Showing posts with label adven. Show all posts
Showing posts with label adven. Show all posts

Sunday, January 15, 2017

Pertemuan Adven Lingkungan St. Maria, Wilayah XV

Pertemuan Adven di Lingkungan St. Maria, Wilayah XV, Gading Serpong, tahun 2013 ini berjalan cukup semarak. Terlaksana pada tanggal 7 dan 14 Desember lalu diikuti oleh masing-masing 40 orang. Pertemuan pertama diadakan di lapangan terbuka, sedangkan yang kedua di rumah warga karena hujan. Dengan pola menghidupi Kitab Suci melalui permainan keluarga, senang melihat sumringah-nya umat, yang usianya berkisar 5 sampai 85 tahun. Semua larut dalam aktivitas ini, baik saat bermain, maupun saat diajak berefleksi. Memang lingkungan sering beracara untuk keluarga dan mengukir memori iman anak. Dengan harapan, semoga keluarga-keluarga dikuatkan dan selalu merasakan kehadiran Kristus dan pendampingan Bunda. (Liber Mariae)

http://www.santo-laurensius.org/2013/12/23/adven-st-maria/

Saturday, January 14, 2017

MISA VESPERTINA – Asal Usul Yesus Sang Imanuel

Mat 1:1-25 dan Kis 13:16-17.22-25

Rekan-rekan yang baik!
Berikut ini sebuah ulasan ringkas mengenai Mat 1:1-25 yang dibacakan dalam Misa Vespertina tanggal 24 Desember (sore menjelang Misa Malam Natal). Petikan ini terdiri dari dua bagian. Yang pertama memuat silsilah Yesus (ay. 1-17) dan yang kedua mengisahkan peristiwa kelahirannya (ay. 18-25). Di beberapa tempat boleh jadi hanya bagian kedua saja yang dibacakan. Namun demikian, baiklah kita catat beberapa gagasan mengenai silsilah yang termaktub pada bagian pertama karena dapat memberi pengantar memasuki bagian yang kedua.
SILSILAH
Pertama-tama, dengan silsilah itu hendak ditunjukkan bahwa Yesus adalah tokoh yang sejak awal mula dijanjikan Tuhan kepada Abraham, bapak segala orang beriman dan yang selanjutnya diteguhkan dengan kebesaran Raja Daud. Kemudian keturunan Daud berlangsung hingga pembuangan yang betul-betul mengubah jati diri orang Israel, dari yang membanggakan diri sebagai bangsa pilihan menjadi bangsa tawanan yang perlu menyadari dan menyesali ke­dosaannya. Akan tetapi justru dalam keadaan itu tumbuhlah harapan akan kedatangan seorang Mesias yang akan memulihkan kebesaran mereka. Mesias, harfiahnya Yang Terurapi, ialah orang mendapat tugas resmi dari Tuhan untuk memimpin umatNya. Memang lazimnya orang Yahudi pada zaman Yesus memahami masa lampau mereka dalam ukuran-ukuran ketiga masa tadi: dari Abraham hingga Daud, dari Daud hingga Pembuangan, dan dari Pembuangan hingga kedatangan Mesias yang dinubuatkan Nabi Yesaya 7:14 yang nanti akan dikutip dalam Mat 1:23 dan diterapkan kepada kelahiran Yesus oleh Maria. Tiap masa memiliki makna yang khas. Secara tak langsung, Matius mengikutsertakan Yesus dalam kedua masa yang pertama (keturunan Daud, yang juga keturunan Abraham) dan menerapkan masa ketiga pada Yesus dengan jelas (masa penantian datangnya Mesias, yaitu Yesus).
Orang yang mengenal riwayat tokoh-tokoh yang dise­butkan dalam silsilah itu tentu akan menikmati bacaan ini. Namun demikian, tak banyak yang dapat mengenali satu persatu para leluhur Yesus itu. Orang Yahudi yang biasa pada zaman dulu pun tidak tahu riwayat masing-masing tokoh itu. Dan Matius pun sadar akan hal ini. Oleh karena itu, pada akhir silsilah ini, yakni pada ay. 17, diberikannya sebuah rangkuman. Ada 14 keturunan dalam masing-masing dari ketiga masa dalam kehidupan bangsa Israel tadi. Apa makna angka 14 ini? Angka 14 ialah hasil dari 2 kali 7, yakni angka yang melambangkan keutuhan yang keramat sifatnya. Dua kali angka 7 berarti sungguh keramat. Yang amat keramat ini terulang tiga kali. Pengulangan tiga kali ini juga khas. Bila dua kali berarti menggarisbawahi pentingnya, tiga kali menunjukkan suasana khidmat (Ingat seruan para serafim dalam Yes 6:3 “Kudus, kudus, kuduslah Tuhan …!” yang juga dipakai dalam liturgi ekaristi). Oleh karena itu, jelas bahwa tiga kali penyebutan 2 kali 7 keturunan dalam silsilah Yesus itu dimaksud untuk mengajak orang agar bersikap khidmat menghadapi kenyataan yang teramat keramat, yakni peristiwa kelahiran Yesus yang diceritakan dalam ay. 18-25.
PANDAI MENDENGARKAN
