduduk tahu jika mereka berniat kabur. Menurut penuturan ibu itu, di Lapas Pasir Putih akan banyak dijumpai para Napi yang berjualan. Dari cerita ibu tadi, saya menjadi penasaran seperti apa Lapas Pasir Putih yang kata orang Lapas itu merupakan Lapas kelas berat. Lapas Pasir Putih mendapat penjagaan Super Maksima. Setelah kami beristirahat sejenak, kami pun melanjutkan perjalanan ke Lapas Pasir Putih. Saya masih mengendarai motor cross milik Felix hehehehehhe…
Lapas Permisan dan Lapas Pasir Putih
Perjalanan menuju Pasir Putih dilalui dengan lancar. Tidak ada 1 pun kendaraan lewat kecuali kendaraan petugas pada waktu-waktu tertentu dan penduduk. Namun pada umumnya, jalan raya menuju Pasir Putih sangat lowong. Sehingga kami melaju dengan cepat. 1 km sebelum masuk pintu Lapas Permisan, terdapat tulisan “Selamat Datang di Lapas Permisan”. Ternyata di ujung Pulau Nusakambangan terdapat 2 Lapas, yaitu Lapas Permisan dan Lapas Pasir Putih. Sepintas bangunan Lapas sangat rapih dan sepi. Saya teringat dengan seminari. Sebab bangunan Lapas sangat rapih, bersih, dan sepi. Kami memasuki kompleks Lapas Permisan. Saya melihat para petugas yang sedang menikmati liburan dengan bermain bilyard. Kami pun terus menyusuri jalan.
Tidak jauh dari Lapas Permisan terdapat bangunan tinggi dan luas. Bangunan itu adalah Lapas Pasir Putih. Lapas itu dilapisi 3 pagar kawat beraliran listrik dan kawat berduri. Saya menebak-nebak apakah ini Lapas Pasir Putih yang mendapat penjagaan Super Maksima. Ternyata benar, bangunan itu adalah Lapas Pasir Putih. Kami berhenti sejenak untuk melihat gedung yang sangat kuat dan gagah.
Pantai Pasir Putih
Perjalanan kami dilanjutkan menuju pantai Pasir Putih. Udara pantai pun begitu terasa. Gapura bertuliskan “KOMANDO” menyambut para pengunjung yang ingin menikmati udara pantai. Kami dihampiri seorang lelaki paruh baya. Lelaki itu menawari batu aki cincin. Ternyata, ia adalah napi yang sedang menjalani masa penyesuaian di luar Lapas Permisan. Ia menawari kami  batu aki cincin dengan harga Rp. 30.000. Batu aki tersebut merupakan hasil karya para napi di Lapas. Kami pun bertanya-tanya tentang kehidupan di Lapas. Ia bercerita telah kena hukuman penjara 11 tahun, namun mendapat remisi. Ia telah berada di Lapas selama 6 tahun. Akhir tahun ini, ia akan bebas.
Pemandangan pantai Pasir Putih sungguh indah. Ombak besar menghantam batu di tengah pantai. Di tengah pantai terdapat lambang KOPASUS, yaitu sebilah pisau/bayonet yang ditusukkan di sebuah batu. Setelah puas menikmati pantai dan melihat Lapas di Nusakambangan, kami pun kembali ke Klaces untuk kembali ke Sidareja
Romo Mahendra Christy Pr - Keuskupan Purwokerto  

http://www.santo-laurensius.org/2013/10/18/ziarah-ke-goa-maria-klaces-nusakambangan/

