Showing posts with label paus fransiskus. Show all posts
Showing posts with label paus fransiskus. Show all posts

Sunday, January 15, 2017

SINODE TENTANG KELUARGA 2014 TEMA HANGAT TELAH DIBAHAS DI VATIKAN

"Kami menerima baik pasangan homoseksual, tetapi tidak memberkati jenis kohabitasi ini. Kami juga tidak memandang kohabitasi mereka sebagai suatu pernikahan atau keluarga".
10 Oktober 2014.
Padre Lombardi, Juru bicara Vatikan, menjelaskan kepada para wartawan pada hari ini, 10 Okt, bahwa para Bapa Sinode telah memasuki tema-tema hangat yang dijadwalkan dalam Instrumentum laboris. Dalam konferensi pers ini hadir pula Kardinal Francesco Coccopalmerio dan Mgr. Paul-André Durocher.
Namun demikian tidak ada hal-hal yang mengejutkan atau mengguncangkan terjadi di dalam Aula Vatikan, khususnya perihal tema-tema hangat seperti akses kepada sakramen-sakramen bagi mereka yang berada dalam situasi 'belum teratur', yang dijadikan oleh media internasional sebagai tema terpenting dalam Sinode 2014.
Kardinal Coccopalmerio menjelaskan bahwa di dalam iklim yang bebas dan terbuka yang diharapkan oleh Paus Fransiskus pada awal pertemuan, "telah banyak dinyatakan pengakuan-pengakuan, kesaksian-kesaksian....satu per satu mengatakan pemikiran mereka dengan semangat. Diantara dua posisi yang ada: kesetiaan kepada doktrin dan pernikahan yang tak terpatahkan di satu sisi, dan di sisi lain sebuah pendekatan pastoral yang penuh belas-kasih; tidak ada antagonisme, pertentangan permusuhan, tetapi saling mendengarkan dengan perhatian, dengan kerendahan hati dan kejujuran.
Hermeneutik, intinya, telah diindikasikan oleh Paus Bergoglio, yaitu: menyelamatkan doktrin, namun dimulai dari individu-individu, dari apa yang mereka butuhkan, dari penderitaan mereka, dari keperluan mendesak mereka. Kata Kard. Coccopalmerio, para Bapa Sinode dihadapkan pada interogasi yang disampaikan oleh Kristus dua ribu tahun yang lalu: "Ketika dombamu jatuh atau anakmu jatuh ke dalam sumur pada hari Sabtu, apa yang akan kau lakukan? Hukum Sabat berlaku, saya menghormatinya, tetapi ada kasus-kasus yang mengharuskan intervensi saya. Ada orang-orang yang memerlukan bantuan saya". Oleh sebab itu, kata kardinal, jawaban harus diberikan kepada "orang-orang yang sungguh-sungguh berada dalam kondisi yang parah dan mendesak". 
Diantara argumentasi yang ada dalam konferensi pers juga ada tema kemungkinan perceraian yang dibolehkan dalam Gereja Ortodoks. Kard. Coccopalmerio menyatakan: "Memang tema itu sering kali dibahas. Masalahnya adalah memahami apa yang terjadi di dalam Gereja Timur. Hanya pernikahan yang pertama adalah pernikahan yang sesungguhnya, Mysterion, kohabitasi lainnya diterima, didampingi dengan pemberkatan demi perdamaian diantara individu-individu bersangkutan, tetapi tidak dianggap sebagai pernikahan yang sesungguhnya". 
Jarang dibicarakan sebaliknya perihal kohabitasi homoseksual, selain daripada sebuah "langkah pastoral untuk mendengarkan mereka dan menerima mereka dengan baik", yang juga diharapkan bagi semua situasi-situasi yang 'sulit'. Di mana diminta "sebuah gaya bahasa yang lebih menghormati", para Bapa Sinode meski demikian telah mengulang pernyataan bahwa "pernikahan adalah antara seorang pria dan seorang wanita". Dan ketika ditanya apakah Gereja selain menerima dengan baik para pasangan homoseksual dapat juga memberkati  mereka, Kard. Coccopalmerio menjawab dengan tegas: "Bagi kami - atas dasar sifat manusia pada umumnya - pernikahan adalah hanya antara seorang pria dan seorang wanita. Kami tidak menghakimi mereka, kami menerima baik para pasangan homoseksual, tetapi untuk memberkati jenis persatuan ini, jelas tidak! Kami juga tidak memandang persatuan mereka sebagai suatu pernikahan atau sebuah keluarga". 
(Oleh: Shirley Hadisandjaja / disadur dari Tempi, 10 Okt 2014).

http://www.santo-laurensius.org/2014/10/10/sinode-tentang-keluarga-2014-tema-hangat-telah-dibahas-di-vatikan/