Mendekati kisah kelahiran Yesus dengan suasana khidmat serta menyadari sakralnya kisah itu akan memberi banyak kekuatan kepada orang sekarang. Banyak yang akan bertanya-tanya mengapa saya katakan “mendekati kisah” dan bukan “mendekati kelahiran sang Penyelamat”? Kita sebetulnya hanya bisa mendekat kepadaNya lewat kisah tentangNya. Seperti halnya Yusuf yang berhasil datang dekat dengan mendengarkan kisah malaikat dengan khidmat, begitulah jalan kita. Yusuf sadar akan apa yang sedang terjadi. Dan dengan segala ketulusannya ia menerima kehadiran yang keramat dalam kehidupannya. Ia menerima apa yang terjadi pada Maria. Boleh jadi ia tidak seluruhnya mengerti. Bahkan bisa dikatakan bahwa ia baru betul-betul mengerti dan dapat benar-benar menerima setelah ia mendengarkan kisah yang dibawakan malaikat kepadanya. Sikap hormat seperti ini membuatnya ikut serta dalam karya penyelamatan.
Malaikat bersabda kepada Yusuf dan menjelaskan bahwa yang terjadi pada Maria itu menurut apa yang telah dinubuatkan Nabi Yesaya (Yes 7:14), yakni anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki dan mereka akan menamakan dia Imanuel, yang artinya Allah menyertai kita. Yusuf yang telah mendengarkan kisah malaikat dengan khidmat tadi akan menerapkannya kepada anak yang nanti dilahirkan Maria. Ia dinamainya Yesus, yang artinya Tuhan itu pemberi keselamatan, dalam arti ia menyertai kita – Imanuel. Tuhan tidak meninggalkan kita. Nama itu sendiri ialah ungkapan iman bahwa Yang Maha Besar tetap menyertai kita.
“Tuhan beserta kita” inilah yang bakal lahir di tengah-tengah kumpulan orang di mana saja dan kapan saja yang bersedia mendengarkan kisah kehadiran yang keramat di dunia ini. Warta Natal yang dibawakan petikan Injil Matius pada kesempatan ini besar kandungan rohaninya. Orang diajak mendengarkan kisah kehadiran Tuhan di dalam kehidupan ini. Menurut Matius, tidak sukar memenuhi ajakan itu. Yang dibutuhkan ialah sikap khidmat di hadapan Yang Ilahi yang tampil dalam kehidupan ini dalam macam-macam wujud. Kita ingat pada akhir Injil Matius, pembicaraan mengenai penghakiman terakhir dipusatkan pada apa orang berhasil atau tidak melihat kehadiran Tuhan dalam diri sesama. Begitulah, sejak awal Matius mengajak kita belajar makin peka akan isyarat-isyarat dari Tuhan sendiri. Dan Yusuf menjadi gambar orang yang sampai ke sana, dengan segala ketulusan yang membuatnya mampu mendengarkan khidmat kisah kehadiran Tuhan di dekatnya. Pada kesempatan ini juga kita mendapat ajakan seperti itu.
DARI BACAAN KEDUA (Kis 13:16-17.22-25)
Satu ketika dalam perjalanannya yang pertama Paulus dan rekan-rekannya singgah di Antiokhia yang di Pisidia – sekarang  Turki tengah  agak ke selatan. Di situ mereka ikut ibadat di rumah ibadat Yahudi pada hari Sabat. Memang zaman itu belumlah komunitas Kristiani terpisah dari kalangan Yahudi. Setelah pembacaan Taurat, pimpinan rumah ibadat menyilakan bila ada dari antara rombongan Paulus yang ingin mengutarakan pesan untuk menguatkan iman umat. Maka Paulus pun angkat bicara.
Bacaan kedua kali ini diangkat dari pembicaraan Paulus di rumah ibadat itu. Ringkasnya, Paulus mengutarakan kembali sejarah umat Perjanjian Lama sebagai kenyataan hadirnya Yang Mahakuasa dalam kehidupan manusia dalam kurun waktu tertentu dan tempat tertentu. Secara khusus ditegaskannya bahwa keselamatan datang dalam kehidupan lewat Raja Daud. Dan seorang keturunan Daud, yakni Yesus, telah datang menghadirkan Yang Ilahi. Tentang dia Yohanes Pembaptis telah memberikan kesaksian. Kebesaran tokoh yang disebutkan Paulus itu amat dikenal para pendengarnya. Karena itulah kesaksiannya juga amat kuat.
Pokok di atas menunjuk pada kekhususan iman kristiani, yakni kepercayaan yang berani mendasarkan diri pada kejadian-kejadian dalam sejarah umat manusia di zaman tertentu dan di tempat tertentu. Inilah kekuatan iman ini. Bisa menjadi bagian sejarah, bukan hanya gagasan-gagasan belaka. Berarti juga iman ini mengubah arah sejarah manusia. Dari perjalanan yang mengarah ke kehancuran umat manusia kini terarah kembali ke kehidupan. Inilah keselamatan dalam arti seluas-luasnya. Ini juga ajakan bagi siapa saja yang mempercayai kehadiran ilahi seperti ini untuk ikut mengarah ke perbaikan hidup, ke keadaan yang makin layak bagi sispa saja, ke kehidupan bersama yang saling memperkaya.
Salam hangat,
A. Gianto
http://www.santo-laurensius.org/2012/12/23/misa-vespertina-asal-usul-yesus-sang-imanuel/

