Showing posts with label pdkk. Show all posts
Showing posts with label pdkk. Show all posts

Friday, January 13, 2017

Retret Deliverence (3 – Selesai)

Hari terakhir (20 September 2012 – moderator) dalam retret Deliverance hanya diisi dengan 2 sesi di pagi hari.
Pater Jocis memulai sesi pertama dengan mengutip ungkapan Paus Benediktus XVI: “Barangsiapa memutuskan hubungan dengan Yesus seperti Yudas Iskariot, dia tidak akan memperoleh kebebasan dan tidak akan dibebaskan karena dengan sadar, dia sudah menundukkan diri pada kuasa-kuasa lain. Tanpa Yesus, kita akan berada di bawah kuasa kegelapan”.
Pater Jocis mengajak peserta untuk TIDAK PERNAH TAKUT pada roh jahat dalam semua bentuknya. Setan/iblis adalah malaikat yang jatuh pada dosa kesombongan dan memilih untuk melawan Allah penciptanya. Dengan bersatu di dalam Yesus, martabat kita diangkat jauh lebih tinggi daripada martabat para malaikat, apalagi malaikat jahat yang sudah jatuh dalam dosa. Bersama dan di dalam Yesus, semua kuasa di dunia dan akhirat sudah ditundukkan dan dikalahkan. Jadi, untuk apa lagi kita takut pada kuasa-kuasa lain di luar kuasa Allah?
Pater Jocis juga menekankan beberapa hal yang penting diperhatikan dalam kegiatan eksorsisme. Pertempuran dalam eksorsisme, bukanlah pertempuran antara eksorsis dengan korban, tapi antara Allah dengan iblis. Biasanya, para korban adalah mereka yang sedang dalam keadaan dosa dan hidup iman yang kurang kuat. Maka, yang pertama-tama diusahakan oleh eksorsis adalah membangun iman korban supaya dia semakin dekat dengan Allah dan bisa membangun gaya hidup jauh dari dosa.
Dalam sesi terakhir, pater jocis dan pater jojo menjawab beberapa pertanyaan yang dikumpulkan oleh para peserta sejak tadi malam. Ada banyak pertanyaan menarik seputar eksorsisme, dunia roh gentayangan, penyembahan berhala, jimat, susuk, jenglot, kesurupan, histeria, tuyul, sakit jiwa, dll.
Pada pukul 11 siang, seluruh rangkaian retret/seminar deliverance ini ditutup dengan misa kudus yang dipimpin oleh Mgr. Timang (advisor episcopalis BPN Karismatik), didampingi oleh Rm. Joko Setyo Prakoso (KAS) dan Rm. Hilman (Bandung).
Pukul 12.15, para peserta makan siang dan mulai cek out. Beberapa romo masih melanjutkan dengan acara Konvensi Nasional (Konvenas) Karismatik di Hotel Mercure Ancol, dan sebagian besar romo pulang menuju tempat tugas masing-masing.
Terimakasih Tuhan untuk penyertaanMu selama acara ini.

Pembuat berita : Romo Deddy Setiawan Pr – Imam diosesan Keuskupan Purwokerto
http://www.santo-laurensius.org/2012/09/24/retret-deliverence-3-selesai/
file: 24 September 2012

KONVENAS XII PEMBARUAN KARISMATIK KATOLIK (5 – Selesai)

Pater Bart Pastor memberi ceramah umum untuk sesi terakhir dengan tema “Dipanggil kepada Kekudusan”. Beliau menekankan bahwa kekudusan adalah pertama-tama soal ‘being’, bukan melulu ‘doing’. Kita harus mengusahakan supaya hidup dan seluruh keberadaan kita menjadi kudus. Jangan puas merasa sudah kudus hanya karena kita sudah bisa melakukan hal-hal kudus (doa, pelayanan, misa, dll). Bisa jadi, banyak orang membuat banyak hal kudus, tapi hidupnya tidak kudus.
Sebagai orang Katolik, proses kekudusan bisa diusahakan dengan melalui 4 proses, yakni mengenal Yesus, mencintai Yesus, melayani Yesus dan berbagi tentang Yesus. Kita semua diundang untuk menjadi kudus.
Seluruh rangkaian acara konvenas ditutup dengan misa kudus yang dipimpin oleh Mgr Petrus Bodeng Timang (Uskup Banjarmasin).
Pukul 13.00, semua peserta bersiap untuk pulang ke rumah masing-masing. Konvenas 3 tahun mendatang akan dilaksanakan di keuskupan Makassar.
Terimakasih Tuhan untuk perlindunganMu sehingga acara ini dapat berjalan dengan baik. Matur nuwun, Gusti…