Surat Ajakan Bapa Suci untuk Suriah

Dari: Setjen KWI Tanggal: 3 September 2013 15.19 Subjek: Surat Ajakan Bapa Suci untuk Suriah
Kepada Yth. Para Bapak Uskup Di tempat
Surat bernomor: N.1025/13/I, tertanggal 3 September 2013 yang ditandatangani oleh Apotolic Nuncio Archbishop Antonio Filipazzi, meneruskan seruan keprihatinan Bapa Suci Fransiskus terhadap kondisi perdamaian di Siria yang tercabik dan perdamaian dunia pada umumnya yang juga terluka.
Menanggapi situasi keprihatinan itu, Bapa Suci mengajak umat Katolik di seluruh dunia untuk bersatu dalam doa yang disertai pantang dan puasa sehari pada tanggal 7 September 2013.
Atas tuntutan perdamaian ini, Paus Fransiskus ingin memberikan ciri khas ke-Maria-an pada tanggal 7 September tersebut - yaitu dari pukul 19.00 sampai pukul 24.00 (waktu setempat) di Lapangan Santo Petrus akan ada sebuah acara doa dan dalam semangat berpantang dan berpuasa. Beliau memilih hari tersebut karena hari itu adalah “malam dari perayaan Kelahiran Maria, Ratu Damai”.
Bapa Suci menegaskan bahwa “penggunaan kekerasan tidak akan pernah membawa perdamaian. Perang akan memanggil perang, kekerasan akan memanggil kekerasan. Dengan segenap kekuatanku, aku meminta kepada semua pihak yang terlibat di dalam konflik untuk mendengarkan suara dari hati masing-masing, untuk tidak menutup diri demi kepentingan sendiri tetapi memandang orang lain sebagai saudara dan melaksanakan dengan keberanian serta keyakinan jalan dari pertemuan dan negosiasi dengan mengatasi pertentangan yang membutakan” (dari seruan Bapa Suci waktu mengumumkan hari doa dengan pantang dan puasa pada 1 September 2013 yang lalu).
Seperti yang disarankan oleh Bapa Suci, kiranya para Bapak Uskup berkenan mendorong dan mengajak seluruh umat, dan sangat diharapkan dalam kerjasama lintas agama dan keyakinan, untuk berdoa, berpantang, dan berpuasa bagi perdamaian di Siria dan di seluruh muka bumi.
Jakarta, 3 September 2013
YR. Edy Purwanto Pr Sekretaris Eksekutif
http://www.santo-laurensius.org/2013/09/03/surat-ajakan-bapa-suci-untuk-suriah/