Renungan Minggu Adven IV


Mg Adven IV: Mi 5:1-4a; Ibr 10:5-10; Luk 1:39-45
“Berbahagialah ia, yang telah percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana.”
Perayaan Natal, mengenangkan kelahiran Penyelamat Dunia semakin dekat, dan besok sore/ malam kiranya kebanyakan dari anda berpartisipasi dalam Perayaan Ekaristi Agung Malam Natal. Hari-hari ini kiranya persiapan untuk Perayaan Malam Natal sudah siap semuanya dan tinggal pelaksanaannya, maka kutipan judul di atas, kata-kata Elisabeth kepada SP Maria, sungguh sesuai untuk menjadi bahan permenungan atau refleksi kita pada hari ini, tentu saja kami ajak untuk merenungkannya secara rohani atau spiritual, bukan secara fisik belaka, dengan kata lain apakah kita telah siap sedia secara konkret merayakan Natal dalam hidup sehari-hari, yaitu berdamai dan bersahabat dengan siapapun tanpa pandang bulu atau SARA, sehingga kita sendiri senantiasa dalam keadaan bahagia dan tentu saja siapapun yang bertemu dengan saya juga menikmati hidup bahagia dan damai sejahtera sejati, bahagia dan sejahtera fisik maupun spiritual, lahir maupun batin.
Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu. Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku?Sebab sesungguhnya, ketika salammu sampai kepada telingaku, anak yang di dalam rahimku melonjak kegirangan. Dan berbahagialah ia, yang telah percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana.” (Luk 1:42-45).
Sesuatu yang sungguh mengejutkan dan menggembirakan bahwa anak yang masih berada di dalam rahim “melonjak kegirangan”, yang berarti ia yang belum lahir sebagai manusia ikut menikmati kegembiraan perihal pemenuhan janji Allah untuk menyelamatkan dunia, umat manusia seluruhnya. Hemat saya hal ini terjadi karena Roh Kudus  sungguh berkarya baik dalam diri Elisabeth maupun SP Maria. Apa yang terjadi dalam perjumpaan antara Elisabeth dan SP Maria ini kiranya dapat menjadi inspirasi bagi kita semua dalam rangka menyambut kedatangan Penyelamat Dunia, mengenangkan kelahiran Penyelamat Dunia yang akan segera tiba.
Menjadi orang yang sungguh bergembira ‘luar-dalam’, artinya tidak hanya dipermukaan saja tetapi sampai di hati, pasti senantiasa dalam keadaan mempesona, menarik dan memikat, sehingga siapapun yang melihatnya akan memuji dan bersyukur, tentu saja orang-orang yang baik, bermoral dan berbudi pekerti luhur. Kita kiranya dapat menyaksikan bayi sehat yang baru saja dilahirkan atau balita yang sehat wal’afiat, yang senantiasa bergembira dan ceria serta memiliki sikap mental siap sedia didatangi oleh siapapun yang hendak mengasihinya. Memang ketika bayi atau balita didekati atau diperlakukan tanpa kasih, maka ia akan memberontak dan menangis. Kita semua diharapkan memiliki keterbukaan yang mendalam untuk siap sedia didatangi oleh Penyelamat Dunia.
Secara khusus perkenankan saya menyapa rekan-rekan ibu yang sedang mengandung, lebih-lebih baru pertama kali mengandung, serta mendambakan anaknya yang berada dalam kandungan segera lahir di dunia ini. Kami ucapkan selamat dan kiranya bolehlah saya sapa anda dengan kata-kata ini: “Berbahagialah anda karena tidak lama lagi anda akan menjadi ibu, dan menurut kata banyak orang berarti sempurnalah kewanitaan anda!”. Hendaknya anda sungguh dalam keadaan ceria dan gembira, karena dengan demikian kelahiran anak anda akan berjalan lancar, tanpa ada hambatan sedikitpun, dan anak anda akan lahir dalam keadaan sehat juga. Sedangkan kepada suami maupun saudara-saudarinya kami harapkan juga bersyukur dan berterima kasih.
Kita semua yang beriman kepada Yesus Kristus kiranya pada hari ini juga dalam keadaan gembira dan ada di antara yang sedang dalam rencana atau perjalanan untuk bertemu sanak-saudara dan kerabat alias mudik ke kampung halaman tempat dilahirkan dan dibesarkan. Kami percaya bahwa anda juga dalam keadaan siap sedia untuk saling menyapa dengan gembira, saling curhat, saling menceriterakan pengalaman hidup yang mengesan. Maka manfaatkan kesempatan bersilaturahmi ini dengan baik untuk memperdalam dan memperteguh persaudaraan atau persahabatan yang sejati. Mungkin di antara anda juga sudah menyampaikan ucapan ‘Selamat Natal’, entah melalui kartu Natal atau surat, dan pada umumnya anda juga siap-siap untuk mengucapkan selamat Natal dengan kirim SMS atau email. Marilah kita bersiap-siap untuk bergembira dalam mengenangkan kelahiran Penyelamat Dunia.