Hari Raya Kenaikan Yesus

Kis 1:1-11; Ef 1:17-23; Luk 24:26-43
"Aku akan mengirim kepadamu apa yang dijanjikan Bapa-Ku. Tetapi kamu harus tinggal di dalam kota ini sampai kamu diperlengkapi dengan kekuasaan dari tempat tinggi."
Acara perpisahan sering diadakan bersama di tempat kerja atau tugas atau tinggal kita masing-masing. Di sekolah-sekolah atau perguruan tinggi acara perpisahan dapat terjadi karena pelepasan lulusan dari sekolah atau perguruan tinggi yang bersangkutan atau pergantian pimpinan atau guru/dosen. Di tempat kerja antara lain dalam acara pelepasan pensiunan atau pergantian pimpinan, sedang dalam masyarakat dapat terjadi dengan pergantian pimpinan. Dalam perpisahan ini pada umumnya yang akan pergi memberi evaluasi, refleksi atau pesan kepada yang ditinggalkan dan apa yang disampaikan pada umumnya didengarkan dan diusahakan untuk ditindak-lanjuti dalam program kegiatan yang akan datang. Hari ini kita kenangkan Yesus naik ke sorga, meninggalkan para murid serta memberi pesan kepada para murid, kepada kita semua yang beriman kepadaNya. Maka marilah pesan tersebut kita renungkan atau refleksikan.
"Aku akan mengirim kepadamu apa yang dijanjikan Bapa-Ku. Tetapi kamu harus tinggal di dalam kota ini sampai kamu diperlengkapi dengan kekuasaan dari tempat tinggi." (Luk 24:49).
Mulai besok diselenggarkan Novena Roh Kudus sampai dengan Hari Raya Pentakosta, kenangan akan anugerah atau kedatangan Roh Kudus kepada umat yang percaya kepada Yesus Kristus. Novena Roh Kudus ini kiranya merupakan perwujudan iman akan sabda Yesus :"Kamu harus tinggal di dalam kota ini sampai kamu diperlengkapi dengan kekuasaan dari tempat tinggi". Maka dengan ini kami berharap kepada segenap umat yang percaya kepada Yesus Kristus untuk berpartisipasi dalam Novena Roh Kudus yang diselenggarakan di gereja-gereja atau kapel-kapel. Dalam berpartisipasi dalam kegiatan Novena Roh Kudus diharapkan ada keterbukaan hati, budi, jiwa kita agar kita siap sedia menerima anugerah-anugerah Roh Kudus. Ada tujuh anugerah atau karunia Roh Kudus, yaitu : Roh Hikmat, Roh Pengertian, Roh Nasihat, Roh Keperkasaan, Roh Pengenalan akan Allah, Roh Kesalehan, Roh Takut akan Tuhan (lih Puji Syukur no 93). Maka sebelum kita menerima karunia tersebut, baiklah kita mempersiapkan diri dengan baik.
Salah satu cara mempersiapkan diri agar layak menerima karunia Roh Kudus antara lain adalah hidup dan bertindak tidak dengan semangat materialistis atau duniawi, melainkan senantiasa mengusahakan nilai-nilai atau keutamaan-keutamaan hidup yang menyelamatkan jiwa.
Maka kami berharap sekali lagi kepada para orangtua untuk dengan tekun dan setia mendidik dan membina anak-anaknya tidak bersikap mental materialistis, dan tentu saja anda sebagai orangtua dapat menjadi teladan atau inspirator. Sekiranya anda tidak mungkin berpartisipasi dalam Novena Roh Kudus, baiklah entah di dalam keluarga atau pribadi berdoa kepada Roh Kudus, dan doa itu kiranya dapat ditemukan di dalam Puji Syukur atau Madah Bakti atau buku-buku doa lainnya.
Perkenankan dari tujuh karunia Roh Kudus di atas secara sederhana saya mencoba menjelaskan dua karunia yang hemat saya penting masa kini, yaitu Kesalehan dan Takut akan Allah, yang hemat saya bagaikan mata uang bermuka dua, dapat dibedakan tetapi tak dapat dipisahkan. Saleh dalam bahasa Jawa adalah sumeleh, yang berarti orang sungguh pasrah pada situasi dan kondisi atau Penyelenggaraan Ilahi, sehingga berusaha dengan rendah hati untuk menemukan dan mengimani kehadiran Allah dalam hidup sehari-hari dalam dan melalui ciptaan-ciptaanNya, entah dalam diri manusia, binatang maupun tanaman atau tumbuh-tumbuhan.
"Allah tinggal dalam ciptaan-ciptaanNya, dalam unsur-unsur, memberi `ada'nya, dalam tumbuh-tumbuhan, memberi daya tumbuh, dalam binatang-binatang, daya rasa, dalam manusia, memberi pikiran, jadi Allah juga tinggal dalam aku, memberi aku ada, hidup, berdaya rasa dan berpikiran" (St Ignatius Loyola, LR no 235).
Memang pertama-tama dan terutama marilah kita imani dan hayati kehadiran dan karya Allah dalam diri kita yang lemah dan rapuh ini, sehingga kita juga akan menjadi orang yang takut akan Allah. Dengan kata lain marilah kita senantiasa hidup dan bertindak sesuai dengan kehendak dan perintah Allah kapan pun dan dimana pun serta dalam kondisi dan situasi apapun. Kita semua diharapkan dapat menemukan Allah dalam segala sesuatu atau menghayati segala sesuatu dalam Allah.
"Supaya Ia menjadikan mata hatimu terang, agar kamu mengerti pengharapan apakah yang terkandung dalam panggilan-Nya: betapa kayanya kemuliaan bagian yang ditentukan-Nya bagi orang-orang kudus, dan betapa hebat kuasa-Nya bagi kita yang percaya, sesuai dengan kekuatan kuasa-Nya, yang dikerjakan-Nya di dalam Kristus dengan membangkitkan Dia dari antara orang mati dan mendudukkan Dia di sebelah kanan-Nya di sorga, jauh lebih tinggi dari segala pemerintah dan penguasa dan kekuasaan dan kerajaan dan tiap-tiap nama yang dapat disebut, bukan hanya di dunia ini saja, melainkan juga di dunia yang akan datang. Dan segala sesuatu telah diletakkan-Nya di bawah kaki Kristus dan Dia telah diberikan-Nya kepada jemaat sebagai Kepala dari segala yang ada. Jemaat yang adalah tubuh-Nya, yaitu kepenuhan Dia, yang memenuhi semua dan segala sesuatu" (Ef 1:18-23).
Kutipan di atas ini cukup panjang dan memang sulit untuk diputus, maka saya kutip apa adanya. Paulus mengingatkan umat di Efesus agar mereka mengimani dan menghayati bahwa Allah hidup dan berkarya di dalam diri mereka. Efesus adalah kota pelabuhan masa itu, sebagaimana kita dapat lihat dan perhatikan bahwa kehidupan warga di daerah pelabuhan pada umumnya diwaranai persaingan demi keberhasilan usaha bisnis dan pendapatan/hasil, dengan kata lain suasana bisnis dan mencari keuntungan pribadi alias sikap mental materialistis dan egois sungguh
mendominasi kehidupan bersama. Sebagai orang beriman kita semua dipanggil untuk mengimani dan menghayati bahwa Allah hadir dan berkarya dalam segala sesuatu agar segala sesuatu, dan tentu saja terutama manusia `takluk' kepadaNya,
sehingga terciptalah persaudaraan atau persahabatan sejati. Di sekitar pelabuhan pada umumnya juga tumbuh dan berkembang tindakan amoral, misalnya pelacuran. Maklum para awak kapal atau pelaut telah sekian lama terapung-apung dalam perahu di tengah lautan luas, yang pada umumnya adalah laki-laki semuanya. Begitu perahu merapat di pelabuhan mereka langsung berusaha mencari hiburan, entah minum-minum atau ke pelacuran guna memenuhi kehausan kenikmatan seksualnya. Dengan kata lain terjadi komersialisasi manusia, manusia bagaikan binatang saja.
Kenangan akan Kenaikan Yesus ke sorga mengajak dan mengingatkan kita semua agar hidup dan bertindak tidak sekedar mencari pemuasan nafsu saja, entah nafsu makan dan minum maupun seksual. Manusia adalah gambar atau citra Allah, maka hendaknya relasi antar manusia saling menghormati dan menghargai, tidak melecehkan atau merendahkan harkat martabat manusia. Kepada mereka yang memiliki tugas pelayanan di daerah pelabuhan maupun bagi para pelaut, kami harapkan bekerja giat dan kerja keras mengingatkan bahwa manusia adalah gambar atau citra Allah, jangan ada seorangpun melecehkan harkat martabat manusia.
Marilah kita ingat, sadari dan hayati bahwa kita harus hidup dan bertindak saling mengasihi satu sama lain, kapan pun dan dimana pun.
"Allah telah naik dengan diiringi sorak-sorai, ya TUHAN itu, dengan diiringi bunyi sangkakala. Bermazmurlah bagi Allah, bermazmurlah, bermazmurlah bagi Raja kita, bermazmurlah! Sebab Allah adalah Raja seluruh bumi, bermazmurlah dengan nyanyian pengajaran! Allah memerintah sebagai raja atas bangsa-bangsa, Allah bersemayam di atas takhta-Nya yang kudus" (Mzm 47:6-9)
Ign 9 Mei 2013
http://www.santo-laurensius.org/2013/05/08/hari-raya-kenaikan-yesus/