Saturday, January 14, 2017

KISAH PERJALANAN PANGGILAN PAUS FRANSISKUS

Dalam mengikuti berita Bapa Suci Francisco saya membaca buku Sergio Rubín, El Jesuita. Conversaciones con el cardenal Jorge Borgoglio S. J.,  Buenos Aires, 2010. Ini saya ceritakan ulang sepotong kisah perjalanan panggilan beliau. (Saya ambil dari bab bab IV,  “La primavera de la fe” – “mangsa tuwuh semining pengandel” – saat tumbuhnya iman – hlm. 45-50).
Ketika itu beliau berusia 17 tahun. Ini usia para pelajar untuk merayakan bersama teman-temannya hari mahasiswa. Beliau juga ada rencana merayakan hari tersebut bersama teman-teman dan akan bertemu di stasiun. Tetapi sebelumnya dia mampir di gereja paroki dan bertemu dengan seorang pastor yang tidak dia kenal sebelumnya. Dia memang sering ke Gereja paroki tersebut. Dirasakannya suasana rohani dalam perjumpaan itu dan selanjutnya beliau terdorong untuk mengaku dosa. Dia sendiri terkejut mengalami hal tersebut dan akhirnya bukan sebuah pengakuan, kecuali mengaku bahwa imannya hampir luntur. Tetapi saat itu pula dia merasakan panggilan religius dan memutuskan untuk tidak pergi ke stasiun kereta bertemu teman-temannya. Beliau memilih pulang dengan keyakinan: saya mau menjadi imam.
 “Pengalaman pengakuan ini itu rasanya aneh. Saya tidak tahu mengapa dan bagaimana, tetapi itulah yang terjadi”, demikian mencoba memahami dan menjelaskan. Digambarkan pengalaman tersebut sebagai pengalaman keterkejutan dan sangat mengagetkan seperti orang  pingsan ketemu seseorang yang di sana seseorang itu sedang menantinya. Selanjutnya diakui bahwa dalam pengalaman macam ini Tuhan selalu yang pertama beraksi. Menanggapi pengalaman tersebut beliau tidak langsung masuk ke Seminari. Dibiarkan tersembunyi dan mengalami kesunyian pasif memelihara keinginannya. Beliau melanjutkan dengan bekerja di laboratorium penelitian makanan. Kisah panggilannya seakan berhenti di situ. Tidak bercerita kepada siapapun. Di sini beliau merasa belajar hidup sunyi memelihara gerakan hati. Dan akhirnya empat tahun kemudian, ketika berusia 21 tahun masuk Seminari.
Saat ditanyakan mengapa beliau masuk Jesuit, beliau mengingat bahwa pada mulanya orientasi panggilan religius belum jelas. Lalu masuk seminari keuskupan dan baru setelah itu bergabung dengan Serikat Yesus. Hal yang menarik dari Serikat menurut beliau waktu itu adalah keberadaannya sebagai kekuatan Gereja, berbahasa dalam gaya militer serta berkembang oleh ketaatan dan disiplin. Beliau juga tertarik menjadi misionaris di Jepang, tetapi karena kondisi kesehatan buruk sejak muda tidak memungkinkan menjadi misionaris.
Mengenai tanggapan keluarga dikisahkan bahwa ayahnya berpendapat positif dan gembira. Hanya ada komentar dengan menanyakan apakah sudah benar-benar mantab keputusannya. Berbeda tanggapan sang ibu. Ibu berkata, “Saya tidak tahu. Saya tidak melihat itu. Kamu itu sulung. Mesti terus bekerja. Menyelesaikan perguruan tinggi”. Beliau memahami reaksi kedua orang tuanya. Menurut beliau sang ayah memiliki tradisi kerohanian yang kuat dari ibunya (mbah puteri Bapa Suci) dan hidup dengan gembira meski dalam kesulitan. Sementara dalam hal ini ibu lebih merasa kehilangan. Karena itu ketika masuk Seminari sang ibu tidak mau menemani, tidak ikut pergi. Selama beberapa tahun sang ibu tidak menerima keputusan Jorge. Tetapi diitambahkan oleh beliau bahwa hal itu tidak berarti ada pertengkaran dengan ibu. Cuma ibunya tidak ikut pergi ke Seminari. Dirasakan saat akhirnya menerima keputusan pun masih terasa ada jarak. Sikap ibu dirasakan berubah saat di Novisiat. Sang ibu mengunjungi Jorge, anaknya. Menurut beliau sebenarnya ibu katolik tulen. Beliau ingat dan sangat terkesan bahwa ketika tahbisan ibunya berlutut meminta berkat. (Di si ni Sergio Rubín, pewancara menambahkan, “Seakan dia bukan miliknya lagi).
Tentang panggilannya beliau juga bercerita kepada neneknya. Komentar nenekan, “Itu panggilan Tuhan. Tuham memberkati”. Lanjutnya, “Tetapi jangan lupa, pintu rumah tetap terbuka, dan kalau memutuskan pulang tak seorangpun akan mengejekmu”. Beliau merasakan sikap nenek tersebut ternyata mempengaruhi cara beliau bersikap terhadap orang yang memiliki pengalaman rohani dan panggilan religius.