Di atas Ia berkata: “Korban dan persembahan, korban bakaran dan korban penghapus dosa tidak Engkau kehendaki dan Engkau tidak berkenan kepadanya” — meskipun dipersembahkan menurut hukum Taurat –. Dan kemudian kata-Nya: “Sungguh, Aku datang untuk melakukan kehendak-Mu.” Yang pertama Ia hapuskan, supaya menegakkan yang kedua. Dan karena kehendak-Nya inilah kita telah dikuduskan satu kali untuk selama-lamanya oleh persembahan tubuh Yesus Kristus” (Ibr 10:8-10)
Kutipan di atas ini mengajak dan mengingatkan segenap umat beriman atau beragama agar dalam cara hidup dan cara bertindak senantiasa lebih mengutamakan pelaksanaan atau penghayatan kehendak Allah, bukan upacara-upacara liturgis atau doa-doa yang panjang. Memang kehendak Allah antara lain dapat kita temukan dalam aneka aturan atau tata tertib yang terkait dengan panggilan dan tugas pengutusan kita masing-masing, maka baiklah aneka tata tertib atau aturan yang terkait dengan hidup, panggilan dan tugas pengutusan kita sungguh dihayati atau dilaksanakan sepenuhnya. Ingatlah dan sadari serta hayati bahwa tujuan utama tata tertib atau aturan dibuat dan diberlakukan tidak lain adalah agar kita semakin setia dan tahu melaksanakan kehendak Allah di lingkungan hidup atau kerja kita masing-masing.
SP Maria mengunjungi Elisabeth,  saudarinya, merupakan kehendak Allah, bukan hanya keinginan pribadi. Semoga perjalanan anda untuk mengunjungi keluarga atau sanak-saudara atau ucapan “Selamat Natal dan Tahun Baru” juga merupakan kehendak Allah, maka baiklah sharingkan pengalaman hidup anda yang baik kepada saudara-saudari kita. Semoga jabatan tangan maupun peluk-cium yang anda lakukan dengan saudara-saudari anda juga tidak sekedar formalitas atau sopan santun belaka, melainkan sungguh merupakan dorongan Allah.
Kutipan di atas juga mengingatkan dan mengajak kita semua untuk mempersembahkan diri seutuhnya kepada Allah, apa yang kita miliki dan kuasai saat ini hendaknya dipersembahkan kepada Allah atau difungsikan sesuai dengan kehendak Allah. Dalam hal ini saya sangat terkesan pada seorang seminaris dari Seminari Mertoyudan, yang beberapa waktu lalu dipanggil Tuhan, yaitu Ignatius Destian Kristiadi. Ia adalah anak keempat dari lima bersaudara, dan merupakan anak terbaik dalam keluarganya. Ibunya sendiri sungguh berbahagia mempersembahkan anak tersebut kepada Tuhan untuk menjadi imam. Banyak orang mungkin menyayangkan bahwa anak baik kok lebih dahulu dipanggil Tuhan. Memang Tuhan menghendaki apa yang terbaik dari kita, bukan sisa-sisa atau yang tidak baik. Ketika mempersembahkan Ekaristi untuk tujuh hari kematian Ignatius Destian Kristiadi di rumahnya, ibunya berbagi pengalaman kepada saya: “Romo ia adalah anak kami yang terbaik, dan sekarang sudah mempersembahkan diri seutuhnya  kepada Tuhan, hidup mulia dan berbahagia di sorga bersama Tuhan. Saya merasa bahagia dengan hal ini”.
Dalam misa atau Perayaan Ekaristi tujuh hari tersebut saya juga memperoleh sesuatu yang baru dan indah. Di stasi  ini ada paguyuban umat yang disebut kelompok “LUWAK” (=Leladi Umat Wewaton Ati Karep = melayani umat dengan kehendak hati). Kelompok ini dengan cekatan dan gembira melayani apa yang sungguh dibutuhkan oleh umat dan masyarakat. Marilah kita hidup dan bertindak melayani umat atau masyarakat.
Ya Allah semesta alam, kembalilah kiranya, pandanglah dari langit, dan lihatlah! Indahkanlah pohon anggur ini, batang yang ditanam oleh tangan kanan-Mu!Kiranya tangan-Mu melindungi orang yang di sebelah kanan-Mu, anak manusia yang telah Kauteguhkan bagi diri-Mu itu, maka kami tidak akan menyimpang dari pada-Mu. Biarkanlah kami hidup, maka kami akan menyerukan nama-Mu” (Mzm 80:15-16.18-19)
 Ign 23 Desember 2012
http://www.santo-laurensius.org/2012/12/21/renungan-minggu-adven-iv/