Pembuat berita : Romo Deddy Setiawan Pr – Imam diosesan Keuskupan Purwokerto
http://www.santo-laurensius.org/2012/09/23/konvenas-xii-pembaruan-karismatik-katolik-5-selesai/
file: 23 September 2012

KONVENAS XII PEMBARUAN KARISMATIK KATOLIK (4)

Sabtu, 22 September 2012 pagi, hari ketiga Konvenas XII diawali dengan doa pagi praise and worship bersama.
Setelah makan pagi, ada ceramah III yang bertema: “Dipacu oleh Roh Kudus Menghadapi Tantangan Zaman”. Ceramah ini dibawakan oleh Bp. Endhie Rahardjo, seorang pengajar BPN. Dalam paparannya, Bp. Endhie menjabarkan beberapa hal terkait dengan gerakan pembaruan karismatik.
Di awal ceramah, beliau kembali menekankan manfaat gerakan pembaruan karismatik adalah untuk membantu umat beriman katolik memahami identitas/jatidiri masing-masing. Setelah muncul pemahaman dan kesadaran ini, diharapkan umat beriman mampu melaksanakan jatidiri tersebut dengan lebih baik. Imam menjadi imam dengan lebih baik. Biarawan/wati juga menjadi biarawan/wati yang lebih baik. Suami menjadi suami yang lebih baik, demikian juga istri, anak-anak, orang tua, guru, dokter, dll. Maka, karismatik adalah sebuah gerakan PEMBARUAN, yakni bagaimana orang diperbarui dalam hidup pribadi dan imannya. Jika masing-masing orang hidup dalam semangat pembaruan ini, maka akhirnya keluarga juga diperbarui, lingkungan diperbarui, paroki diperbarui, keuskupan diperbarui, Gereja semesta diperbarui dan akhirnya seluruh dunia diperbarui. Maka, yang penting adalah semangat dan spiritualitas pembaruan ini bisa dirasakan semakin banyak orang. Inilah tujuan dan alasan adanya (raison d’etre) gerakan pembaruan karismatik, bukan mengajak orang untuk masuk ke dalam kelompok Persekutuan Doa dan komunitas karismatik lainnya. Puji Tuhan jika mereka mau bergabung ke dalam kelompok PD. Tapi, kalaupun akhirnya tidak, hal ini janganlah menjadi masalah. Lebih baik kelompok PD beranggotakan sedikit orang, tetapi Gereja hidup, daripada anggota PD berjumlah ratusan, tapi kehidupan Gereja datar-datar saja.
Ciri-ciri orang yang sudah mengalami pembaruan dalam Roh kudus adalah:
1) Mempunyai hidup doa yang disiplin dan mendalam
2) Mencintai Kitab Suci
3) Selalu mengembangkan semangat pertobatan dan tumbuh dalam kekudusan
4) Berani bersaksi, baik melalui evangelisasi dan re-evangelisasi
setelah snack, kami mengikuti Misa Kudus konselebrasi yang dipimpin oleh Uskup Palangkaraya, Mgr. Sutrisnaatmaka, MSF. Dalam kotbahnya, bapa Uskup mengajak orang-orang karismatik untuk berani keluar dari diri sendiri dan membagikan pengalaman pembaruan ini kepada semua orang. Tujuannya adalah transformasi diri, Gereja dan dunia.
Sore hari jam 17.30 sampai malam jam 22.00, kami mengikuti Kebangunan Rohani Katolik (KRK) di Gedung Mega Glodok Kemayoran lantai 10. Kurang lebih 3000 umat hadir, bersukacita, berdoa, memuji dan menyembah Tuhan dalam acara ini. yang menarik bagi saya, hampir semua pengisi acara (musik, pemimpin pujian, kelompok penyanyi, penari, dll) adalah KAUM MUDA. Mereka melayani Tuhan dengan bakatnya masing-masing dengan begitu semangat dan sukacita. Luar biasa!! Jika hidup sudah disentuh dan diubah serta digerakkan oleh Roh Tuhan sendiri, pelayanan pun akan dijalankan dengan luar biasa dan sukacita.
Tema KRK kali ini adalah “Kembali ke Ruang Atas” dengan pembicara Pater Bart Pastor dari Philipina. Beliau mengajak kami semua untuk mencecap pengalaman pentakosta pertama kami masing-masing yang dialami dalam peristiwa baptisan/pencuraha  Roh Kudus. Kehadiran Roh Tuhan itu akan membuat hidup menjadi lain sama sekali daripada sebelumnya.
Setelah mendengarkan firman, sekitar 50 imam yang hadir diundang maju ke depan stage untuk mendoakan umat satu per-satu. Banyak umat mengalami sentuhan Tuhan, begitu damai dan menguatkan hati untuk kembali berjuang menghadapi hidup.
Jam 22.00, kami meninggalkan Mega glodok Kemayoran dan kembali ke Ancol. Sebelum masuk hotel, kami mampir dulu ke banda Jakarta untuk sejenak menikmati nasi goreng. Jam 24.00 kami masuk kamar masing-masing dan go to sleep