Ada jarak empat tahun antara suara yang memanggil dari dalam dan peristiwa masuk Seminari. Beliau sendiri mengakui bahwa meskipun berasal dari keluarganya katolik tulen (practicante) pikirannya tidak hanya terpaku pada panggilan religius. Beliau juga merasakan kegelisahan politik meski tidak sampai mengisi seluruh pikirannya. Beliau membaca buku keluargan partai komunis, Nuestra palabra y propósitos. Menyukai artikel-artikel dalam buku tersebut  dan bacaan tersebut mengingatkan dirinya akan budayawan Argentina Leónidas Barletta yang mempengaruhi pandangan politiknya. Tetapi beliau tidak pernah menjadi anggota partai komunis.
Masih mengenai riwayat panggilan, ditanyakan juga hal mengenai sejauh mana panggilan itu merupakan keputusan pribadi dan pilihan Tuhan. Menurut beliau panggilan religius merupakan panggilan Tuhan bagi hati yang sedang menanti entah sadar atau tidak.  Dalam hal ini beliau selalu terkesan oleh bacaan brevir tentang panggilan Mateus. Dikatakan bahwa Yesus memandang Mateus dengan suatu sikap yang bisa diterjemahkan “dengan belas kasih – dengan mengasihi dan memilih” (misericordiendo y elegiendo). Ungakapan ini beliau pilih untuk tema tahbisan uskup. Disadarinya itulah pengalaman Tuhan memandanginya dalam pengalaman pengakuan di usia 17 tahun. “Ini pula cara yang Tuhan minta kepada saya, yaitu supaya memandang orang lain dengan penuh kasih dan seakan-akan saya sedang memilih orang-orang untuk Tuhan sendiri. Dan ini tidak mengecualikan siapa pun karena semua dipilih untuk dikasihi Tuhan. Beliau menegaskan bahwa hal itu kunci pengalaman rohaninya”.
Tentang panggilan, beliau juga menggaris bawahi Tuhan sebagai yang pertama memulai. Dengan merujuk ke Yeremia (bab 1) dan Yohanes (1Yohanes 4:10) beliau menjelaskan bahwa Allah selalu bertindak lebih dulu; Allah lebih dulu mencintai. Menurut beliau pengalaman rohani tanpa rasa tersentuh, terkejut bahkan hampir pingsang, tanpa kasih menjadi dingin dan tidak menggerakkan diri kita untuk melibatinya secara total. Pengalaman rohani macam ini menjadi mengalaman rohani yang berjarak serta tidak membawa ke wilayah Tuhan. Ditegaskan bahwa kita semua sepakat tentang sulitnya masuk ke wilayah transcenden oleh karena hidup yang bikin pusing, perubahan begitu cepat dan kurang memandang dalam perspektif jangka panjang. Karena itu bagaimana pun juga pengalaman rohani untuk undur diri itu penting. Beliau terkesan oleh komentar Ricardo Gϋiraldes dalamDon Segundo Sombra bahwa hidupnya ditandai oleh air. Saat dirinya sebagai anak muda, di aliran sungai melompat dari batu ke batu; saat menjadi dewasa, di air dengan tekanan deras dan ketika tua, perlu banyak undur diri.
Ketika ditanyakan maksud undur diri dan bagaimana dibangun, beliau menunjuk retret. Retret merupakan undur diri yang dirancang dan di sana ritme harian dibuat berhenti lalu ada kesempatan berdoa. Tetapi, lanjutnya, bukan model retret mendengarkan kaset untuk mencari stimulasi supaya bisa memperoleh jawaban-jawaban sesaat.  Model seperti ini tidak banyak bermanfaat untuk menenangkan dan menjernihkan batin. Menurut beliau perjumpaan dengan Tuhan mesti muncul dari dalam. Menempatkan di hadirat Tuhan dengan bantuan Kitab Suci dan  berjalan maju mengikuti yang Tuhan kehendaki. Yang ada di balik ini adalah pertanyaan mengenai doa yang mesti didekati dengan jiwa besar.
Pertanyaan mengenai penyebab kurangnya waktu undur diri apakah kekurangan waktu atau orang mulai tidak menyadari kebutuhan rohani ditanggapi dengan menunjuk yang kedua. Melunturnya kesadaran akan kebutuhan rohani. Ditegaskan bahwa kita sering kurang menyadari kebutuhan akan hal yang rohani ibaratnya hingga akhirnya menginjak kulit pisang bosok dan terpeleset jatuh.
Salam dan saling doa. Mari kita terus mendukung Bapa Suci dengan doa-doa dan membuka diri terhadap inspirasi serta teladan-teladannya.
Leo Sardi sj – di Spanyol
Tulisan ini dikirim oleh Bapak Uskup Mgr J Sunarka Sj