Minggu Advent III C – Apakah Yang Harus Aku Perbuat?

Zef 3:14-18a; Filipi 4:4-7; Lukas 3:10-18
Dalam keadaan apakah orang mengatakan,”Apakah yang harus aku perbuat? Bisa dua kemungkinan. Pertama, orang tersebut sedang mengalami keputusasaan. Tidak tahu lagi apa yang harus diperbuatnya. Diandaikan yang bersangkutan sudah melakukan berbagai macam usaha tetapi semua usahanya tidak ada yang berhasil, alias “gatot” atau gagal total (maaf kalau ada yang bernama gatot). Kedua, orang tersebut mendapatkan suatu pencerahan. Ia seakan-akan mendapatkan suatu harapan baru dalam hidupnya dan mau memulai sesuatu yang baru. Ia mau melakukan petunjuk apapun dari orang yang memberikan pencerahan tersebut yang bisa membuat hidupnya berubah dan berhasil. Pendeknya orang tersebut sedang mencari jalan keluar dari kesulitan hidup yang sedang dihadapinya.
Dalam bacaan Injil Minggu Advent II (Luk 3:1-6), kita mendengarkan Yohanes Pembaptis yang menyampaikan seruan pertobatan. Seruan Yohanes Pembaptis ini rupanya membuat banyak orang penasaran. Dalam Minggu Advent III  ini, dikisahkan tiga kelompok orang, yaitu orang banyak, para pemungut cukai, dan para prajurit, yang bertanya kepada Yohanes Pembaptis,”Apakah yang harus kami perbuat?” (Lukas 3:10-18). Mereka tertarik dengan seruan dan ajakan pertobatan dari Yohanes Pembaptis. Yohanes memberikan penjelasan kepada masing-masing kelompok orang tersebut sesuai dengan kondisi dan pekerjaannya. Kepada orang banyak Yohanes mengatakan “Barangsiapa mempunyai dua helai baju, hendaklah ia membaginya dengan yang tidak punya, dan barangsiapa mempunyai makanan, hendaklah ia berbuat juga demikian “. Kepada Para pemungut cukai Yohanes berpesan “Jangan menagih lebih banyak dari pada yang telah ditentukan bagimu. Dan kepada para prajurit Yohanes menasihatkan, “Jangan merampas dan jangan memeras dan cukupkanlah dirimu dengan gajimu.” (Lukas 3:10-15).
Apakah kita juga mau menanggapi seruan pertobatan dari Yohanes Pembaptis. Sebagai apa dan siapakah kita saat ini? Sebagai seorang kepala keluarga, suami dan ayah bagi anak-anak.
Sebagai seorang ibu rumah tangga, isteri dan ibu dari anak-anak, serta sebagai seorang anak dalam keluarga. Sebagai seorang pegawai, buruh, pemimpin perusahaan, pengusaha, biarawan dan biarawati atau sebagai apapun kita, beranikah kita bertanya,”Apakah yang harus aku perbuat?” mungkin selama ini kita masih melakukan banyak kesalahan dan kekurangan, kita kurang mendengarkan orang lain, kita lebih suka menuntut orang lain berubah daripada merubah diri kita, bersikap egois dan tidak mau peduli. Kita diajak untuk menjadi pembuka jalan keselamatan bagi setiap orang. Bukan batu sandungan.
Kini kita memasuki Minggu Adven III yang biasa disebut sebagai Minggu Gaudete atau Minggu Sukacita. Nabi Zefanya berkata,”Bersorak-sorailah, hai puteri Sion, bertempik-soraklah, hai Israel! Bersukacitalah dan beria-rialah dengan segenap hati, hai puteri Yerusalem! (Zef 3: 14).  Demikian juga Rasul Paulus kepada umat di Filipi. Kita diajak untuk selalu bersukacita karena kedatangan Tuhan dan penyelamatannya. (Fil 4:5 – 7).
Saudara-Saudari dan Anak-Anakku yang terkasih, marilah kita bersukacita dan melakukan perbuatan-perbuatan baik untuk menjadi manusia baru dalam Kristus. (bennosc)
http://www.santo-laurensius.org/2012/12/17/minggu-advent-iii-c-apakah-yang-harus-aku-perbuat/

