Showing posts with label paus benediktus xvi. Show all posts
Showing posts with label paus benediktus xvi. Show all posts

Saturday, January 14, 2017

Pertemuan Bersaudara Paus Fransiskus dan Benediktus XVI

Teman-teman.
Pertama-tama: Terpujilah Allah Tritunggal Maha Kudus!
Melanjutkan apa yang sudah saya beritakan sebelumnya, berikut saya informasikan pertemuan bersejarah antara Paus Fransiskus dan Benediktus XVI.
Baru saja Juru bicara Vatikan, Padre Federico Lombardi SJ, memberikan keterangan bahwa setelah Paus Fransiskus tiba di heliport di Castel Gandolfo, Benediktus XVI dengan tokat yang menyanggah kakinya sudah menantikan Paus baru itu, dan pada saat Paus Fransiskus turun dari helikopter, Benediktus XVI menyalami dirinya dan keduanya saling berpelukan. Suatu momen yang menggembirakan dan mengharukan….
Setelah itu, mereka bersama naik mobil kepausan menuju Istana Apostolik.
Pada saat mereka tiba di Istana Apostolik, mereka langsung menuju Kapel Pribadi di sana untuk berdoa bersama. Ada hal yang sangat menarik untuk diperhatikan di sini, karena saat Benediktus XVI menunjukkan kepada Fransiskus di mana dapat berdoa, dan dia hendak menunggu saja menunjukkan penghormatannya kepada Paus yang baru, justru Paus Fransiskus memegang tangan Benediktus XVI dan mengajaknya berdoa bersama dia. Sehingga keduanya berdoa bersama berdampingan di hadapan Ikon Maria.
Setelah berdoa bersama, Paus Fransiskus memberikan sebuah hadiah kepada Benediktus XVI berupa sebuah ikon Maria bernama Maria Bunda Rendah Hati (Madonna dell’ Umiltà). Fransiskus berkata kepada pendahulunya bahwa ketika ia mengetahui nama dari ikon tersebut, pikirannya langsung tertuju kepada Benediktus yang katanya telah memberikan kepada kita contoh kerendahan hati dan kelembutan selama masa kepausannya selama 8 tahun ini.
Saat itu, Benediktus segera menyambut dan merangkul tangan Fransiskus mengucapan terima kasih kepadanya.
Kemudian mereka mulai mengadakan percakapan pribadi dan dilanjutkan dengan acara makan bersama yang dihadiri oleh kedua Sekretaris Fransiskus dan Benediktus.
Juru bicara Vatikan mengatakan kepada kita bahwa Paus Fransiskus telah menunjukkan devosi Fransiskus kepada Benediktus XVI setelah 2 kali menelpon dirinya di Castel Gandolfo, yaitu pada saat setelah terpilih dan pada hari Pesta Santo Yosef.
Setelah acara pertemuan bersejarah dan mengharukan itu selesai, Paus Fransiskus dijadwalkan kembali ke Vatikan dengan helikopter dan Benediktus XVI akan kembali mendampingi dirinya menuju helikopter.
Terlampir saya sertakan pula beberapa foto hasil pertemuan kedua Paus kita tercinta, yang satu Paus bertugas, yang satu lagi Paus emeritus. Keduanya akan memimpin Gereja dan kita semua, yang satu dengan karya pastoral, yang satu lagi dengan doa-doanya.
Tiada kata lain yang dapat terucapkan di dalam hati, hanya: Terpujilah Allah Tritunggal.
(Shirley Hadisandjaja – Italia)
http://www.santo-laurensius.org/2013/03/23/pertemuan-bersaudara-paus-fransiskus-dan-benediktus-xvi/

Perpisahan Paus Benedictus XVI





http://www.santo-laurensius.org/2013/03/05/perpisahan-paus-benedictus-xvi/

Pernyataan Pengunduran Diri Paus Benedictus XVI (Video)