http://www.santo-laurensius.org/2013/04/12/kisah-perjalanan-panggilan-paus-fransiskus/

Pertemuan Bersaudara Paus Fransiskus dan Benediktus XVI

Teman-teman.
Pertama-tama: Terpujilah Allah Tritunggal Maha Kudus!
Melanjutkan apa yang sudah saya beritakan sebelumnya, berikut saya informasikan pertemuan bersejarah antara Paus Fransiskus dan Benediktus XVI.
Baru saja Juru bicara Vatikan, Padre Federico Lombardi SJ, memberikan keterangan bahwa setelah Paus Fransiskus tiba di heliport di Castel Gandolfo, Benediktus XVI dengan tokat yang menyanggah kakinya sudah menantikan Paus baru itu, dan pada saat Paus Fransiskus turun dari helikopter, Benediktus XVI menyalami dirinya dan keduanya saling berpelukan. Suatu momen yang menggembirakan dan mengharukan….
Setelah itu, mereka bersama naik mobil kepausan menuju Istana Apostolik.
Pada saat mereka tiba di Istana Apostolik, mereka langsung menuju Kapel Pribadi di sana untuk berdoa bersama. Ada hal yang sangat menarik untuk diperhatikan di sini, karena saat Benediktus XVI menunjukkan kepada Fransiskus di mana dapat berdoa, dan dia hendak menunggu saja menunjukkan penghormatannya kepada Paus yang baru, justru Paus Fransiskus memegang tangan Benediktus XVI dan mengajaknya berdoa bersama dia. Sehingga keduanya berdoa bersama berdampingan di hadapan Ikon Maria.
Setelah berdoa bersama, Paus Fransiskus memberikan sebuah hadiah kepada Benediktus XVI berupa sebuah ikon Maria bernama Maria Bunda Rendah Hati (Madonna dell’ Umiltà). Fransiskus berkata kepada pendahulunya bahwa ketika ia mengetahui nama dari ikon tersebut, pikirannya langsung tertuju kepada Benediktus yang katanya telah memberikan kepada kita contoh kerendahan hati dan kelembutan selama masa kepausannya selama 8 tahun ini.
Saat itu, Benediktus segera menyambut dan merangkul tangan Fransiskus mengucapan terima kasih kepadanya.
Kemudian mereka mulai mengadakan percakapan pribadi dan dilanjutkan dengan acara makan bersama yang dihadiri oleh kedua Sekretaris Fransiskus dan Benediktus.
Juru bicara Vatikan mengatakan kepada kita bahwa Paus Fransiskus telah menunjukkan devosi Fransiskus kepada Benediktus XVI setelah 2 kali menelpon dirinya di Castel Gandolfo, yaitu pada saat setelah terpilih dan pada hari Pesta Santo Yosef.
Setelah acara pertemuan bersejarah dan mengharukan itu selesai, Paus Fransiskus dijadwalkan kembali ke Vatikan dengan helikopter dan Benediktus XVI akan kembali mendampingi dirinya menuju helikopter.
Terlampir saya sertakan pula beberapa foto hasil pertemuan kedua Paus kita tercinta, yang satu Paus bertugas, yang satu lagi Paus emeritus. Keduanya akan memimpin Gereja dan kita semua, yang satu dengan karya pastoral, yang satu lagi dengan doa-doanya.
Tiada kata lain yang dapat terucapkan di dalam hati, hanya: Terpujilah Allah Tritunggal.
(Shirley Hadisandjaja – Italia)
http://www.santo-laurensius.org/2013/03/23/pertemuan-bersaudara-paus-fransiskus-dan-benediktus-xvi/