BULAN KELUARGA – Tanya Jawab Dengan RP Alexander Erwin, MSF


Selamat jumpa Romo, kami ingin bertanya mengenai masa adven di KAJ, katanya akan berbeda, benarkah?
Ya benar. Acaranya berbeda karena kami berusama menyesuaikannya dengan masa Adven sebagai acara keluarga mempersiapkan Natal. Masa Adven sebentar lagi datang. Masa Natal sudah diujung mata. kita semua bergembira menyambutnya bersama seluruh keluarga. Keluarga pasti tengah mempersiapkan acara keluarga tahunan ini. Menyambut Tuhan yang paling layak adalah membuat seluruh keluarga bergembira dan mengalami damai sejahtera bersama.
Bagaimana bisa dibuat demikian, Romo. Bukankah biasanya pertemuan itu diselenggarakan di lingkungan?
Benar, itu akan tetap diselenggarakan di lingkungan kita. Tetapi justru kita mau menyesuaikan dengan masa adven yang adalah masa menjelang Natal itu. Kita pasti punya rencana-rencana yang baik untuk menghabiskan liburan bersama keluarga. Itu tentu baik sekali. Kita menyempatkan diri untuk bersama keluarga dan mengenal mereka lebih dalam lagi. Yang biasanya formal dan rutin, sekarang kita buat lebih kekeluargaan dan fun (menggembirakan). Jadi pertemuannya kita buat lebih yang mempersatukan keluarga sesuai temanya: Kembali ke Nazareth
Apa arti dari tema itu?
Kita tentu masih ingat peristiwa ketika Yesus tertinggal di Bait Allah. Di sana ia mengajar banyak orang pandai. Ia dicari ibu-Nya ke sana kemari. Ketika ditemukan, Yesus mengatakan bahwa Ia harus ada di rumah Bapa-Nya. Akan tetapi peristiwa yang baik adalah bahwa meskipun Yesus ingin berkarya, Ia tetap kembali ke Nazareth, kembali kepada Keluarga Kudus untuk dididik, hidup bersama dan mengolah hidup-Nya sampai siap berkarya kelak. Yesus saja kembali ke keluarga untuk membangun kepribadian yang matang, maka seluruh keluarga juga diundang kembali ke Nazareth-nya masing-masing, kembali ke keluarganya masing-masing.
Jadi, maksudnya, itu akan terjadi dalam masa adven di Jakarta, Romo?
Ya. Begitu juga dengan adven kita! Kita akan membuatnya menjadi sebuah pertemuan keluarga. Ini yang baru dicoba di paroki-paroki kita di seluruh Keuskupan Agung Jakarta (KAJ). Seluruh keluarga diundang untuk Informasi datang dan mengikuti seluruh rangkaian proses pertemuan yang bukan lagi terutama pendalaman iman, tetapi lebih ke aktualisasi iman bersama seluruh keluarga. Kita ingin mewujudkan proses pendalaman iman yang selama ini kita laksanakan menjadi suatu perwujudan. Kita diajak untuk membuktikan bahwa kita pun mau kembali ke rumah, ke keluarga, ke Nazareth kita untuk menata hidup bersama orang yang kita kasihi.
Apa saja isi acaranya?
Ada tiga acara pokok, yaitu Bulan Konseling, Pertemuan/Rekoleksi Keluarga, dan Hari Keluarga. Bulan konseling mengajak umat untuk memanfaatkan jasa pelayanan konseling atau konsultasi bersama sukarelawan yang bekerja bersama di seluruh paroki atau dekenat kita. Pertemuan/rekoleksi akan dijalani dengan aktivitas seluruh keluarga di tiap lingkungan tiap minggu. Hari keluarga diusulkan untuk mendorong setiap paroki mengadakan acara bertema keluarga di parokinya masing masing di tingkat paroki.
Apakah benar fokus acara ada pada Pertemuan/Rekoleksi keluarga?
Ya, benar, karena pertemuan bersama ini akan berbeda. Seluruh anggota keluarga diajak untuk beraktivitas menunjukkan kebersamaan yang lebih bermutu. Mereka akan diajak dari minggu ke minggu untuk semakin mengenal keluarganya, semakin menghargai keluarganya yang bermakna, semakin mengembangkan komunikasi, dan akhirnya berani melakukan rekonsiliasi/ menjalin hubungan baik kembali dengan sesama anggota keluarganya. Kemasannya adalah semacam perjumpaan yang aktif: Ice Breaking, aktivitas rekoleksi (menulis, berdiskusi, sharing), berdoa bersama, dan melihat dasar Kitab Suci yang meneguhkan seluruh rangkaian aktivitas itu.
Jadi Kitab Suci masih ada, Romo?
Tentu saja, Kitab Suci mendasari apa yang kita lakukan. Kitab Suci meneguhkan bahwa aktivitas kita memang sesuatu yang sesuai dengan maksud Tuhan dalam hidup kita. Meskipun Kitab Suci tidak diperdalam, tetapi dari ayat yang ada itu kita mengerti bahwa acara dan kegiatan kita itu amat perlu dalam rangka menciptakan dan meneruskan hidup keluarga Katolik yang sejati.