KEHADIRAN SANG PENOLONG

Renungan Minggu Paskah VI (Yoh. 14:23-29)
Injil yang kita dengar hari ini memuat pemberitahuan bahwa Yesus dan BapaNya akan tinggal bersama dengan orang yang menuruti firman Yesus (ayat 23). Selanjutnya ayat 24 mengatakan hal yang sama, tetapi dengan cara menyebut kebalikannya: yang tak mengasihiNya ialah orang yang tidak menuruti firmanNya. Dan lalu ditegaskan pada bagian kedua ayat 24 itu bahwa firman Tuhan tadi datang dari BapaNya, yakni Yang Mahakuasa yang mengutus Yesus.
Firman yang dimaksud dalam ayat 23-24 itu tidak lain adalah perintah baru untuk saling mengasihi. Seperti diuraikan pada Hari Minggu Paskah V sebelumnya, inilah ajaran Yesus yang terbesar, yang diturunkanNya kepada para murid sebelum Ia pergi. Dengan demikian, kata-kata bahwa firman itu berasal dari Bapa sendiri menegaskan bahwa firman itu diwariskan untuk menghadirkan Yang Mahakuasa sendiri di tengah para murid. Hal itu sekaligus menegaskan bahwa Yesus dan BapaNya akan tinggal bersama mereka yang menghidupi ajaran tadi.  Oleh karena itu, perpisahan yang akan terjadi antara Yesus dengan murid-muridNya tidak lagi perlu menjadi hal yang menggelisahkan. Bahkan seharusnyalah menjadi alasan bersukacita (ayat 28), karena Yesus akan berada dengan BapaNya yang dikatakan “lebih besar daripadaNya” (ayat 29), dan keduanya akan ada bersama manusia.
Tetapi bagaimana hal-hal yang bersifat rohani ini berhubungan dengan dunia nyata? Kuncinya adalah kehadiran Sang Penolong yang akan diutus, yang kehadiranNya akan membuat kata-kata Yesus tadi menjadi hidup. Orang dibuat akan teringat pada ajaran, pada pesan yang diturunkan Yesus tadi. Penolong itu, yaitu Roh Kudus, yang diutus untuk mendampingi, untuk menolong, untuk menjadi pembela di hadapan dunia. Penolong itu adalah kekuatan yang makin hadir di tengah-tengah kelompok orang yang percaya kepada Kabar Baik Yesus. Yohanes menghimbau orang-orang agar menyadari kehadiran ilahi yang membuat manusia dapat berjalan terus di dunia yang sarat kekuatan-kekuatan gelap.
Kehadiran Penolong itu terutama untuk bersama dengan murid-murid, di tengah-tengah kita. Tidak dikatakan bahwa di dalam diri masing-masing dari mereka, meskipun tentunya akibatnya akan demikian. KehadiranNya bukan monopoli orang yang lebih murah hati, yang lebih mampu berbuat baik, yang lebih spiritual dari yang lain. Bukan inilah yang hendak dikatakan. Penolong hadir di tengah-tengah umat, Ia menghidupkan sekelompok orang. Dengan menekankan segi ini Yohanes mau menunjukkan bahwa Roh itu tidaklah dapat disetir oleh ambisi-ambisi perorangan atau dibangga-banggakan sebagai bahan kesaksian sekalipun. Penolong itu datang di tengah-tengah himpunan orang-orang yang mau percaya, di tengah-tengah eklesia, kumpulan orang yang terpanggil bersama itu. Kehadiran Penolong di dalam Gereja merupakan kehadiran Yesus dan BapaNya secara baru, yang memampukan umat beriman untuk menghidupi firman yang berwujud semangat kesetiaan untuk saling mengasihi (aag).
http://www.santo-laurensius.org/2013/05/03/kehadiran-sang-penolong/

Injil Minggu Paskah IV/C 21 Apr 2013 (Yoh 10:27-30)

Rekan-rekan yang baik!
Orang serta-merta merasa aman bila mengenal siapa yang sedang dihadapi. Dan sebaliknya juga, gampang orang merasa terancam hal-hal yang tak dikenal. Injil Yohanes 10:27-30 yang dibacakan pada hari Minggu Paskah IV tahun C ini menggambarkan keakraban antara Yesus dan pengikut-pengikutnya dengan memakai kiasan domba dan gembala.  Ditawarkan dalam petikan ini analisis teologi mengenai hidup rohani. Orang merasa tenang di hadapan dia yang dapat membawakan hidup kekal. Tak ada kekuatan jahat apapun yang mampu menjauhkan darinya. Kepercayaan akan Yang Mahakuasa sendiri menjadi jaminan. Hari Minggu ini juga dirayakan sebagai hari Minggu Panggilan. Panggilan bisa ditempuh sebagai jalan hidup bila yang bersangkutan merasa aman, tidak terancam. Injil hari ini dapat memberi arah ke sana.
GEMBALA YANG BAIK TANYA: Yoh 10 berbicara mengenai gembala yang baik dan menerapkannya kepada Yesus. Rasa-rasanya Yohanes mendapat ilham dari Perjanjian Lama? JAWAB: Benar! Perjanjian Lama acap kali menggambarkan Tuhan sebagai gembala yang menjaga domba-dombanya, Mzm 23 contoh klasik. Orang yang berada di dekatNya tak perlu merasa kekurangan apapun. Lihat juga Mzm 28:2; 77:21; 78:52; Yer 23:3; 50:19. Yehezkiel maju lebih jauh. Ia berbicara mengenai Tuhan sebagai gembala yang membela umat dari para gembala yang menyalahgunakan kuasa, yakni para pemimpin yang hanya memperkaya diri, tidak peduli akan penderitaan rakyat dan bahkan menghisap, berlaku kejam dan membiarkan mereka kehilangan rasa aman. Lihat saja Yeh 34:1-10. Dan selanjutnya dalam Yeh 34:11-22, Ia sendiri akan mengumpulkan mereka yang tercerai berai, membebat luka, memberi rasa aman. Di dalam seluruh bab itu nabi Yehezkiel mengutarakan prinsip-prinsip moral sosial dan pengaturan masyarakat zamannya. TANYA: Bisakah dikatakan Yoh 10 menerapkan gagasan Yehezkiel tadi bagi para murid Yesus? JAWAB: Ya, tetapi Yohanes juga memberi arah baru. Ia tidak memperlawankan Yesus dengan gembala yang jahat, melainkan dengan “pencuri dan perampok” (ayat 1), dengan “orang asing” (ayat 5) dan dengan “orang upahan” (ayat 12-13). Yohanes tidak menampilkan dua tipe gembala seperti pada Yehezkiel. Hanya ada satu gembala saja, yakni Yesus sendiri. Memang ada orang-orang yang diminta mengurusi domba-domba. Ada yang sungguh baik, tapi ada yang bertindak sebagai orang upahan. TANYA: Tolong dijelaskan lebih jauh! JAWAB: Nabi Yehezkiel mengamati kehidupan sosial politik di Israel pada zaman pembuangan. Ia mengecam para pemimpin yang tak banyak berbuat bagi umat yang sedang kehilangan pegangan. Masalah yang dihadapi Yohanes berbeda. Banyak pengikut Yesus generasi pertama merasa kurang aman hidup di tengah-tengah masyarakat Yahudi. Terintimidasi. Dan memang ada yang meninggalkan. Tapi ada pula yang bertekun. Yohanes memakai keadaan ini untuk menjelaskan apa itu “percaya” kepada Yesus dan bagaimana mereka bisa menghayatinya bila mereka memang memilih mau tetap bersamanya. Yohanes menekankan Yesus sebagai gembala yang baik untuk menunjukkan bahwa percaya kepada Yesus tidak sia-sia karena ia sendiri akan melindungi murid-muridnya dengan mempertaruhkan hidupnya. Semacam analisis teologi hidup rohani. Kelanjutan dari perkara ini ada dalam penugasan Petrus agar mengurusi domba-domba dalam Yoh 21:15-19 yang dibicarakan minggu lalu. TANYA: Lalu apa arti penegasan bahwa tak ada yang dapat merenggut domba-domba dari Yesus? JAWAB: Di situ ada pernyataan mengenai kebenaran mengikuti dia yang mau merujukkan kemanusian kembali dengan Yang Mahakuasa, yang disebut sebagai Bapa itu. Artinya, membuat orang makin menemukan diri merasa dimiliki oleh Yang Mahakuasa dan bukan dibawahkan kepada kuasa lain. Kiasannya, gembala yang baik berusaha membuat orang makin sadar akan hal itu. Orang upahan tidak. Pencuri dan perampok menjauhkan orang dari sana. Orang yang tak dikenal juga tidak menimbulkan rasa percaya. TANYA: Dalam Yoh 10:27 dibicarakan “domba-dombaku mendengarkan suaraku dan aku mengenal mereka dan mengikut aku”. Pernyataan ini berbicara mengenai keadaan tertentu atau dimaksud untuk mengajak orang percaya dan mengikut Yesus. JAWAB: Kedengarannya memang seperti pernyataan biasa. Namun di dalam kalimat itu terkandung nuansa “akan dapat mendengarkan suaraku, akan dapat mengikut aku”. Katakan saja, di samping berbicara mengenai apa adanya juga diutarakan apa yang bakal terjadi. TANYA: Dan tentunya nuansa “harus mendengarkan…”? JAWAB: Tidak! Gagasan keharusan tidak muncul dalam kalimat aslinya. Seandainya mau disampaikan makna seperti itu, akan dipakai ungkapan yang jelas-jelas menunjuk ke sana.. TANYA: Jadi perkara mengikuti Yesus tidak bersangkutan dengan wilayah “keharusan”? JAWAB. Benar. Bila keharusan menjadi pokok pembicaraan, seluruh pembicaraan mengenai gembala yang baik akan tawar.
MEMPERCAYAKAN DIRI: MASALAH BESAR BAGI ZAMAN INI Belakangan ini mendapatkan “pegangan”, “merasa aman”, “mempercayai”, “terjamin” dirasa tak mudah terwujud di pelbagai lapis kehidupan di masyarakat, juga dalam kehidupan agama. Memang kepercayaan belum hilang.  Sering kepercayaan diterjemahkan ke dalam tatacara pertanggungjawaban serta birokrasi atau serangkai kesetujuan yang diandaikan bakal dihormati sebagian besar anggota masyarakat. Tetapi itu ini semua acap kali tidak sungguh menjamin. Orang malah merasa sering tertipu oleh perbuatan mereka yang mendapat kepercayaan mengurusi pertanggungjawaban. Ada kolusi di kalangan pemerintahan. Peradilan kotor. Malah sekarang tak jarang orang makin merasa sulit mempercayakan diri pada kelembagaan yang dibuat untuk menjamin kepercayaan publik seperti halnya lembaga perwakilan sendiri.
Juga kelembagaan nonpolitik seperti perkawinan, adat, dan lembaga keagamaan tersangkut. Banyak orang merasa tidak ada pegangan yang jelas. Ada yang kembali ke cara-cara dulu yang dirasa lebih menjamin, ada yang makin jauh dari kebiasaan dan mencoba apa saja. Lambannya pembenahan aparatur negara serta perbaikan hidup di negeri ini  menjadi pertanda bagi kenyataan yang diutarakan di atas: krisis kepercayaan dalam pelbagai lapis kehidupan. Apatisme mulai melumpuhkan inisiatif. Krisis kepercayaan tidak dapat dikurangi dengan jalan bersikap pasrah membuta. Mempercayakan diri baru mungkin bila dijalankan dengan “good judgment” atau ikhtiar yang sungguh. Namun untuk itu orang butuh informasi yang sepadan. Terutama pada zaman kita yang sarat macam-macam informasi dan data yang tidak jelas juntrungnya.
Pembicaraan di atas tidak secara khusus mengupas hubungan antara rasa percaya, terjamin, aman dan “iman”. Bagaimanapun juga tidak jarang  kepercayaan terhadap kelembagaan (termasuk para pemimpin) disamakan dengan iman, atau di ujung lain, samasekali dipisahkan. Akan tetapi, mempercayai bertumpang tindih dengan mengimani. Iman tidak bisa berkembang sehat bila tidak disertai kepercayaan terhadap orang-orang serta kelembagaan yang bertanggung jawab mengusahakan hidup iman mendapat ungkapan yang cocok, baik secara doktrin maupun secara liturgi. Tetapi kepercayaan melulu malah akan membuat iman bersifat buta dan mengarah ke perpecahan dan akhirnya tidak ada yang betul-betul dipegang sebagai iman kecuali keyakinan-keyakinan pribadi yang diharapkan agar diikuti orang lain.
WARTA YOHANES BAGI ZAMAN SEKARANG Tersirat dalam kata-kata “domba-dombaku mendengarkan suaraku….mengikut aku” (Yoh 10:27) suatu imbauan untuk ikut membantu agar orang dapat mengenali siapa yang diikuti itu. Istilahnya, menyediakan informasi yang dapat diterima nalar dan yang bisa membantu orang untuk percaya. Teringat Yohanes Pembaptis yang menunjukkan. memberi informasi kepada murid-muridnya, siapa Yesus itu, “Lihatlah Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia. Dialah yang kumaksud….” (Yoh 1:29-30). Kemudian ketika orang bertanya kepada Yesus sendiri di mana ia tinggal, jawabnya, “Mari ikut dan lihatlah!” (Yoh 1:38-39). Orang-orang yang diminta mengurusi domba-domba – seperti halnya Petrus dalam Yoh 21:15-19 – menjawab kebutuhan seperti ini. Orang upahan tidak. Mereka malah menyampaikan informasi yang palsu. Membodohi. Menyesatkan. Membiarkan orang dalam ketidaktahuan. Domba-domba akan merasa berhadapan dengan pihak-pihak yang tidak lagi dapat dikenali (Yoh 10:5) dan tak tahu bisa berbuat apa lagi. Tiada pegangan lagi. Keadaan ini mudah memburuk. Mereka akan mencari apa saja dan menjadi mangsa para “pencuri” dan para “perampok” (Yoh 10:1).
Di Indonesia wacana mengenai keagamaan  semakin santer.  Adakah yang dapat membantu memilah-milah dan memilih agar orang tidak jadi bulan-bulanan para penjaja informasi simpang siur, juga dalam bidang keagamaan? Ajakan tersirat Yohanes hari ini masih terdengar.
Salam hangat, A. Gianto
Sumber : Provindo
http://www.santo-laurensius.org/2013/04/20/injil-minggu-paskah-ivc-21-apr-2013-yoh-1027-30/