Homili Paus Fransiskus saat Misa Inagurasi

Saya berterimakasih kepada Tuhan karena dapat merayakan misa untuk mengawali masa pontifikat saya pada pesta Santo Yosep, suami Perawan Maria dan pelindung Gereja Universal. Adalah sebuah kebetulan yang kaya makna, dan juga pesta nama dari Pendahulu saya yang terhormat: kami dekat dalam doa, penuh afeksi dan syukur.
Saya sampaikan salam hangat kepada saudara-saudara Kardinal dan para uskup, para imam dan para diakon, para religius dan semua awam. Saya sampaikan terimakasih atas kehadiran dari para wakil dari Gereja-Gereja yang lain dan komunitas-komunitas eklesial, juga perwakilan dari komunitas Yahudi dan dari komunitas-komunitas religius lain. Salam hangat saya juga kepada para pemimpin negara dan pemerintahan, kepada delegat resmi dari banyak negara di dunia dan juga Korps Diplomatik.
Di dalam Injil kita mendengar bahwa “Yosep berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan itu kepadanya. Ia mengambil Maria sebagai isterinya.” (Mat.1,24). Di dalam kata-kata tersebut, telah ditunjukkan misi yang dipercayakan Tuhan kepada Yosep, yaitu menjadi custos, penjaga. Penjaga dari siapa? Maria dan Yesus; namun adalah penjagaan yang melebar ke Gereja, seperti digarisbawahi beato Yohanes Paulus II: “Santo Yosep, seperti telah merawat Maria dengan penuh kasih dan mendedikasikan dirinya dengan gembira dalam mendidik Yesus, demikian pula dia menjaga dan melindungi tubuh mistikNya, gereja, di mana Santa Perawan Maria adalah figur dan model (Esort. Ap. Redemptoris Custos, 1).”
Bagaimana Yosep melaksanakan penjagaan ini? Dengan diskresi, dengan kerendahan hati, dalam keheningan, namun dengan kehadiran yang konstan dan kesetiaan yang total, juga ketika beliau tidak dapat memahami. Dari perkawinan dengan Maria sampai kepada episode ketika Yesus berumur 12 tahun di Bait Allah di Yerusalem, beliau menemani dengan sungguh dengan penuh kasih setiap momen. Sebagai suami dari Maria, beliau selalu berada di sisinya dalam untung dan malang, dalam perjalanan ke Bethelem untuk sensus dan pada saat yang mencemaskan dan menggembirakan ketika Maria melahirkan; di tengah drama pengungsian ke Mesir dan saat kebingungan mencari Putranya di Bait Allah; kemudian dalam hidup harian di Nazaret, di bengkel, saat dia mengajari Yesus bekerja.
Lalu menambahkan: “Bagaimana Yosep menghidupi panggilannya untuk menjaga Maria, Yesus dan Gereja? Dengan selalu memperhatikan Tuhan, terbuka pada tanda-tandaNya, siap sedia pada rencanaNya, dan bukan kepada rencananya sendiri; itulah yang diminta Tuhan kepada Daud, seperti kita dengarkan dalam bacaan pertama.: Tuhan tidak menghendaki sebuah rumah yang dibangun oleh manusia, namun menghendaki kesetiaan kepada SabdaNya, kepada rencanaNya, dan Tuhan sendirilah yang membangun rumah, namun dari batu-batu hidup yang ditandai oleh RohNya. Dan Yosep adalah “penjaga”, karena tahu bagaimana mendengarkan Tuhan, membiarkan dirinya dibimbing oleh kehendakNya, dan karena hal inilah dia menjadi lebih peka terhadap orang-orang yang dipercayakan kepadanya, tahu bagaimana membaca kejadian-kejadian dengan realisme dan perhatian kepada hal-hal yang mengelilinginya, dan tahu bagaimana mengambil keputusan yang lebih bijaksana. Pada pribadinya, sahabat-sahabat terkasih, kita melihat bagaimana menjawab panggilan Tuhan, dengan kesiapsiagaan, dengan kesigapan, namun kita lihat juga inti dari panggilan Kristen: Kristus! Marilah kita jaga Kristus dalam hidup kita, untuk menjaga orang-orang lain, untuk menjaga ciptaan.
Panggilan untuk menjaga, namun demikian, -berlanjut- tidak hanya melibatkan kita orang Kristen, melainkan memiliki dimensi yang mendahuluinya, yaitu secara sederhana manusiawi, mengarah pada semuanya. Adalah menjaga seluruh ciptaan, keindahan dari ciptaan, seperti dikatakan dalam Kitab Kejadian, dan seperti yang ditunjukkan oleh santo Fransiskus Asisi: memiliki respek kepada setiap ciptaan Tuhan, dan pada setiap lingkungan di mana kita hidup. Adalah menjaga orang-orang, memelihara semuanya, setiap pribadi, dengan cinta, secara khusus pada kanak-kanak, orang-orang lanjut usia, mereka yang paling lemah dan seringkali berada di tepian hati kita. Adalah memelihara satu dengan yang lain di dalam keluarga: para pasangan saling menjaga satu dengan yang lain, lalu orang tua merawat anak-anak, dan pada saat yang bersamaan anak-anak menjadi penjaga dari orang tua. Adalah menghidupi persahabatan dengan ketulusan, yang merupakan saling menjaga dalam kepercayaan, dalam respek dan dalam kebaikan. Akhirnya, semua dipercayakan dalam penjagaan manusia, dan adalah sebuah tanggung jawab yang melibatkan semua. Jadilah kalian para penjaga dari karunia-karunia Tuhan!