Apa maksudnya Hidup Katolik yang sejati itu?
Ya itu tadi, yang tidak jauh dari rumah tangga atau keluarganya sendiri. Setiap anggota keluarga diajak mengenal keluarganya, agar lebih dekat lagi. Tak kenal maka tak sayang, kan? Kemudian setiap anggota keluarga diajak untuk menghargai keluarganya yang penuh makna. Kadang kita hanya tahu bahwa kita punya papa-mama atau anak-anak seperti itu, tetapi apakah kita sungguh menghargai mereka sebagai yang bermakna bagi kita? atau kita mencarinya di tempat lain? Dalam pertemuan kedua, seluruh umat yang hadir diajak untuk melihat makna keluarga.
Lalu dalam pertemuan selanjutnya?
Selanjutnya, akan dibahas komunikasi yang amat penting bagi setiap keluarga. Keluarga Katolik harus tahu bahwa berbicara itu penting dan ada seninya. Dalam pertemuan akan diajarkan perlunya berbicara, berkomunikasi, dan saling memahami. Dalam pertemuan keempat, karena semakin mendekati Natal, orang akan diajak untuk akhirnya berekonsiliasi dengan seluruh anggota keluarganya agar semua merayakan Natal dengan damai.
Rekonsiliasi seperti apa yang dimaksudkan?
Ya, rekonsiliasi kan artinya memperbaiki hubungan, saling memaafkan, minta maaf, mengampuni, dan sejenisnya. Maka ketika acara rekonsiliasiitu dilakukan, orang diajak untuk saling mohon maaf dan memaafkan. Itu adalah pertemuan yang sangat berarti, apalagi kalau dapat dilakukan oleh seluruh keluarga. Sangatlah baik kalau semaki banyak keluarga yang tergerak untuk datang bersama.
Jadi kalau mereka tidak datang bersama bagaimana, Romo?
Memang acara ini idealnya diikuti oleh seluruh keluarga. Akan tetapi, kami sadar bahwa tidak setiap keluarga bisa, apalagi kalau mereka sudah dipisahkan karena anak-anak sudah membangun keluarga sendiri di tempat yang jauh; pasangan sudah meninggal dunia, berpisah, atau anak-anak yang tetap tidak mau datang. Mereka masih dapat melakukan aktivitas bersama. Umat yang datang sendiri, misalnya, dapat ikut dikelompok yang sama-sama datang sendirian. Lalu mereka akan melakukan simulasi, seolah-olah dengan keluarganya sendiri, sharing dan pengisian jawaban tetap untuk keluarga mereka tetapi teman kelompok bisa menjadi kawan sharing hasil jawaban itu.
Apakah Romo menganggap pertemuan ini akan berhasil baik?
Kita berharap segala sesuatu yang baik, kan? Hasil positif dan perbaikan tentu dikehendaki, tetapi saya sadar bahwa ini sebuah proses yang barangkali tidak sebentar untuk menciptakan jemaat baru, yaitu yang sadar mengikuti pertemuan-pertemuan bersama seluruh keluarga. Selama ini cara pendalaman iman kurang efektif untuk membawa seluruh keluarga, bahkan para suami pun sangat sedikit mengikutinya di banyak paroki. Maka terobosan baru ini diharapkan dapat menjadi pijakan mengubah paradigma, bahwa pendalaman iman itu cuma untuk kalangan tertentu saja, orang tua, atau bukan untuk orang muda dan membosankan. Acara ini bisa sangat rekreatif dan memberi hasil langsung.
Apakah dengan cara baru ini diperlukan pemandu yang khusus?
Ya, tentu saja pemandu harus memahami dan membaca seluruh buku pemandu lebih dahulu. Mereka bahkan dituntut untuk mengembangkan diri, tidak hanya membaca semua yang dituliskan, tetapi 1/2 hafal memahami isinya. Kemudian selama proses pertemuan, pemandu membawakannya dengan seni, kepekaan dan sekaligus memberi suasana informal dan kekeluargaan yang baik.
Sulitkah itu, Romo?
Tidak sulit, kita hanya perlu semangat baru. Jangan menganggap ini suatu hal yang mustahil. Kita menginginkan Jakarta baru, barangkali ini juga semacam “Jakarta Baru” itu, baru dalam hidup berimannya dalam keluarga..ha ha ha
Apakah Romo ada pesan-pesan khusus untuk umat?
Ya, pesan saya cuma satu, kembalilah ke Nazareth-mu masing-masing. Kita bisa keluar ke manapun dan menjadi besar, terkenal, hebat, kaya, dll, tetapi kalau kita tidak mampu memberikan yang terbaik untuk keluarga, maka kita juga tidak menghasilkan apa-apa yang berarti. Hidup akan semakin melegakan, ketika kita memiliki keluarga yang baik, yang mendukung, yang kita cintai dan mencintai kita. Selamat menjalani masa adven, selamat mempersiapkan bulan keluarga, selamat Kembali Ke Nazareth..!
Salam Keluarga Kudus
http://www.santo-laurensius.org/2012/12/04/bulan-keluarga-tanya-jawab-dengan-rp-alexander-erwin-msf/

