Showing posts with label ordo sanctae crucis. Show all posts
Showing posts with label ordo sanctae crucis. Show all posts

Sunday, January 15, 2017

Mengenal Uskup Bandung, Mgr Antonius Subianto Bunjamin OSC

UT DILIGATIS INVICEM
Kasihilah Seorang Akan Yang Lain
(Motto Penggembalaan Uskup Bandung)
Senja itu, 25 Agustus 2014, jalanan di seputar Kampus ITB - Bandung sangat padat, entah berapa ratus kendaraan masuk ke komplek Kampus, tepatnya ke Sasana Budaya Ganesha ITB guna menghadiri Misa Tahbisan Uskup Bandung, Mgr Antonius Subianto Bunjamin OSC
Pada tahun 2003 seorang ibu memohon kepada Mgr Alexander Djajasiswaja, Uskup Bandung, “Bapak Uskup, tolong doakan anak saya supaya bisa jadi Uskup seperti Bapak Uskup”. Sebelas tahun kemudian anak tersebut ditahbiskan menjadi Uskup Bandung, dengan Penahbis Utama Mgr Ignatius Suharyo, Penahbis 1 Mgr Johannes Pujasumarta dan Penahbis 2 Mgr Paskalis Bruno Syukur OFM
Sang Gembala dari Cicadas
Di sebuah Rumah Sakit di Cicadas - Bandung pada tanggal 14 Februari 1968 terdengarlah tangis bayi yang baru lahir yang disambut dengan suka cita oleh kedua orang tuanya Mathias Bunjamin dan Agnes Eniwaty. Sang jabang bayi diberi nama Antonius Subianto Bunjamin yang mempunyai arti Anak Yang Berbudi (Dari arti nama Subianto)
Anton merasakan benar bagaimana kedua orang tuanya mengasihi anak-anaknya, demikan juga mereka satu dengan yang lain walaupun hidup mereka penuh dengan kesederhanaan. Pada suatu hari mama Agnes mengatakan kepada anak-anaknya, “Mama ingin dari antara anak mama ada yang menjadi imam. Mama akan berdoa terus untuk niat mama ini”. Mama Agnes yang rajin ke gereja setiap pagi sangat serius dalam keinginannya dengan selalu berdoa.
Anton dengan setia menemani mama Agnes pergi ke gereja setiap pagi dan kebetulan Anton kecil adalah Putra Altar yang nyaris bertugas setiap pagi. Anton juga sangat terkesan pada rajinnya Papa Mathias yang setiap pagi berdoa di depan patung Bunda Maria. Semua ini rupanya menanamkan bibit pelayanan kepada Allah dalam diri Anton.
Ketika Anton duduk di kelas 3 SMP pastor Agustinus Made OSC, pastor Paroki Santa Odilia, menawarkan sesuatu yang ternyata menjadi awal perjalanan imamatnya. “Anton, apakah kamu mau masuk Seminari Menengah Mertoyudan ?” mendengar Mertoyudan, tanpa berpikir panjang, Anton remaja langsung mengiyakan.
Walaupun sang mama berkeinginan kuat agar anaknya menjadi imam, diluar dugaan justru melarangnya “Mama takut kamu nanti keluar sebelum selesai sekolah, malu !” Selang seminggu kemudian Anton memberanikan diri untuk meminta persetujuan kedua orang tuanya pada formulir Mertoyudan. Disitulah mama Agnes terharu karena doanya terkabul, dengan modal doa restu kedua orang tua dan keluarga dengan langkah mantab Anton remaja mencapai Seminari Menengah Mertoyudan.
Anton masuk Biara Novisiat OSC pada tanggal 18 Juli 1988. Setelah melalui tempaan pendidikan sebagai calon imam akhirnya Frater Anton mengucapkan kaul kekal pada tanggal 28 Agustus 1994 dan ditahbiskan sebagai imam pada tanggal 26 Juni 1996 di Paroki St Laurensius - Sukajadi Bandung oleh Mgr Alexander Djajasiswaja (alm)
UBI ERGO SUM, IBI DEO SERVIO
Dimana Saya Berada, Disitu Saya Mengabdi Tuhan
(Motto penyemangat panggilan Pastor Anton)
Disamping sebagai imam, Pastor Anton juga memberikan pelayanan sebagai dosen dan karena dianggap mampu oleh pimpinan maka ia dikirim untuk kuliah Lisensiat Filsafat di Universiteit Katholieke Leuven - Belgia pada tahun 1996 - 1998. Tidak hanya sampai disitu, pada tahun 2004 - 2007 Pastor Anton menyelesaikan Doktor Filsafat di Pontificia Universita Lateranense - Roma
Disamping menjabat sebagai Prior Provinsial OSC, Pastor Anton masih disibukan sebagai Sekretaris Yayasan dan Direktur Eksekutif Yayasan Salib Suci yang mempunyai 69 sekolah di wilayah Keuskupan Bandung, Sekretaris Dewan Pembina Yayasan Universitas Katolik Parahyangan dan baru saja terpilih sebagai Pengawas APTIK (2014 - 2017)
Kesibukan yang luar biasa tersebut tidak mengurangi Pastor Anton, sebagai Prior Provinsial OSC, untuk mengenal pribadi-pribadi imam OSC yang dipimpinnya, dengan semisal sedapat mungkin mengunjungi atau menyapa para imam yang berulang tahun atau sedang mengalami duka dengan meninggalnya keluarga dekatnya.
Saat mengunjungi para imam OSC di Sumatera Utara, Pastor Anton dipanggil oleh Nuntius, Mgr Antonio Guido Fillipazzi, sebagai wakil Paus Fransiskus untuk menghadap. Pastor Anton yang senantiasa berpikir positif tidak menduga apapun terhadap panggilan tersebut.
Tanggal 24 Mei 2014 seusai bertugas di Sumatera Utara, dengan masih menyandang ransel dan kelelahan yang menghampiri tubuhnya, ia pun memenuhi undangan panggilan tersebut.
Setelah sapa ramah dan saling bertanya kabar, Nuntius pun mengungkapkan maksud undangannya “Pastor Anton, Bapa Suci memilih anda sebagai Uskup Bandung”
Pastor Anton langsung terdiam, tidak tahu harus berkata apa. Dalam diamnya ia teringat pada sebuah artikel Evangelii Gaudium dari Paus Fransiskus yang baru saja dibaca di pesawat. maka ia pun langsung berkata ...
“Yang Mulia, saya ini pelayan Gereja, kapanpun Gereja membutuhkan saya, saya siap melayani. Apapun yang Bapa Paus minta, saya akan melakukannya”
Disarikan dari : Buku Kenangan Tahbisan Uskup Bandung  