“Salam saudara-saudaraku. Saya mengumpulkan Anda sekalian pada Rapat Gereja, tak hanya terkait tiga kanonisasi, tetapi juga untuk menyampaikan keputusan penting mengenai kehidupan Gereja. Setelah menelaah kesadaran saya berkali-kali di hadapan Tuhan, saya telah sampai pada suatu kepastian bahwa kekuatan saya, akibat usia tua, tak lagi memadai untuk menjalankan pemerintahan Santo Petrus. Saya sadar sepenuhnya bahwa pemerintahan ini, terkait sifat spiritualnya yang penting, harus dijalankan tak hanya dengan kata-kata dan kebajikan, tetapi juga tak kurang dengan doa dan penderitaan…. “
“Untuk memimpin pemerintahan Santo Petrus, dan mewartakan kitab suci, kekuatan fisik dan rohani sangatlah penting. Kekuatan ini, dalam beberapa bulan terakhir, terus merosot. Dalam beberapa hal, saya harus mengakui ketidaksanggupan saya untuk menjalankan tugas kepausan yang telah dipercayakan kepada saya. Untuk alasan ini, dan dengan penuh kesadaran atas seriusnya hal ini, serta dengan kebebasan penuh, saya menyatakan bahwa saya meninggalkan jabatan sebagai Uskup Roma, dan penerus Santo Petrus, yang telah dipercayakan kepada saya oleh para kardinal pada 19 April 2005, pada 28 Februari 2013 pukul 20.00. Maka, takhta Roma, takhta Santo Petrus, terhitung tanggal 28 Februari 2008 pukul 20.00, akan kosong. Selanjutnya, konklaf (sidang pemilihan paus) untuk memilih paus yang baru akan digelar…”
“Saudara-saudaraku, saya mengucapkan terima kasih yang mendalam atas semua cinta dan kerja yang Anda berikan kepada saya selama menjalankan tugas-tugas kepausan. Saya juga meminta maaf untuk semua kesalahan. Saat ini, marilah kita percayakan Gereja Suci untuk memilih Gembala Agung kita, serta memohon Tuhan Yesus Kristus dan Bunda Suci Maria, untuk mendampingi para kardinal untuk memilih paus yang baru. Saya juga akan tetap sepenuh hati melayani Gereja Suci Tuhan di masa mendatang melalui kehidupan yang didedikasikan untuk doa.” (kompas.com)