Saturday, January 14, 2017

Tantangan yang Menguatkan

Pengalaman membuat Mida Tobing, ibu dari tiga orang anak ini menjadi wanita yang tangguh. Lahir dari keluarga Kristen Protestan (HKBP), Mida kemudian menentukan pilihan perjalanan imannya menjadi Katolik ketika masih di SMA Regina Pacis, Solo dimana dia tinggal di asrama yang diasuh oleh para suster-suster Ursulin. Sejak itu pula Mida memulai kecintaannya kepada Maria.
Kemudian pendidikan dilanjutkan ke Bogor di AKA (Akademi Kimia Analis) dan bertemu dengan seorang pria yang menarik perhatiannya dan kelak menjadi suaminya. Mereka mulai menjalani masa-masa pacaran dengan mengenal satu-sama lain lebih dalam. Ada satu hal yang membuat perjalanan masa pacaran ini lama dan butuh pertimbangan yang lebih matang, yakni perbedaan kepercayaan. Ternyata pria bernama Ipung Saifurrohim sang pujaan hati beragama Islam. Sebagai orang timur dan orang yang beragama mereka tidak mau melangkah ke jenjang perkawinan tanpa restu orang tua. Mereka butuh waktu 10 tahun hingga restu didapatkan. Selama masa penjajagan malah Mida lebih diteguhkan imannya dengan menjadi pasukan Maria saat memulai karir bekerja di Paroki Katedral Bandung.