http://www.santo-laurensius.org/2014/10/02/mengenal-uskup-bandung-mgr-antonius-subianto-bunjamin-osc/

Friday, January 13, 2017

Ordo Sanctae Crucis (OSC) – Sejarah


Menyambut Pesta Salib Suci pada 14 September 2012, kami muat tentang sejarah Ordo Sanctae Crucis (OSC) 

Pengantar

Ordo Sanctae Crucis (OSC), biasa disebut Ordo Salib Suci adalah kelompok para imam dan bruder yang mempunyai semangat hidup bersama berdasarkan regula Santo Agustinus. Sejarah perkembangan ordo ini cukup unik. OSC termasuk ordo tua, tetapi dengan jumlah anggota yang sedikit. Bahkan dalam perkembangannya, OSC pernah hanya beranggotakan empat orang saja. Daerah missi OSC meliputi Brasilia, Amerika Serikat, Indonesia, dan Kongo. Tentu saja, OSC berada di Eropa, karena berawal di sana.

Asal-Mula

Ordo Sanctae Crucis didirikan oleh Theodorus de Celles. Ia berasal dari keluarga bangsawan dan lahir pada 1166 di kota Celles, Belgia. Pada tahun 1189 ia ikut perang salib yang ketiga.. Pada 1191 ia diangkat menjadi kanonik di Katedral St. Lambertus di kota Luik.
Sampai permulaan abad ke-13 di Belanda dan Belgia berkembang suatu gerakan kesalehan. Orang yang termasyur dalam gerakan ini adalah Maria de Oignies. Dari dialah Theodorus mendapatkan bimbingan rohani. Lalu pada 1210 bersama empat orang temannya ia menyendiri ke bukit Clair Lieu di kota Huy, dekat kapel St. Teobald untuk hidup bersama menurut regula St. Agustinus. Dari kelompok inilah lahir Ordo Salib Suci.
Tugas utama kelompok ini adalah berkotbah guna mengajak orang ikut serta dalam perang-perang salib dan membela iman yang benar. Mereka mempunyai rumah-rumah peristirahatan untuk menampung dan memelihara iman peserta perang salib dan para peziarah. Theodorus meninggal pada 1236 di kota Huy.

Perkembangan

Dokumen yang berjudul “Religiosam Vitam” tertanggal 1 Oktober 1248 dari Paus Inosensius IV berisi pengesahan Ordo Salib Suci, sebagai ordo kanonik regulir. Anggota ordo ini adalah kelompok iman yang tugas utamanya merayakan liturgi. Ciri khasnya adalah stabilitas loci: keterikatan pada biara tertentu, dan vita apostolica: milik bersama dan pemeliharaan pastoral umat beriman setempat.
Pada 1287, Yoanes Novelan de Eppa, seorang bruder biara Salib Suci di Paris mendapat suatu penglihatan. Terdorong oleh penglihatan ini ia menuju ke Köln untuk mencari relikwi-relikwi Santa Odilia. Setelah ditemukan, relikwi-relikwi Santa Odilia itu secara meriah dipindahkan ke biara induk Huy. Dan sejak zaman itu, Santa Odilia dihormati sebagai pelindung Ordo Salib Suci.
Antara 1248-1410 ordo berkembang dan biara-biaranya tersebar di dataran Eropa Barat. Namun sejak pertengahan abad ke-14 anggota Ordo mulai mengalami kemerosotan rohani dan jatuh dalam keduniawian.