Pembuat berita : Romo Deddy Setiawan Pr – Imam diosesan Keuskupan Purwokerto
http://www.santo-laurensius.org/2012/09/23/konvenas-xii-pembaruan-karismatik-katolik-4/
file: 23 September 2012

Retret Deliverence (2)

Hari kedua (19 September 2012 – Moderator) retret deliverance diawali dengan perayaan Ekaristi yang dipimpin secara konselebrasi oleh 3 imam dari keuskupan Bogor.
Selama sehari ini, ada 4 sessi yang diberikan. Dalam 2 sessi awal, Pater Jocis memaparkan secara panjang lebar paganisme, animisme, folk religiosity, occultisme. Selain itu, ditampilkan beberapa kasus pengusiran setan, baik melalui kesaksian orang maupun video yang dibuat oleh Komisi Eksorsisme Keuskupan Agung Manila.
Sessi 3, Pater Jojo menjelaskan ritual Roman Solemn Exorcism. Dan di sessi terakhir, Pater Jocis kembali menampilkan contoh kasus pengusiran setan dari seorang gadis berumur 7 th.
Beberapa point yang bisa disajikan di sini:
1) Apa itu animisme dan paganisme? Seluruh kebudayaan yg belum dikristenkan bersifat animistik disebut oleh bapa2 Gereja sebagai pagan. Paganisme adalah sistem kepercayaan mengenai jiwa dan roh yang ada di dunia dan tidak berdasar pada Kitab Suci, bersifat panteistik (Allah dan alam adalah satu), dan memanipulasi kekuatan alam utk kepentingan manusia. Untuk itu, diperlukan berbagai ritual, persembahan dan korban supaya kekuatan-kekuatan di alam memberikan kemujuran bagi mereka. Ciri lainnya adalah humanistik, bukan teosentrik. Keilahian masuk ke dalam kemanusiaan demi tujuan2 manusia. Maka, manusia berdoa, memohon dan mempersembahkan korban bukan untuk memuja yang ilahi, melainkan untuk memanipulasi kekuatan yang ilahi tersebut.
2) Gereja Katolik berjuang melawan paganisme. Usaha ini sudah nampak dalam pandangan bapa-bapa Gereja seperti Tertulianus, Yustinus Martir, Agustinus, Lactantius yang mengatakan bahwa paganisme itu memuja iblis dan roh-roh jahat.
3) Occultisme atau penyembahan berhala. Teresia Avilla mengatakan bahwa segala sesuatu yang tidak dipersembahkan kepada Allah adalah suatu kebohongan karena di dunia ini, hanya ada 2 kuasa yakni kuasa Allah dan kuasa iblis. Maka, jika kita tidak mengandalkan kuasa Allah, berarti kita mengandalkan dan memuja kuasa iblis. Tidak ada kuasa di tengah2 dua kuasa tersebut. Di sinilah kita dituntun untuk jeli membedakan antara rahmat dan magis, rahmat dan sihir, doa dan mantra. Semua sembah bakti, rasa takut dan hormat harus dipersembahkan kepada Allah, bukan pada kuasa-kuasa lain. Namun, tanpa sadar kita seringkali melakukan hal yang sebaliknya. Misalnya: harus membunyikan klakson mobil ketika akan melewati jembatan, harus mengadakan ritual sebelum menebang pohon besar, dll. Itu semua bertentangan dengan ajaran Gereja.
4) Paganisme bersifat amoral karena untuk menjadi berkuasa, orang tidak harus suci dan baik secara moral. Fokus paganisme adalah pada ritus, bukan pada disposisi batin yang baik dan berserah pada kuasa Tuhan. Jika paganisme masuk dalam kehidupan Gereja, maka akan terpecah belah. Di satu sisi, rajin ke gereja, namun tidak pernah ada perubahan di dalam hidup harian karena pola pikirnya masih magis, legalistis dan utilitarianis. Tuhan dan agama ada buat saya. Bukan apa yang bisa kupersembahkan untuk gereja dan Tuhan.
5) Ritual Eksorsime Meriah Ritus Romawi. Dijelaskan bagaimana tahap2 penanganan kasus2 serangan roh jahat pada manusia (obsesion, oppression, possesion, infention, dll). Komisi Eksorsisme sangat hati-hati untuk menentukan apakah seseorang sedang diserang roh jahat, atau hanya terkena gangguan psikologis/jiwa saja. Maka, dalam komisi itu, ada beberapa profesi lain selain imam, antara lain: psikiater, dokter umum, tim pendoa, bahkan pengacara. Tentu saja, ada beberapa imam yang menjadi eksorsit setelah mendapat mandat khusus dari Bapa Uskup. Sebelum diadakan upacara pengusiran, tim akan menyelidiki dengan teliti dan jeli si penderita untuk mendapatkan keyakinan bahwa orang itu memang menderita karena serangan roh jahat, bukan karena efek obat2an atau gangguan psikologis belaka. Setelah itu, dijelaska tata urutan dan doa-doa pengusiran setan dari ritus Romawi.
Hari kedua ini ditutup dengan adorasi kepada Sakramen Maha Kudus….

Pembuat berita : Romo Deddy Setiawan Pr – Imam diosesan Keuskupan Purwokerto
http://www.santo-laurensius.org/2012/09/23/retret-deliverence-2/
file: 23 September 2012

KONVENAS XII PEMBARUAN KARISMATIK KATOLIK (3)