Komitment Saat Perkawinan
Dengan restu yang didapat, merekapun memantapkan diri melangkah ke jenjang perkawinan. Mengikuti Kursus Persiapan Perkawinan dan kanonisasi sebagaimana diharuskan dalam Gereja Katolik, mereka pun memastikan diri maju ke altar tahun 1992. Pada saat pemberkatan di Gereja St. Fransiskus Asisi, Tebet itulah komitmen akan keyakinan ditentukan. Mereka sepakat menjalankan iman masing-masing akan tetapi pendidikan anak sebagai buah cinta mereka akan dididik secara Iman Katolik. Komitmen ini mereka pegang hingga sekarang. Suami dan isteri saling mendukung pasangan untuk menghayati imannya masing-masing.
Sebagai pasangan muda, mereka berdua kerja untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Dalam perbincangan dengan Salus, Mida bertutur, bahwa perjalanan kehidupan rumah tangga dan iman tidak serta-merta berjalan dengan mulus. Ada riak dan gelombang di sana-sini. Namun dengan selalu mengingat kembali komitmen yang dibuat dan berserah diri kepada Tuhan, mereka tetap bisa berjalan dan melampauinya sampai sekarang.
Pada suatu saat, Mida merasakan suatu kekeringan dalam kehidupan imannya. Menjalani rutinitas hidup yang begitu melelahkan dan juga situasi agak mencekam sekitar tahun 1998, dia merasa butuh siraman rohani yang lebih baik. Mengikuti perayaan Ekaristi dengan kotbah yang monoton membuat Mida merasakan kekeringan rohani. Situasi ini membuat dia mencoba mendapatkannya di tempat lain. Ajakan teman untuk ikut beribadah di Gereja Duta Injil disambut dengan baik dan menjadi jawaban terhadap kekeringan rohani yang dialami.

Tantangan yang Menguatkan
Jajan rohani ini dijalani kurang lebih tiga tahun. Pengembaraan ini berakhir ketika anak pertama, Kevin Ilham Pratama yang bersekolah di Santa Laurensia, diminta mengisi formulir komuni pertama. Si anak menanyakan pada ibunya, “Ibu, kita ini katolik apa bukan? Kita sembahyang dan beribadat tidak pernah memakai tanda salib?” Walaupun mereka menikmati bersekutu di Gereja Duta Injil, namun sebagai orang tua ibu Mida dikagetkan. Dia harus menentukan pilihannya kembali. Dalam situasi itu, dia memutuskan untuk kembali ke Gereja Katolik. Mereka membenahi kembali orientasi imannya. Mida pun ikut Sekolah Evangelisasi Pribadi di Shekinah.
Pada saat usia anak-anak sudah membutuhkan perhatian yang lebih besar, keluarga memutuskan Mida untuk fokus memperhatikan anak dan berhenti bekerja. Untuk memantapkan orientasi iman yang dipilih, Mida sedikit memaksa anak-anaknya untuk aktif dalam kegiatan kegerejaan. Saat mereka sudah tinggal di Alam Sutera, Khristofer Noah Gaizka anak ketiganya diikutsertakan pada pembinaan Putera Altar (PA) sekitar tahun 2005. Lalu disusul Innocentia Felicia Anindya Kishi diikutsertakan pada pembinaan Puteri Sakristi (PS) sekitar tahun 2007.
Inilah juga sebagai cikal-bakal Mida banyak meluangkan waktu dalam pelayanan di Gereja. Dia terlibat dalam pendampingan PA/PS. Perjuangan ini tidak sia-sia. Ketiga anaknya ikut aktif di PA/PS sampai sekarang.
Ketika Stasi St. Laurensius memulai membentuk kegiatan sendiri untuk cikal bakal paroki, maka Mida diajak dan ditantang oleh para Legioner St. Monika, yaitu ibu Lies dan ibu Agnes bersama Pastor Donatus OSC untuk mendirikan Legio Maria di Stasi St. Laurensius. Maka ibu-ibu Legioner mulai berkampanye dengan membagi sebagian anggotanya yang bertempat tinggal di stasi bersama-sama untuk membentuk Legio Maria di St. Laurensius. Tetapi masih bingung untuk memilih yang menjadi ketua Presidium. Lalu kedua ibu tersebut melamar Mida untuk mau membentuk Presidium dan sekaligus menjadi ketuanya. Berbekal sebagai Legioner di Paroki Kathedral Bandung selama 3 tahun dan 3 tahun di Paroki Fransiskus Asisi, maka diawali 8 Mei 2007 Mida memulai Rapat Perdana Legio Maria. Disinipun Mida mendapatkan tantangan. Beberapa orang tokoh stasi mengatakan untuk apa Legio Maria. Apa itu Legeio Maria? Namun Mida tidak surut dalam pelayanan ini. Apalagi pada awal Stasi membuat liturgi sendiri, situasi masih morat-marit dan untuk itu dibutuhkan para Legioner yang rela membantu. Dan berkat dukungan Pastor Donatus, Mida mendatangi ketua lingkungan satu-persatu untuk mencari data orang sakit, lansia ataupun orang tua yang perlu dikunjungi sebagai tugas dari pasukan Maria. Dan hasilnya apa yang kita lihat sekarang ini. Besarnya Legio Maria memberi gairah iman buat Mida. Satu kalimat yang menguatkan Mida dalam melayani adalah kata-kata pastor Donatus yang menyatakan “kita harus menjadi orang yang tahan banting” yang disampaikan pada saat rekoleksi dewan stasi.
Tantangan yang paling menyedihkan dialami ketika Mida mau diangkat sebagai Ketua Presidium Legio Maria di St. Laurensius. Beberapa orang Dewan Kuria Legio meragukan kemampuan dan ketulusannya memimpin Legio Maria karena dia bersuami seorang muslim. Penentangan justru dia dapatkan dari Gereja. Dalam situasi seperti itu dia memberi janji kepada dewan akan bertanggungjawab menerima tugas itu. Dan dia telah membuktikannya.
Suatu ketika, ada tercetus ide keluarga untuk kembali ke Jakarta. Penolakan pertama datang dari sang suami sebagai kepala keluarga dan pengasih sang isteri. “Apa mungkin Mama bisa tenang terpisah dari komunitas di Gereja yang sudah terbangun selama ini?” Ini adalah salah satu bukti dari komitmen yang mereka buat saat pemberkatan perkawinan. Suami sungguh mendukung isteri dalam menjalankan imannya. Mida dengan segala tantangan dan lika-liku hidup yang dijalani, mendapatkan kekuatan imannya dengan terlibat dalam pelayanan. (Asden)