Ketika manusia kurang bertanggungjawab untuk menjaga, ketika kita tidak merawat ciptaan dan saudara-saudara kita, di situlah terdapat ruang bagi kerusakan dan hati yang mengeras. Di dalam setiap babak sejarah, sayangnya, selalu ada “Herodes” yang merencanakan kematian, merusak dan menodai wajah lelaki dan wanita.
Saya mohon dengan sangat, kepada mereka yang memiliki peran dan tanggung jawab di bidang ekonomi, politik atau sosial, kepada semua orang, lelaki dan perempuan yang berkehendak baik: kita ini “penjaga” ciptaan, rencana Tuhan yang tersirat di dalam alam, penjaga orang lain, lingkungan; jangan biarkan tanda-tanda kehancuran dan kematian menemani perjalanan dunia kita! Namun untuk “menjaga” kita harus memelihara diri kita sendiri! Marilah kita ingat bahwa kebencian, keirihatian, dan kesombongan mengotori kehidupan! Menjaga berarti memperhatikan perasaan-perasaan kita, hati kita, karena benar-benar dari sanalah intensi-intensi baik atau buruk keluar: intensi yang membangun atau merusak! Kita tidak perlu takut pada kebaikan dan juga kelemahlembutan!
Di sini, saya ingin menambahkan satu hal: merawat, menjaga memerlukan kebaikan, perlu dihidupi dengan kelemahlembutan. Di dalam Injil, Santo Yosep muncul sebagai lelaki yang kuat, pemberani, pekerja, namun di dalam jiwanya muncul kelemahlembutan yang besar, yang bukan keutamaan orang yang lemah, melainkan sebaliknya, menunjukkan kekuatan dari jiwa dan kapasitas dari perhatian, belarasa, dan keterbukaan yang sejati kepada orang lain, kapasitas untuk mencintai. Kita tidak perlu takut pada kebaikan dan kelemahlembutan!
Hari ini, bersamaan dengan pesta Santo Yosep kita merayakan dimulainya pelayanan dari uskup Roma yang baru, penerus Santo Petrus, yang melibatkan juga sebuah kekuasaan. Tentu, Yesus Kristus telah memberikan kekuasaan kepada Petrus, namun kekuasaan macam apakah itu? Tiga pertanyaan tentang cinta dari Yesus kepada Petrus diikuti oleh tiga undangan: gembalakanlah domba-dombaku! Janganlah pernah kita lupakan bahwa kekuasaan yang sebenarnya adalah pelayanan dan bahwa Paus ketika menjalankan kekuasaan mesti memasuki semakin dalam pelayanan itu, yang memiliki puncaknya yang bersinar dalam salib; harus melihat pada pelayanan Santo Yosep yang rendah hati, konkret, kaya akan iman, dan juga bagaimana beliau membuka tangannya untuk menjaga seluruh Umat Allah dan mengumpulkan dengan afeksi dan kelemahlembutan seluruh kemanusiaan, khususnya yang paling miskin, paling lemah, paling kecil, semuanya yang digambarkan oleh Matius di dalam penghakiman terakhir tentang kasih: mereka yang lapar, haus, orang asing, telanjang, sakit, di dalam penjara (cfr. Mat. 25, 31-46). Hanya mereka yang melayani dengan cinta, yang mampu menjaga!
Di dalam bacaan kedua, Santo Paulus berbicara tentang Abraham yang “percaya, teguh dalam pengharapan sekalipun tidak ada dasar untuk berharap” (Rm. 4, 18). Teguh dalam pengharapan, meskipun tidak ada dasar untuk berharap! Juga saat ini, di hadapan gelapnya langit, kita perlu untk melihat cahaya pengharapan dan memberikan diri kita sendiri sebagai harapan dan menyelipkan cahaya harapan di tengah begitu banyaknya awan, dan membawa hangatnya harapan! Dan bagi orang beriman, bagi kita orang Kristen, seperti Abraham, seperti Santo Yosep, harapan yang kita bawa, memiliki Tuhan sebagai horison, yang terlihat di dalam Kristus, yang memiliki fondasi dalam batu yang adalah Tuhan sendiri.
Menjaga Yesus bersama Maria, menjaga seluruh ciptaan, menjaga setiap pribadi, terutama yang paling miskin, menjaga diri kita sendiri: inilah pelayanan yang harus dilakukan oleh Uskup Roma, namun kita semua juga dipanggil untuk itu, untuk menyalakan bintang harapan: marilah kita jaga dengan cinta semua yang telah diberikan Tuhan kepada kita! Saya memohon dengan perantaraan Perawan Maria, Santo Yosep, Santo Petrus dan Paulus, santo Fransiskus, agar Roh Kudus menemani pelayanan saya, dan kepada Anda sekalian saya mohon: doakanlah saya. Amin!
Diterjemahkan oleh Fr. Wawan Setyadi SJ frater teologan SJ yang sedang studi di Roma
Sumber : SJ Provinsi Indonesia