Dalam ceramah umumnya yang berjudul “Pembaruan Karismatik Katolik: Rahmat, Tantangan dan Misi” Rm. Deshi Ramadhani, SJ (dosen KS STF Driyarkara, Jakarta) malam ini 21 September 2012 memberikan beberapa tantangan kepada para leader karismatik soal jati diri/identitas dan misi gerakan karismatik.
1) Dalam sejarahnya, para pendiri gerakan karismatik begitu berpegang pada pengalaman Gereja perdana akan kehadiran Roh Kudus yang memampukan para Rasul berani bersaksi tentang Yesus kepada sebanyak mungkin orang. Maka, ciri gerakan ini adalah gerakan keluar (ad extra). Kita bisa baca kisah ini dalam Kis 1-4. Nah, dalam perkembangannya, banyak leader karismatik yang mengalihkan perhatiannya bukan lagi pada kehadiran Roh Kudus, tapi lebih pada karisma-karismaNya saja (1Kor 12-14). Gerakan dalam 1Kor 12-14 ini arahnya lebih pada pembenahan internal jemaat (ad intra). Tekanan yang berlebihan pada karisma/karunia Roh Kudus ini bisa mengalihkan perhatian dari Roh Kudus yang justru menjadi aktor utama dalam gerakan pembaruan.
2) Para pendiri gerakan karismatik adalah para kaum muda yang berusia antara 19-35 th. Mereka adalah manusia-manusia dengan energi yang cukup besar untuk membangun ikatan kuat di antara mereka dan kreatif untuk mewarta kepada orang lain. Sementara, gerakan karismatik saat ini banyak diisi oleh umat rentang usia 35-65 tahun yang secara energi sudah mulai menurun dan secara kreativitas sudah mulai stagnan. Maka, pembinaan kaum muda adalah prioritas penting dan mendesak untuk dilakukan oleh gerakan karismatik. Jika pada tahun 1967 (tahun dimulainya gerakan pembaruan karismatik), Allah berani mempercayakan gerakan pembaruan kepada anak-anak muda, mengapa sekarang kita cenderung ragu dan skeptis dengan potensi kaum muda kita?
3) Karismatik mengalami perkembangan pesat justru ketika gerakan ini belum diterima dan didampingi oleh hierarki. Maka pertanyaannya adalah ketika saat ini gerakan karismatik sudah diterima, apakah semangatnya masih sama? Apakah gerakan ini juga masih rajin untuk menguji berbagai macam pengalaman-pengalaman kerohaniannya? Karunia pembedaan ini sangat penting supaya karismatik tidak mengambil semua tugas pelayanan yang nampaknya baik, tapi sebetulnya tidak perlu dilakukan oleh karismatik. Mungkin tugas itu lebih cocok untuk kelompok lain. Pendek kata, jangan sampai semua pelayanan ingin dikarismatikkan seolah-olah hanya karismatik yang bisa melakukannya. Ingat bahwa yang penting adalah kesatuan (unity), bukan keseragaman (uniformity).
4) Banyak orang karismatik saat ini yang kurang paham dengan pengalaman karismatik itu sendiri. Mengutip Paus Yohanes Paulus II, Rm. Deshi menekankan bahwa ciri karismatik adalah kepenuhan karunia-karunia untuk membangun hidup rohani yang menanamkan kegemaran akan keheningan dan kedalaman rohani. Tanpa keheningan, tidak akan ada kedalaman spiritual. Tanpa ada kedalaman spiritual, tidak akan ada kesaksian. Tanpa kesaksian, Gereja akan mati.
5) Dalam Kis 1-4, kehadiran Roh Kudus dalam diri Petrus dan para rasul yang lain memampukan mereka untuk menyembuhkan orang-orang sakit fisik. Pertanyaan yang diajukan oleh Rm. Deshi: mengapa akhir-akhir ini, karisma penyembuhan sakit fisik ini mulai hilang dari Persekutuan-Persekutuan Doa Karismatik? Ini tanda-tanda apa?
Setelah makan malam, ada 4 lokakarya lagi:
1) Doa Syafaat dan Worship
2) Karunia-Karunia Roh Kudus
3) Kehidupan Doa seorang Pemimpin
4) Kepemimpinan Rohani.
Malam ini, saya ikut lokakarya Doa Syafaat dan Worship yang diampu oleh Pater Benny Phang, OCarm. Di sana dijelaskan panjang lebar tentang makna doa penyembahan dan doa syafaat.
Malam ini, sebagian besar peserta sudah istirahat untuk melanjutkan acara besok pagi..


Pembuat berita : Romo Deddy Setiawan Pr – Imam diosesan Keuskupan Purwokerto

http://www.santo-laurensius.org/2012/09/22/konvenas-xii-pembaruan-karismatik-katolik-3/
file: 22 september 2012

KONVENAS XII PEMBARUAN KARISMATIK KATOLIK (2)