http://www.santo-laurensius.org/2013/04/12/tantangan-yang-menguatkan/

HARI MINGGU PASKAH II – HM. KERAHIMAN ILAHI


PERMOHONAN UTAMA (Yoh. 20:19-31)
Suatu saat, Dewa Vishnu menampakkan dirinya di hadapan seorang penyembahnya yang begitu tekun berdoa kepadanya. Ia berkata, “Sudah kuputuskan, aku akan mengabulkan tiga hal yang kau minta, apa pun itu. Setelah itu, tidak ada sesuatu pun yang akan kuberikan kepadamu lagi.” Penyembah itu dengan gembira langsung mengajukan permohonan yang per­tama. Ia meminta agar istrinya mati sehingga ia bisa menikah lagi dengan wanita lain yang lebih baik. Permohonan itu dikabulkan dengan segera. Di saat pemakaman, teman-teman dan sanak saudaranya ber­kumpul dan mengenang berbagai kebaikan istrinya. Orang ini lalu sadar bahwa ia telah bertindak terlampau gegabah. Kini mata hatinya terbuka, betapa ia mengabaikan segala kebaikan istrinya. Apa­kah ia masih bisa menemukan wanita lain yang sebaik istrinya? Maka ia pun memohon kepada dewa Vishnu agar menghidupkan istrinya kembali. Permohonannya ini dikabulkan dengan segera.
Permohonannya tinggal satu. Ia bermaksud tidak akan melakukan kesalahan untuk kedua kalinya. Kalau ia meminta sesuatu yang keliru, maka ia tidak akan sempat memperbaiki­nya. Ia bertanya kemana-mana. Beberapa temannya menasehati agar ia diluputkan dari kematian. Tetapi apa gunanya tetap hidup, balas teman yang lain, kalau badan tidak sehat? Dan, apa gunanya sehat, kalau tidak punya uang? Dan apa gunanya uang, kalau tidak punya sehabat. Dan seterusnya. Tahun demi tahun telah lewat, dan ia belum juga memutuskan apa yang akan dimintanya: hidup, kesehatan, kekayaan, kekuasaan atau cinta. Akhirnya ia menyerah dan berkata kepada Dewa Vishnu, “Dewa, aku mohon Dewa berkenan mem­beri nasehat, apa yang sepantasnya saya minta.” Melihat kebingungan orang itu, Dewa Vishnu tertawa dan berkata , “Mintalah hati yang damai, entah apa pun yang terjadi dalam hidupmu.”
Yesus, setelah kebangkitan-Nya, sebelum naik ke surga, Ia menampakkan diri kepada para murid-Nya yang sedang berkumpul di suau tempat dengan pintu-pintu terkunci. Yesus berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata: “Damai Sejahtera Bagi Kamu”. Sapaan itulah yang diulangi Yesus kemudian, termasuk ketika Ia menampakkan diri delapan hari kemudian dimana Thomas hadir bersama para murid lain, “Damai Sejahtera Bagi Kamu”.
Sapaan Yesus itu tentu bukanlah asalan, melainkan memiliki makna mendalam. Dengan itu Yesus memperlihatkan bahwa yang dibutuhkan oleh para murid-Nya pada waktu itu adalah rasa damai, karena mereka sedang merasa tidak nyaman sebagai pengikut/murid Yesus. Kitapun sekarang ini sebenarnya sedang dalam suasana tidak nyaman juga, ada banyak hal yang membuat kita merasa tidak nyaman, bukan saja karena iman kita akan Yesus, melainkan juga ada banyak masalah kehidupan yang tidak selalu mudah bagi kita untuk menghadapinya, yang membuat hati kita jauh dari rasa damai. Maka kebutuhan kita yang utama adalah rasa damai, apapun yang terjadi dalam hidup kita. Oleh karena itu maka hal utama yang perlu selalu kita mohonkan pada Tuhan adalah anugerah damai itu, termasuk ketika berbagai masalah sepertinya tidak pernah minggat dari kita atau silih berganti menghantui hidup kita. (aag).

http://www.santo-laurensius.org/2013/04/11/hari-minggu-paskah-ii-hm-kerahiman-ilahi/