http://www.santo-laurensius.org/2013/03/20/homili-paus-fransiskus-saat-misa-inagurasi/

Misa Pelantikan Paus Fransiskus – Live Streaming





http://www.santo-laurensius.org/2013/03/19/misa-pelantikan-paus-fransiskus-live-streaming/

Paus Fransiskus – Paus Pertama dari Benua Amerika

Tak perlu menungu terlalu lama setelah asap putih keluar dari cerobong Kapel Sistine, jam 7.12 waktu setempat, Kardinal Protodiakon Jean Luis Pierre Tauran muncul di Balkon Basilika St. Petrus untuk mengumumkan nama Paus Baru.
Sidang konklaf yang diikuti oleh para Kardinal dari berbagai penjuru dunia telah memilih Paus Baru dari Argentina, yaitu Kardinal Jorge Mario Bergoglio, 76 tahun yang adalah Uskup Agung Buenos Aires. Pilihan ini mengejutkan karena ini adalah untuk kali pertamanya Paus berasal dari benua Amerika. Kardinal Bergoglio memilih nama Paus Franciskus I untuk menandai kedudukan barunya sebagai Uskup Roma, pemegang tahta suci Vatikan yang ke 266.
Uskup Agung Buenos Aires ini dikenal sebagai intelektual Yesuit yang sederhana karena gemar bepergian dengan menggunakan bus dan mempunyai pendekatan praktis untuk mengentaskan kemiskinan. Saat diangkat menjadi kardinal, Bergoglio melarang ratusan orang Argentina yang hendak pergi ke Roma untuk merayakan pengangkatannya sebagai Kardinal dan menghimbau kepada mereka yang akan pergi untuk mendonasikan uang tiketnya bagi orang miskin. Dia adalah penentang keputusan kebijakan pemerintah Argentina yang melegalisasi perkawinan sejenis pada tahun 2010, memperjuangkan hak tumbuh dan pendidikan anak dalam bimbingan orang tua. Gergoglio diangkat menjadi Kardinal oleh Paus Yohannes Paulus ke II pada 21 Februari 2001.
Paus Fransiskus 1 lahir di Buenos Aires tanggal 17 Desember 1936, lima bersaudara anak dari pekerja kereta api keturunan Italia. Menempuh pendidikan tinggi hingga beroleh gelar master dalam bidang kimia di Universitas Buenos Aires dan kemudian masuk ke seminari untuk menempuh pendidikan immamat. Bergabung dengan Serikat Yesus pada tanggal 11 Maret 1958 dan ditahbiskan menjadi imam pada tanggal 13 Desember 1969 oleh Uskup Agung Ramon Jose Castellano. Paus Fransiskus 1 juga mendalami bidang filsafat dan teologi juga sastra serta psikologi.
Karena kepemimpinannya yang kuat oleh Serikat Yesus, Paus Fransikus 1 dipromosikan sebagai provinsial Yesuit di Argentina pada tahun 1973 s/d 1979. Tahun 1980 menjadi rektor di Seminari San Miguel, lalu melanjutkan studi doktoral di Jerman dan kembali ke Argentina untuk melayani sebagai Direktur pengakuan dan spiritual di Cordoba. Kemudian diangkat menjadi Uskup Agung Buenos Aires pada tahun 1998 dan di tahun 2001 merangkap menjadi Uskup untuk Gereja Katolik Ritus Timur di Argentina yang tidak mempunyai uskup.
Kemudian pada masa kepemimpinan Paus Yohannes Paulus ke II, ditunjuk sebagai Kardinal untuk posisi administrasi di Kuria Romana. Paus Fransiskus 1 menjabat pada Kongregrasi Klerus, Kongregrasi Ibadah Ilahi dan Sakramen, Kongregrasi Lembaga Hidup Bakti dan Kongregrasi Serikat Hidup Kerasulan. Selain itu juga menjadi anggota Komisi Amerika Latin dan Komisi Kelaurga.
Sosoknya dikenal dengan kerendahan hatinya, konservative doktrinal dan mempunyai komitmen untuk keadilan. Gaya hidupnya yang sederhana semakin meningkatkan reputasi kerendahan hatinya. Tinggal di sebuah apartemen kecil meski bisa diam di rumah uskup yang megah. Bahkan konon dikabarkan sering memasak sendiri makanannya.
Ketika Paus Yohannes Paulus ke II mangkat, Paus Fransiskus 1 dianggap sebagai salah satu papabile, Kardinal yang berpotensi menjadi Paus. Namun konklaf 2005 memilih Kardinal Ratzinger yang memakai nama Paus Benediktus ke XVI yang kini digantikan olehnya.
Dalam sebuah catatan yang tidak diakui keabsahannya, konon Paus Fransiskus 1 yang saat itu masih berkedudukan sebagai Kardinal ditulis sebagai penantang utama Kardinal Ratzinger dalam pemilihan di konklaf 2005. Dalam catatan anonim itu Bergoglio diklaim menerima suara 40 pada 40 pada pemunggutan suara ke tiga, dan kemudian menurun pada pemunggutan suara berikutnya yang menentukan kemenangan Kardinal Ratzinger.
Dan pada tanggal 13 Maret 2013 dalam sidang konklaf hari kedua, Kardinal Bergoglio akhirnya terpilih menjadi Paus dengan nama Paus Fransiskus 1. Paus Fransiskus 1 menjadi imam yesuit pertama yang menjadi Paus, juga menjadi Paus pertama dari benua Amerika, Paus non Eropa setelah lebih dari 1.200 tahun masa kepausan. Paus terakhir non Eropa adalah St. Gregorius III yang lahir di Suriah dan menduduki tahta suci dari tahun 731 – 741.
Bagi kebanyakan pengamat, sosok Paus Fransiskus 1 digambarkan sebagai pribadi yang terbuka maka tepat kiranya kalau ada harapan bahwa Paus yang baru terpilih ini akan membawa arah baru dalam kepemimpinan di Tahta Suci selaku pemimpin tertinggi Gereja Katolik sedunia.
Proficiat untuk Paus Fransiskus 1, doa dan harapan kami agar kiranya Bapa Suci bisa memimpin umat katolik sedunia untuk menjadi garam serta terang bagi dunia baru yang lebih baik untuk semua.
Pondok Wiraguna, 14 Maret 2014
Romo I Sumarya SJ

http://www.santo-laurensius.org/2013/03/14/paus-fransiskus-1-paus-pertama-dari-benua-amerika/

INFORMASI PAROKI & KEGIATAN PAROKI - 23/09/2018

INFORMASI PAROKI & KEGIATAN PAROKI MISA REMAJA 30 SEPTEMBER 2018. Seluruh remaja usia BIR(10- 15th) diundang hadir untuk menghadiri Misa...