Hari kedua Konvenas XII Karismatik (Jumat, 21 September 2012) diawali dengan doa pagi praise and worship yang dipimpin oleh Tim Kepemudaan BPK Keuskupan Purwokerto. Oya..dalam konvenas kali ini, Keuskupan Purwokerto mengirimkan 5 orang dewasa, 7 orang kaum muda dan 1 romo moderator.
Setelah makan pagi, kami mengikuti ceramah umum I dengan tema: “Dipanggil Kembali kepada Kasih yang Semula” (bdk. Why 2:2-5) yang fibawakan oleh Ibu Judy Nuradi. Pengajar BPN yang berasal dari BPK Surabaya ini mengajak semua leader karismatik untuk kembali kepada pengalaman pertobatan dan pengalaman akan kasih Allah yang secara personal mengubah hidup para leader. Seperti St. Paulus yang mengalami pertobatan setelah berjumpa secara personal dengan Tuhan Yesus, para leader diajak untuk tetap menjaga nyala api pertobatan itu dalam setiap pelayanannya. Tanpa api dan kasih pertobatan semacam ini, pelayanan hanya akan menjadi rutinitas, aktivitas dan kesibukan yang lama kelamaan membosankan, berat dan hampa makna. Ibu Judy juga mengajak para leader untuk mengingat kembali 5 tujuan pokok karismatik dan 7 elemen dasar dalam karismatik.
5 tujuan pokok karismatik itu adalah:
1) Membantu umat mengalami pertobatan hidup melalui peristiwa pencurahan Roh.
2) Membantu umat untuk mengalami indahnya kuasa dan pengalaman doa.
3) Membantu umat untuk berani terbuka terhadap karunia-karunia Roh kudus dan menggunakannya untuk kepentingan pembangunan Gereja.
4) Mendorong gerakan penginjilan/evangelisasi dan re-evangelisasi.
5) Mendorong umat untuk tetap bertumbuh dalam kekudusan.
Sementara 7 elemen dasar karismatik adalah:
1) Yesus sebagai Tuhan dan pusat hidup
2) Keterbukaan terhadap bimbingan Roh kudus
3) Sabda Tuhan sebagai pedoman hidup
4) Kehidupan doa: pribadi dan bersama
5) Karunia-karunia Roh Kudus
6) Evangelisasi dan Re-evangelisasi
7) Penghayatan sakramen-sakramen Gereja
Setelah snack pagi, kami mengikuti Perayaan ekaristi Kudus yang dipimpin oleh Mgr Joannes Pujosumarta (KAS). Dalam kotbahnya, Mgr. Pujo mengajak para leader karismatik untuk menjadikan dokumen-dokumen Konsili Vatikan II sebagai bacaan rohani (bukan sekedar bacaan teologi). Maksudnya, supaya dengan membaca dokumen-dokumen tersebut, umat mendapatkan manfaat rohani yang berguna bagi gerakan pembaruan. Proses pembacaan rohani ini dilaksanakan dalam 5 tahap: lectio, meditatio, oratio, contemplatio dan actio. Dalam kotbah yang hampir 1 jam ini, Mgr. Pujo juga mengingatkan para leader untuk setia dan terus menimba kekuatan spiritual dari Ekaristi.
Setelah makan siang, ada 4 lokakarya yang ditawarkan:
1) Creative Ministry
2) Kepemimpinan Rohani
3) Karunia Berdoa dan berbahasa Roh
4) Pujian dan penyembahan dalam PD
Saya mengikuti lokakarya “Karunia Berdoa dan Berbahasa Roh. Di sana dijelaskan makna, dasar biblis dan manfaat dari bahasa roh.
Saat ini, peserta sedang istirahat mengumpulkan tenaga untuk sore nanti jam 17.30 mendengarkan pengajaran dari Rm. Deshi Ramadhani SJ dengan tema “Pembaruan Karismatik Katolik: Rahmat, Tantangan dan Misi”.