Minggu Adven 1 – BERJAGALAH DAN BERDOALAH

Luk. 21:25-28, 34-36
“Akan ada tanda-tanda pada matahari dan bulan dan bintang-bintang, dan di bumi bangsa-bangsa akan takut dan bingung menghadapi deru dan gelora laut. Orang akan mati ketakutan karena kecemasan berhubung dengan segala apa yang menimpa bumi ini, sebab kuasa-kuasa langit akan goncang. Pada waktu itu orang akan melihat Anak Manusia datang dalam awan dengan segala kekuasaan dan kemuliaanNya. Apabila semua itu mulai terjadi, bangkitlah dan angkatlah mukamu, sebab penyelamatmu sudah dekat.” (Luk 21: 25-28).
Beberapa tahun lalu banyak orang mempergunjingkan film yang meramalkan bahwa kiamat akan jatuh pada bulan Desember 2012. Setelah diputarnya film tersebut, kupasan-kupasan ilmiah seputar akan terjadinya fenomena alam pun bertebaran. Akankah kiamat benar terjadi tiga minggu mendatang? Gereja mengajarkan bahwa semua hal tentang akhir zaman merupakan bagian dari misteri Allah yang tak terselami manusia; hanya Allah Bapa yang mengetahuinya. Oleh karena itu, tidak semestinya kita menjadi resah apalagi takut dan bereaksi dengan melakukan tindakan-tindakan yang ekstrem.
Namun demikian, kita memang selalu digugah untuk selalu tanggap akan banyaknya persoalan hidup baik yang bersifat individual maupun sosial sebagai akibat dari perilaku yang tidak beres. Perilaku yang tidak beres itu kebanyakan bersumber dari pikiran dan sikap yang tidak bersih dan bijaksana karena jauh dari Sumber Kehidupan yang sejati.  Beberapa minggu terakhir ini media sering memberi contoh kenyataan ini dengan menunjukkan sungai yang dipenuhi sampah, bahkan ditampilkan pula Kali Sunter yang airnya tidak tampak karena di permukaan penuh sampah termasuk lemari dan kasur. Perilaku sembarangan, tidak peduli, menganggap remeh, mengandalkan orang lain, dan aneka kebiasaan buruk lainnya membuat orang membuang sampah ke sungai sehingga sungai menjadi tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Akibat yang bakal terjadi sangat banyak: banjir, bau busuk, sarang penyakit, pencemaran lingkungan, dan sebagainya.
Sikap dan perilaku buruk tidak hanya terkait dengan membuang sampah saja tetapi juga dalam memperlakukan hidup. Banyak orang dengan senang hati menumpuk “sampah” dalam dirinya; akibatnya hidup menjadi tidak beres dan berpengaruh buruk dalam relasi dengan sesama. Allah Bapa prihatin terhadap manusia yang adalah CitraNya sendiri tetapi tidak berkembang dalam kepenuhan, maka PutraNya yang diutus untuk hadir di tengah kehidupan ini hendaknya menggugah kita untuk makin menyadari perlunya membenahi  diri supaya hidup makin segar, mencapai kepenuhan, dan menebarkan pengaruh positif dalam relasi dengan sesama dan lingkungan.
Karena itulah, di tengah kerumitan hidup yang membuat banyak orang terperangkap oleh kebiasaan buruk untuk membuka diri supaya bisa melihat terang dan mampu menyelaraskan hidup dengan kehendakNya: “Jagalan dirimu, supaya hatimu jangan sarat oleh pesta pora dan kemabukan serta kepentingan-kepentingan duniawi dan supaya hari Tuhan jangan dengan tiba-tiba jatuh ke atas dirimu seperti jerat. Sebab itu ia akan menimpa semua penduduk bumi ini. Berjaga-jagalah senantiasa sambil berdoa, supaya kamu beroleh kekuatan untuk luput dari semua yang akan terjadi itu, dan supaya kamu tahan berdiri di hadapan Anak Manusia.” (Luk 21: 34-36) [abw].
http://www.santo-laurensius.org/2012/12/02/minggu-adven-1-berjagalah-dan-berdoalah/

INFORMASI PAROKI & KEGIATAN PAROKI - 23/09/2018

INFORMASI PAROKI & KEGIATAN PAROKI MISA REMAJA 30 SEPTEMBER 2018. Seluruh remaja usia BIR(10- 15th) diundang hadir untuk menghadiri Misa...