Pembaharuan

Kapitel General pada 1410 berusaha mengadakan pembaharuan di dalam ordo dengan memulihkan kembali disiplin biara. Tindakan drastis yang diambil adalah dengan memusnahkan semua keputusan-keputusan general sebelum-sebelumnya. Sejak tahun ini pula kapitel general diadakan setahun sekali dan sungguh membantu dalam persoalan pembaharuan. Empat unsur disiplin utama membiara dihidupkan kembali yaitu: pemulihan hidup bersama dengan menitikberatkan kaul kemiskinan, mentaati hukum pantang dan puasa dengan seksama, memperhatikan silensium di dalam biara, dan memakai bentuk jubah seperti ditentukan dalam statuta.
Pembaharuan ditunjang pula dengan munculnya renaissance. Semangat renaissance merambah dan mempengaruhi segala bidang kehidupan di seluruh Eropa Barat. Inti dari renaissance ini ialah menemukan kembali kebudayaan dan dunia Yunani dan Romawi Kuno. Dalam masa ini banyak anggota ordo mulai menapaki kesenangan baru dengan menyalin karangan-karangan klasik dan kristiani d zaman kuno, Karya ini oleh para anggota ordo sebagai bentuk askese dan sumber inspirasi demi pendalaman hidup membiara. Pada zaman ini pula mutu studi teologi di dalam ordo mulai ditingkatkan.

Zaman Reformasi – Revolusi Perancis

Pada waktu Martin Luther mengobarkan reformasi di negeri Jerman, banyak anggota biara yang keluar. Tetapi justru para anggota Ordo Salib Suci tetap setia kepada hidup religius. Hal ini dampak dari pembaharuan sejak 1410. Bahkan kapitel general 1524 menolak ajaran Luther dan melarang anggota membaca karangan-karangannya.
Keadaan buruk terjadi akibat perkembangan politik di Eropa Barat. Sekularisasi terjadi di mana-mana. Dampaknya pada penglikuidasiannya milik gereja oleh negara. Semua biara-biara dibubarkan. Hal ini terutama pada saat terjadi revolusi Perancis. Gedung gereja di bakar dan biara-biara dibongkar.

Abad 19

Sejak 1786 Ordo Salib Suci tidak pernah lagi menyelenggarakan kapitel general. Hal ini berdampak pada penerimaan para calon anggota ordo. Pada tahun 1812 masing-masing biara OSC hanya dihuni oleh sepuluh anggota saja. Dan yang sangat tragis, pada 28 November 1840 Raja Willem II memaklumkan penghapusan keputusan pelarangan penerimaan calon anggota ordo, pada saat itu anggota Ordo Salib Suci hanya berjumlah empat orang saja yang sudah berusia lanjut.

Abad 20

Tahun 1910 Ordo mulai bermisi. Dimulai pada 1922 di Onamia, Amerika, Pada 1926 karya di Kongo, Afrika pun dimulai. Pada 1926 karya di Jawa Barat, Indonesia juga dimulai dan pada 1964 dibuka daerah misi untuk Brasilia.

Di Indonesia

Karya misi di Indonesia dimulai pada 9 Februari 1927 dengan Yakobus Goumans, Marinus Nillesen, dan Yoane de Rooy yang merintis. Perhatian utama misi di Jawa Barat adalah orang-orang pribumi. Maka, dipilihlah Cicadas sebagai pusat karya missi ini. Di sini dibangun gereja, sekolah, poliklinik, dan panti asuhan.
Karya misi berkembang terus menyusuri daerah Majalengka, Ciledug, Cicalengka, Garut, Subang, Karawang, Dan Tasikmalaya. Namun, pada waktu pendudukan Jepang banyak pastor yang masuk kamp. Ini berdampak pada karya pelayanan pastoral. Untung, banyak tenaga imam muda dari Belanda. Merekalah yang kembali membangun daerah misi di Indonesia. Pada 1955 didirikanlah Universitas Katolik Parahyangan.
Tahun 1964 dimulai babak baru dalam karya misi di Bandung. Terjadi pertobatan massal orang-orang sunda yang mengikuti aliran kebatinan Agama Djawa Sunda (ADS). Hal ini yang menandakan keberhasilan karya missi OSC di tataran priangan ini.
Dengan semakin berkembangnya zaman, maka berkembang pula kebutuhan. Maka mulailah didirkan seminari menengah di Cicadas. Pada periode berikutnya, dibentuk seminari tinggi. Dan pada tahun 1957, OSC di Indonesia mulai membuka novisiat yang pertama di Biara Pandu. Tahun 1962, Bandung dijadikan propropinsi. Pada 1967 dirintislah pendirian Institut Filsafat dan Teologi di Jl. Nias. Pada 20 Juli 1977 Bandung menjadi Provinsi baru dengan nama Provinsi Sang Kristus.
http://www.santo-laurensius.org/2012/09/14/ordo-sanctae-crucis-osc-sejarah/
file: 14 September 2012

INFORMASI PAROKI & KEGIATAN PAROKI - 23/09/2018

INFORMASI PAROKI & KEGIATAN PAROKI MISA REMAJA 30 SEPTEMBER 2018. Seluruh remaja usia BIR(10- 15th) diundang hadir untuk menghadiri Misa...