Pembuat berita : Romo Deddy Setiawan Pr – Imam diosesan Keuskupan Purwokerto

http://www.santo-laurensius.org/2012/09/21/konvenas-xii-pembaruan-karismatik-katolik-2/
file: 21 September 2012

KONVENAS XII PEMBARUAN KARISMATIK KATOLIK (1)

Hari Kamis, 20 September 2012 Badan Pelayanan Nasional Karismatik Indonesia menyelenggarakan Konvensi Nasional XII (Konvenas)  dengan tema “Kobarkan Terus Api yang Semula” yang dikutip dari Wahyu 2:4. Acara rutin 3 tahunan yg dihadiri oleh 1200an orang dari seluruh nusantara ini adalah ajang untuk bertemu para leader karismatik nasional untuk mendengarkan pengajaran-pengajaran dan workshop-worksop demi pengembangan pelayanan karismatik di Gereja Indonesia..
Konvenas dibuka dengan Misa Kudus yang dipimpin oleh Mgr Ign Suharyo yang didampingi oleh 4 uskup lain: Mgr Nico Adi MSC (Merauke), Mgr Hardjosusanto MSF (Tanjungselor), Mgr. Petrus Bodeng Timang (Banjarmasin), Mgr. Michael Angkur OFM (Bogor) dan 50an imam.
Dalam kotbahnya, Mgr Suharyo kembali menegaskan makna pembaruan: pembaruan diri dan akhirnya harus diarusderaskan untuk membarui Gereja dan dunia. Untuk itu, setiap orang karismatik harus berani mengembangkan sikap kemartiran seperti yang dilakukan oleh Andreas Kim Tae Gon dan Paulus Chong Ha San yang kita peringati hari ini. Tanpa sikap kemartiran, karismatik hanya akan berguna untuk dirinya sendiri dan kurang bermanfaat bagi Gereja dan dunia.
Setelah misa kudus, diadakan ceremoni pembuka dengan pemukulan gong sebanyak 6x oleh Mgr Timang dan 6x oleh Mgr Suharyo.
Sessi pertama malam ini adalah Culture Night, yaitu penampilan kesenian dari masing-masing regio BPK di Indonesia. Regio Semarang plus di mana keuskupan Purwokerto bernaung diwakili oleh Keuskupan Bali yang menampilkan tari Bali modern.
Saat reportase ini ditulis, Keuskupan Agung Jakarta sedang menampilkan drama komedi ttg Pertobatan Sang Koruptor…

Pembuat berita : Romo Deddy Setiawan Pr – Imam diosesan Keuskupan Purwokerto

http://www.santo-laurensius.org/2012/09/21/konvenas-xii-pembaruan-karismatik-katolik-1/
filwe 21 Septtember 2012

Retret Deliverence (1)