HARI RAYA PENAMPAKAN TUHAN

“Di manakah Dia, raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu? Kami telah melihat bintang-Nya di Timur dan kami datang untuk menyembah Dia.”
Yes 60:1-6; Ef 3:2-3a.5-6; Mat 2:1-12
Kelahiran calon mahkota atau penerus tahta kerajaan senantiasa membuat daya tarik bagi banyak orang, sebagaimana terjadi di Kerajaan Inggris dll, atau di Indonesia di wilayah kesultanan, misalnya Daerah Istimewa Yogyakarta. Begitulah yang terjadi dengan kelahiran Yesus, Penyelamat Dunia: raja Herodes merasa akan tersaingi dan akhirnya membunuh semua anak-anak dibawah usia 2 (dua) tahun di kota Betlekem, sementara itu dalam Warta Gembira hari ini dikisahkan ‘orang-orang majus atau bijak’ dari Timur Jauh tergerak untuk bersembah sujud kepada Bayi, Penyelamat Dunia yang baru saja dilahirkan. Dengan kata lain kelahiran Penyelamat Dunia begitu cepat tersiarkan, yang berarti si Bayi mungil telah memiliki cirikhas missioner. Hari ini oleh Gereja juga dijadikan “Hari Anak Misioner Sedunia”, dengan harapan agar kita sedini mungkin membina anak-anak dalam hal penghayatan semangat missioner, diutus atau dalam bahasa lain disebut “to man or woman with/for others”. Maka dengan ini kami mengajak dan mengingatkan kita semua untuk senantiasa memberi perhatian yang memadai pada anak-anak kita, terutama anak-anak balita.
“Di manakah Dia, raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu? Kami telah melihat bintang-Nya di Timur dan kami datang untuk menyembah Dia.”   (Mat 2:2)
Kutipan di atas ini, pertanyaan dari orang-orang majus dari Timur kepada raja Herodes, hendaknya juga menjadi pertanyaan kita semua. Bagi kita hal itu berarti kita diajak untuk ‘bersembah-sujud’ kepada anak-anak. Marilah kita sadari dan hayati bahwa anak-anak lebih suci dari orangtuanya maupun orang-orang dewasa, dan dalam hidup beriman hemat saya mereka yang lebih suci selayaknya kepada mereka kita bersembah-sujud. Di beberapa gereja atau kapel sering secara khusus imam memberkati anak-anak sesudah penerimaan komuni kudus. Bukankah hal itu merupakan salah satu bentuk perhatian kepada anak-anak? Yesus sendiri juga mengasihi anak-anak, memangku dan menciumi, sementara orang-orang dewasa sering merasa terganggu dengan kehadiran anak-anak.
Marilah kita sadari bahwa anak-anak adalah masa depan kita; mereka lah yang akan meneruskan apa yang kita usahakan dan lakukan pada masa kini, maka tidak memperhatikan anak-anak hemat saya kita ‘bunuh diri’ pelan-pelan. Kami berharap kepada rekan-rekan imam, bruder dan suster sungguh memperhatikan anak-anak dalam karya pelayanan, selain memberi perhatian kepada mereka sekaligus promosi panggilan, siapa tahu dari anak-anak akhirnya tergerak untuk menjadi imam, bruder atau suster. Tentu saja pertama-tama dan terutama kami berharap kepada para orangtua yang memiliki anak-anak balita untuk sungguh memperhatikan mereka, berani ‘memboroskan waktu dan tenaga bagi anak-anak balita’, dan jangan dengan mudah menitipkan anak-anak balita kepada pengasuh anak-anak maupun neneknya, sebagaimana sering dilakukan keluarga muda berada atau kaya. Kepada para ibu kami harapkan memberi ASI secara memadai kepada anak-anaknya, tidak cukup menyusui hanya selama tiga bulan saja; kata seorang dokter anak-anak dan ibu, hendaknya menyusui bayi atau anak sampai kurang lebih selama satu tahun.
Kasih ibu kepada beta tak terhingga sepanjang masa. Hanya memberi tak harap kembali, bagi sang surya menyinari dunia”, demikian bunyi syair lagu yang menggambarkan kasih ibu kepada anak-anaknya. Semoga kasih ibu kepada anak-anaknya tidak hanya memberi aneka macam sarana permainan, melainkan ‘boroskan waktu dan tenaga’ bagi anak-anak anda. Kasih yang dihayati oleh anak-anak kelak kemudian hari akan menjadi bekal dan modal yang mendorong anak yang bersangkutan berjiwa missioner. Jika anak-anak merasa kurang dikasihi oleh orangtuanya, maka anak-anak yang bersangkutan akan tumbuh-berkembang sebagai pribadi egois, yang hanya mengutamakan kepentingan pribadi, cari enaknya sendiri, yang pada giliranya akan membuat orangtua resah dan menderita di masa tuanya.
Kepada semuanya kami harapkan untuk memperhatikan pembinaan kader dalam diri anak-anak. Kader sejati adalah orang yang fungsional menyelamatkan lingkungan hidupnya, maka hendaknya anak-anak sedini mungkin dididik dan dibina untuk fungsional dalam lingkungan keluarganya. Dengan kata lain jangan pernah memanjakan anak-anak, ajak dan didiklah anak-anak sedikit demi sedikit berfungsi dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari di dalam keluarga, misalnya mematikan lampu yang tak terpakai, mematikan kran air, menyapu dst..
“Memang kamu telah mendengar tentang tugas penyelenggaraan kasih karunia Allah, yang dipercayakan kepadaku karena kamu,yaitu bagaimana rahasianya dinyatakan kepadaku dengan wahyu” (Ef 3:2-3a)
Anak-anak adalah kasih karunia Allah, dan kiranya dalam diri anak-anak terkandung aneka harapan, dambaan dan cita-cita, sebagaimana menjadi nyata dalam pemberian nama pada anak-anak yang dianugerahkan oleh Allah, yang dilakukan oleh orangtuanya. Rahasia yang terkandung dalam diri anak-anak pelan-pelan akan terkuak alias dapat kita ketahui jika anak-anak diberi kemungkinan dan kesempatan untuk tumbuh berkembang dalam semangat ‘cintakasih dan kebebasan Injili’. Maka dengan ini kami berharap kepada para orangtua untuk senantiasa memberi aneka kesempatan dan kemungkinan pada anak-anaknya seluas mungkin, agar anak-anak dapat mengembangkan bakat, keterampilan serta anugerah Allah yang telah diterimanya. Kami berharap kepada para orangtua untuk tidak memproyeksikan dirinya kepada anak-anaknya.
“Semangat cintakasih dan kebebasan Injili” hendaknya juga menjiwai para pengelola dan pelasakna karya pelayanan pastoral pendidikan di sekolah-sekolah. Memang untuk itu di sekolah-sekolah perlu disediakan aneka kemungkinan dan kesempatan bagi para peserta didik untuk mengembangkan dan memperdalam bakat, keterampilan dan anugerah Allah, maka hendaknya anggaran belanja untuk pendidikan atau sekolah sungguh memadai. Kepada mereka yang kaya akan harta benda atau uang kami ajak untuk dengan besar hati memberi sumbangan kepada sekolah-sekolah yang sungguh membutuhkan. Ingat, sadari dan hayati bahwa anda dapat tumbuh berkembang sebagai orang kaya kiranya antara lain karena jasa pelayanan sekolah dimana anda pernah belajar, terutama pendidikan dasar, Sekolah Dasar dan Sekolah Lanjutan Pertama.
Kepada para penyelenggara dan pelaksana pemerintahan alias para petinggi Negara dan penentu kebijakan hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, kami harapkan mengalokasikan dana anggaran untuk pendidikan yang memadai dan tentu saja juga tidak dikorupsi sebagaimana masih berlangsung sampai saat ini. Saya sungguh prihatian dan sedih jika mendengar dan melihat tindakan korupsi di jajaran Departemen Pendidikan di negeri tercinta ini. Semangat atau sikap mental ‘proyek’ kiranya masih menjiwai para pejabat dan petinggi di Negara kita ini: sudah menerima imbal jasa atau gaji cukup besar masih melakukan korupsi dengan topeng ‘proyek’. Jika departemen yang membina manusia saja sarat dengan korupsi apa yang dapat diharapkan di negeri kita ini?
Di semua jenjang dan jalur pendidikan atau sekolah hendaknya dibiasakan penghayatan keutamaan jujur dan disiplin. “Jujur adalah sikap dan perilaku yang tidak suka berbohong dan berbuat  curang, berkata-kata benar apa adanya dan berani mengakui kesalahan, serta rela berkoban untuk kebenaran”, sedangkan “berdisiplin adalah kesadaran akan sikap dan perilaku yang sudah tertanam dalam diri sesuai dengan tata tertib yang berlaku dalam suatu keteraturan secara berkesinambungan yang diarahkan pada suatu tujuan atau sasaran yang telah ditentukan” (lih: Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka – Jakarta 1997, hal 10 dan 17).
Kiranya keadilan berkembang dalam zamannya dan damai sejahtera berlimpah, sampai tidak ada lagi bulan! Kiranya ia memerintah dari laut ke laut, dari sungai Efrat sampai ke ujung bumi! kiranya raja-raja dari Tarsis dan pulau-pulau membawa persembahan-persembahan; kiranya raja-raja dari Syeba dan Seba menyampaikan upeti! Kiranya semua raja sujud menyembah kepadanya, dan segala bangsa menjadi hambanya
 (Mzm 72:7-8.10-11)
Ign 6 Januari 2013
http://www.santo-laurensius.org/2013/01/04/hari-raya-penampakan-tuhan/

PERJUANGAN MENJADI KELUARGA KUDUS

Lukas 2: 41-53
Pada suatu hari yang terik di Pasar Baru, Jakarta,  sorang ibu yang tengah asyik memilih sepatu tiba-tiba sadar bahwa anaknya tidak ada di sampingnya. Sepatu yang di tangannya segera diletakkan kembali lalu mencari anaknya di toko itu, namun tidak ada. Ia ke luar toko dan terus mencarinya, namun tak ketemu juga. Dalam kepanikan ia mengingat-ingat kapan dan di mana terpisah dengan anaknya, karena si ibu telah berganti-ganti keluar-masuk toko tanpa mempedulikan anaknya. Ibu itu asyik memperhatikan kebutuhannya sendiri dan si anak pun punya perhatian yang lain. Setelah pontang-panting, akhirnya si anak ditemukan di tengah keramaian dalam kondisi kebingungan. Begitu ketemu, ibu langsung menampar pipi si anak berkali-kali sampai anaknya menjerit-jerit.
Setelah perjalanan seharian dari Yerusalem ke Nasaret, Maria dan Yusuf baru sadar bahwa Yesus tidak beserta mereka. Mereka langsung kembali ke Yerusalem untuk menemukan Yesus. Sesudah tiga hari, mereka menemukan Dia dalam Bait Allah; Yesus sedang duduk di tenah-tengah ulim-ulama, sambil mendengarkan mereka dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada mereka. Meskipun panik dan bisa jadi kesal luar biasa namun Maria dan Yusuf tercengang menyaksikan keadaan ini.
Dalam hidup dan kesibukan sehari-hari, banyak orang yang terpaku pada perhatian yang mengasyikkan dirinya; tidak peduli sejauhmana yang menjadi perhatiannya itu berharga sampai-sampai yang berharga baginya terlupakan dan hilang.
Peristiwa Maria dan Yusuf mengingatkan kita perlunya kesadaran akan hal yang berharga, karena tanpa kesadaran yang cukup akan menimbulkan kerepotan, bahkan bisa jadi kehilangan yang terpenting dalam hidupnya. Tidak sedikit anak yang mengalami kesepian dan kehilangan figur teladan orang tua karena orang tua menghabiskan waktu untuk kesibukannya bekerja. Karena absen memberi perhatian yang memadai, orang bisa sangat menyesal ketika anaknya sudah terlanjur menjadi anak yang bermasalah. Celakanya, ketika menemukan anaknya bermasalah belum tentu orang tua bisa berlaku bijaksana dengan mendengarkan dan mencari solusi yang baik, tetapi sebaliknya dengan emosi yang bergejolak bisa jadi justru memperparah keadaan anak.
Ketika menemukan Yesus, Maria dan Yusuf tercengang; menyadari kehadiran Yang Ilahi, bukan menekankan kekesalan dan egoisme. Maria dan Yusuf berani meredakan kekesalan dengan diam dan hening yang menumbuhkan kesadaran akan kehadiran Yang Ilahi dalam Yesus.
Kesucian dapat terjadi dalam jatuh-bangun perjalanan hidup, asalkan orang sadar untuk menemukan dan menghayati Yang Ilahi; tidak membiarkan diri larut dalam kehidupan tanpa nilai keilahian. Selamat Tahun Baru. [ABW]
http://www.santo-laurensius.org/2012/12/28/perjuangan-menjadi-keluarga-kudus/

Renungan Malam Natal

Yes 9:1-6; Tit 2:11-14; Luk 2:1-14
Tema Natal kita saat ini adalah “Allah telah mengasihi kita!” Apakah Anda sungguh merasakan dan mengalami dikasihi oleh Allah? Kita tidak usah berpikir mengenai peristiwa-peristiwa besar dan fenomenal tetapi mari kita menyadari bahwa peristiwa-peristiwa kecil dan sederhana dalam kehidupan sehari-hari itu merupakan wujud nyata kasih Allah. Setiap hari, saat kita tidur, makan, mandi, bekerja, menempuh perjalanan, dan melayani orang lain, kita dilindungi-Nya. Bahkan, saat kita sedang jengkel, emosi, dan marah pun, Tuhan melindungi. Setiap hari kita diberi sinar matahari, yang membuat kita mengalami terang sehingga bisa melihat. Berkat sinar matahari pula tanaman dan hewan bisa hidup sehingga selalu ada persediaan makanan bagi kita. Setiap saat, udara selalu disediakan bagi kita secara cuma-cuma sehingga kita bisa bernafas dan tetap hidup.
Pada saat kita menderita dan mengalami pengalaman pahit, apakah Allah tetap mengasihi kita? Jelas. Misalnya, melalui sakit yang kita derita, kita justru diberi kesempatan untuk beristirahat dan sungguh menyadari kerapuhan kita kemudian merendahkan diri di hadapan Tuhan seraya berserah diri dan mengandalkan Dia. Bukankah saat sakit, kita justru mengalami kasih yang berlebih dari orang-orang di sekitar kita? Seandainya saudara kita sakit cukup lama, sudah diupayakan berbagai macam pengobatan tetapi tidak kunjung sembuh, malah semakin memburuk dan akhirnya meninggal, di manakah kasih Allah? Justru di situlah Allah yang mengasihi saudara kita itu membebaskannya dari segala macam derita secara total dan sekaligus menganugerahi hidup baru di surga yang sudah tidak dapat lagi disentuh oleh derita?
Sekarang, seandainya kita berbuat dosa atau menjadi jahat, apakah Allah juga tetap mengasihi kita? Iya. Sebab, Allah adalah kasih (bdk. 1Yoh 4:8.16b). Tuhan “menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar” (Mat 5:45). Kalau kita tersesat seperti domba yang hilang, Ia akan mencari dan menemukan kita kemudian membawa dan menyatukan kita kembali dengan kawanan domba-Nya (Luk 15:1-7). Kalau kita meninggalkan Dia bagaikan anak yang hilang, Ia selalu mengharapkan kita kembali dan setia menunggu kita; dan ketika kita sudah kembali, Ia segera berlari mendapatkan kita dan merangkul serta memeluknya dengan penuh kasih (Luk 15:11-32).
Puncaknya, ketika kita berkubang dalam lumpur dosa dan tidak bisa bangkit sehinga nyaris binasa, Allah mengutus Putera-Nya, Yesus Kristus, untuk menyelamatkan kita. Kita tahu bahwa “upah dosa adalah maut” (Rm 6:23). Maka, dengan berdosa, seharusnya kita dihukum dan dibinasakan – seperti Allah telah membinasakan umat-Nya yang berdosa dengan air bah (Kej 6-7). Namun, karena belas kasih Allah, hukuman itu tidak ditimpakan kepada kita tetapi ditanggung oleh Tuhan kita Yesus Kristus yang datang “untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang” (Mrk 10:45). Demikianlah, Allah telah “mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia” (Yoh 3:16-17).
Perutusan Sang Putera untuk menyelamatkan kita itu diawali dengan misteri penjelmaan-Nya. Ia dikandung dan dilahirkan oleh Perawan Maria berkat kuasa Roh Kudus. Inilah yang kita kenangkan dan kita syukuri dalam perayaan Malam Natal ini. Kita merayakan peristiwa agung yang diwartakan oleh para malaikat, “Hari ini telah lahir bagimu Juru Selamat, yaitu Kristus Tuhan, di kota Daud” (Luk 2:11). Melalui peristiwa kelahiran Yesus ini, “Sudah nyatalah kasih karunia Allah yang menyelamatkan semua manusia” (Tit 2:11).
Dialah: “Penasihat Ajaib, Allah yang perkasa, Bapa yang kekal, Raja Damai” (Yes 9:5). Yesus adalah penasihat ajaib karena Dia sungguh Allah dan sungguh manusia; melalui nasihat-nasihat-Nya Ia menuntun kita, umat manusia, untuk hidup sesuai dengan kehendak Allah dan akhirnya bersatu dengan Allah. Dia juga Allah perkasa, yang dengan keperkasan-Nya akan mengalahkan musuh-musuh-Nya, yakni kuasa setan, dan “musuh yang terakhir yang dibinasakan ialah maut” (2Kor 15:26). Dengan mengalahkan kuasa setan dan membinasakan maut, Yesus menganugerahkan hidup kekal kepada kita sehingga Ia juga diberi gelar Bapa yang kekal. Dialah Raja Damai yang akan menganugerahkan damai sejahtera kepada kita, baik di surga maupun di bumi untuk selama-lamanya (Yes 9:6).
Melalui perayaan agung kelahiran Tuhan kita Yesus Kristus, Sang Penyelamat dunia, kita diajak untuk merayakan dan mensyukuri kasih karunia Allah yang begitu besar kepada kita. “Kasih karunia itu mendidik kita untuk meninggalkan kefasikan dan keinginan-keinginan duniawi dan agar kita hidup bijaksana, adil dan beribadat, di dunia sekarang ini, sambil menantikan penggenapan pengharapan kita yang penuh bahagia” (Tit 2:12-13), yaitu keselamatan yang abadi.
Dengan merayakan natal, kita merayakan dan masyukuri kasih Allah yang tiada tara. Maka, marilah kita juga belajar mengasihi sebagaimana Allah telah mengasihi kita dengan meninggalkan kefasikan, mengatur keinginan-keinginan duniawi, dan semakin mengupayakan hidup yang bijaksana, adil dan beribadat.
Romo Ag. Agus Widodo, Pr – Paroki Bintaran Yogyakarta

Sumber : Media Komunikasi Keuskupan Agung Semarang
http://www.santo-laurensius.org/2012/12/24/renungan-malam-natal/

INFORMASI PAROKI & KEGIATAN PAROKI - 23/09/2018

INFORMASI PAROKI & KEGIATAN PAROKI MISA REMAJA 30 SEPTEMBER 2018. Seluruh remaja usia BIR(10- 15th) diundang hadir untuk menghadiri Misa...