Hari Selasa, 18 September 2012 pukul 17.00, Mgr Ignatius Suharyo membuka secara resmi Temu Moderator Karismatik dan Rapat Pleno Besar BPN Karismatik Indonesia di Hotel Jayakarta Jakarta.
Keuskupan Purwokerto mengutus Rm. Ngarlan, Rm. Mardi, Rm. Handi Setyanto, Rm. Vidi dan Rm. Deddy. Ada sekitar 120 imam dari seluruh Indonesia yg menghadiri pertemuan yg rencananya akan diselenggarakan sampai hari Kamis 20 September besok.
Dalam kotbahnya, Mgr Suharyo mengingatkan bahwa Karismatik sebagai gerakan pembaruan adalah salah satu wujud nyata karya keselamatan Allah bagi dunia melalui Yesus Kristus. Maka, pertanyaan dasarnya adalah bagaimana karismatik bisa mengembangkan dua keutamaan iman yakni belarasa dan kerja sama. Jika dilaksanakan scr konsisten, dua keutamaan itu akan membawa perubahan dan pembaruan bagi masing-masing orang, Gereja dan dunia. Pembaruan itu akan terjadi ketika semua orang bisa melihat segala peristiwa kehidupan ini dalam kacamata iman. Ini berarti bagaimana melihat seluruh kejadian sebagai bagian dari rencana dan sejarah keselamatan Allah.
Temu moderator nasional karismatik tahun ini mengambil bentuk retret/seminar deliverence. Seminar ini dibawakan oleh Pater Jose Francisco D. Syquiam beliau adalah pembimbing dan eksorsis dari Kantor Pusat Eksorsisme Keuskupan agung Manila.
Session I malam tadi menjelaskan 3 hal besar yakni:
1). Peperangan Rohani dan demonology
2). Serangan Iblis yg luar biasa dan Eksorsisme
3). Ajaran Resmi Vatikan tentang eksorsisme
Beberapa point yang bisa disampaikan di sini adalah:
1). Pengusiran setan dalam kehidupan Gereja dewasa ini sedikit banyak ditinggalkan. Padahal iblis sampai saat ini masih berkuasa dan kekuasaannya sangat nyata ada dalam kehidupan kita. Zaman sekarang, iblis lebih dilihat secara simbolik sebagai kejahatan, kekacauan dan ketidakbaikan daripada sebagai person/pribadi yang menyebabkan maut, kecelakaan dan kematian. Kita tidak menghiraukan lagi dan tidak percaya lagi bahwa setan masih tetap hadir sebagai person/pribadi yang harus terus menerus dilawan. Jika kita membaca Kitab Suci, tindakan pengusiran setan dilakukan oleh Yesus sebagai kelanjutan dari pewartaan sabdaNya. Sepanjang hidupNya, Yesus terus berjuang untuk melawan dan melumpuhkan setan.
2). Dengan menyadari kehadiran setan dan kuasanya, kita akan makin menyadari bahwa Tuhan sungguh begitu baik bagi kita dg mengutus Putra TunggalNya bagi keselamatan kita dari serangan setan.
3). Siapa itu setan? Setan adalah musuh yang memecahbelah. Dosa utamanya adalah kesombongan. Setan tidak bisa menerima kodratnya sebagai ciptaan. Setan tidak bisa menerima bahwa ada kuasa lain di atas dirinya, yakni kuasa Allah. Maka setan selalu membenci Tuhan dan pengikut2Nya. Setan adalah bapa para pendusta, asal muasal ajaran sesat, pencuri yg kadang kala menyamar sebagai malaikat.
4). Apa itu eksorsisme? Eksorsisme adalah tindakan mengusir setan yg bersembunyi di dalam diri seseorang. Tindakan ini menjadi tanda yang sangat jelas bagaimana kuasa Tuhan digunakan untuk melawan kuasa setan. Setiap orang kristen sebetulnya diberi kuasa oleh Tuhan untuk melakukan eksorsisme sederhana dengan rumusan “Dalam Nama Yesus, pergilah kau setan!!!”.  Eksorsisme singkat inilah yang disebut dengan deliverence. Selain org2 biasa yang bisa melakukan deliverence, ada orang2 tertentu yakni para imam yang diberi mandat secara khusus untuk melaksanakan eksorsisme meriah (solemn excorcisme) dengan menggunakan ritus romawi berbahasa latin. Tdk semua org, bahkan tidak semua imam bisa/boleh melakukan eksorsisme jenis inim. Dengan mandat penuh dari uskup, sang eksorsist akan melakukan pengusiran dengan dibantu oelh doa seluruh Gereja di dunia ini.
5). Dalam Kitab Wahyu, kita bisa melihat bagaimana suasana akhir zaman ditandai dengan pertempuran antara Gereja dengan iblis. Gereja sebagai kumpulan orang2 yang sudah diselamatkan dari kuasa setan dengan rahmat baptisan, menjadi target utama serangan iblis. Mengapa? Karena setan ingin supaya jiwa2 orang yang sudah diambil Kristus, kembali lagi kepadanya. Dan, waspadalah karena bagi orang kristen, setan akan menyerang dengan sangat halus dan penuh penipuan karena konon ceritanya, orang kristenlah yang paling berani untuk melawan setan.
Session pertama selesai pukul 22.30.

Pembuat berita : Romo Deddy Setiawan Pr – Imam diosesan Keuskupan Purwokerto

http://www.santo-laurensius.org/2012/09/21/retret-deliverence-1/
file:21 september 2012

INFORMASI PAROKI & KEGIATAN PAROKI - 23/09/2018

INFORMASI PAROKI & KEGIATAN PAROKI MISA REMAJA 30 SEPTEMBER 2018. Seluruh remaja usia BIR(10- 15th) diundang hadir untuk menghadiri Misa...