PESAN PAUS BENEDIKTUS XVI UNTUK MASA PRAPASKAH 2013

“Percaya dalam amal membangkitkan amal” “Kita telah mengenal dan telah percaya akan kasih Allah kepada kita” (1 Yoh 4:16)
Saudara dan saudariku terkasih,
Perayaan Prapaskah, dalam konteks Tahun Iman, menawarkan kita kesempatan berharga untuk merenungkan hubungan antara iman dan amal : antara percaya dalam Allah – Allah dari Yesus Kristus – dan amal, yang merupakan buah dari Roh Kudus dan yang menuntun kita di jalan pengabdian kepada Allah dan sesama.
1. Iman sebagai tanggapan terhadap kasih Allah
Dalam Ensiklik pertama saya, saya menawarkan beberapa pemikiran tentang hubungan erat antara keutamaan iman dan amal kasih secara teologis. Berangkat dari pernyataan tegas yang mendasar dari Santo Yohanes: “Kita telah mengenal dan telah percaya akan kasih Allah kepada kita” (1 Yoh 4:16), saya mengamati bahwa “menjadi Kristiani bukanlah hasil dari pilihan etis atau gagasan luhur, tetapi perjumpaan dengan suatu peristiwa, seseorang, yang memberi kehidupan suatu cakrawala baru dan suatu arah yang pasti … Karena Allah telah lebih dulu mengasihi kita (bdk. 1 Yoh 4:10), kasih kini tidak lagi menjadi ‘perintah’ belaka; kasih adalah tanggapan terhadap karunia kasih yang dengannya Allah mendekat kepada kita” (Deus Caritas Est, 1). Iman ini merupakan ketaatan pribadi – yang melibatkan seluruh pancaindera kita – bagi pernyataan kasih Allah yang tanpa syarat dan “penuh gairah” bagi kita, sepenuhnya terungkap dalam Yesus Kristus. Perjumpaan dengan Allah yang adalah Kasih melibatkan tidak hanya batin tapi juga akal budi: “Pengakuan akan Allah yang hidup adalah salah satu jalan menuju kasih, dan ‘ya’ dari kehendak kita terhadap kehendak-Nya menyatukan akal budi, kehendak dan perasaan kita dalam seluruh pelukan tindakan kasih. Tetapi proses ini selalu akhir yang terbuka; kasih tidak pernah ‘selesai’ dan lengkap”( Deus Caritas Est, 17). Oleh karena itu, untuk semua orang Kristiani, dan terutama untuk “pekerja amal”, ada kebutuhan untuk iman, untuk “supaya perjumpaan dengan Allah di dalam Kristus yang membangkitkan kasih mereka dan membuka jiwa mereka bagi orang lain. Akibatnya, sehingga boleh dikatakan, kasih kepada sesama tidak akan lagi bagi mereka perintah yang dibebankan dari luar, melainkan suatu konsekuensi yang berasal dari iman mereka, iman yang menjadi aktif melalui kasih “(Deus Caritas Est, 31a). Orang-orang Kristiani adalah orang-orang yang telah ditaklukkan oleh kasih Kristus dan oleh karena itu, di bawah pengaruh kasih itu – “Caritas Christi urget nos” (2 Kor 5:14) – mereka amatlah terbuka untuk mengasihi sesama mereka dengan cara nyata (bdk. Deus Caritas Est, 33). Sikap ini muncul terutama dari kesadaran dikasihi, diampuni, dan bahkan dilayani oleh Tuhan, yang membungkuk untuk mencuci kaki para Rasul dan memberikan diri-Nya di kayu Salib untuk menarik umat manusia ke dalam kasih Allah.
Iman mengatakan kepada kita bahwa Allah telah memberikan Putra-Nya demi kita dan memberi kita kepastian kemenangan sehingga hal itu sungguh benar: Allah adalah kasih! ….. Iman, yang melihat kasih Allah dinyatakan dalam hati Yesus yang tertikam di kayu Salib, menimbulkan kasih. Kasih adalah cahaya -, dan pada akhirnya, satu-satunya cahaya – yang dapat selalu menerangi dunia yang meredup dan memberi kita kegigihan yang diperlukan untuk tetap hidup dan bekerja” (Deus Caritas Est, 39). Semua ini membantu kita untuk memahami bahwa tanda dasariah yang membedakan orang-orang Kristiani adalah justru “kasih yang didasarkan pada dan dibentuk oleh iman” (Deus Caritas Est, 7).
2. Amal sebagai kehidupan dalam iman
Seluruh kehidupan Kristiani adalah tanggapan terhadap kasih Allah. Tanggapan pertama justru adalah iman sebagai penerimaan, yang dipenuhi dengan takjub dan syukur, akan prakarsa ilahi yang belum pernah terjadi sebelumnya yang mendahului kita dan mengetengahkan kita. Dan “ya” dari iman menandai awal dari sebuah kisah persahabatan yang berseri-seri dengan Tuhan, yang memenuhi dan memberi makna penuh bagi seluruh hidup kita. Tapi itu tidak mencukupi bagi Allah karena kita hanya menerima kasih-Nya yang tanpa syarat. Tidak hanya membuat Ia mengasihi kita, tetapi Ia hendak menarik kita kepada diri-Nya sendiri, untuk mengubah kita sedemikian mendalamnya sehingga membawa kita untuk berkata bersama Santo Paulus : “bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku” (bdk. Gal 2:20).
Ketika kita membuat ruang bagi kasih Allah, maka kita menjadi seperti Dia, berbagi dalam amal milik-Nya. Jika kita membuka diri terhadap kasih-Nya, kita memperbolehkan Dia untuk hidup dalam kita dan membawa kita untuk mengasihi bersama Dia, dalam Dia dan seperti Dia; hanya berlaku demikian iman kita menjadi benar-benar “bekerja oleh kasih” (Gal 5:6), hanya berlaku demudian Dia tinggal di dalam kita (bdk. 1 Yoh 4:12).
Iman adalah memahami kebenaran dan mematuhinya (bdk. 1 Tim 2:4); amal adalah “berjalan” dalam kebenaran (bdk. Ef 4:15). Melalui iman kita masuk ke dalam persahabatan dengan Tuhan, melalui amal persahabatan ini dihidupkan dan ditumbuhkembangkan (bdk. Yoh 15:14dst). Iman menjadikan kita merangkul perintah Tuhan dan Guru kita; amal memberi kita kebahagiaan mempraktekkannya (bdk. Yoh 13:13-17). Dalam iman kita diperanakkan sebagai anak-anak Allah (bdk. Yoh 1:12dst); amal menjadikan kita bertekun secara nyata dalam keputraan ilahi kita, menghasilkan buah Roh Kudus (bdk. Gal 5:22). Iman memampukan kita untuk mengenali karunia yang telah dipercayakan Allah yang baik dan murah hati kepada kita; amal membuat mereka berbuah (bdk. Mat 25:14-30).
3. Keterkaitan yang tak terpisahkan dari iman dan amal
Dalam terang di atas, jelaslah bahwa kita tidak pernah bisa memisahkan, apalagi dengan sendirinya mempertentangkan, iman dan amal. Kedua keutamaan teologis ini terkait erat, dan adalah menyesatkan untuk menempatkan perlawanan atau “dialektika” di antara mereka. Di satu sisi, akan terlalu sepihak untuk menempatkan penekanan kuat pada prioritas dan ketegasan iman serta merendahkan dan hampir-hampir meremehkan karya amal nyata, mengecilkan karya itu ke paham kemanusiaan yang samar-samar. Di sisi lain, meskipun, sama-sama tidak membantu untuk melebih-lebihkan keunggulan amal dan kegiatan yang dihasilkannya, seakan-akan karya bisa mengambil tempat iman. Bagi kehidupan rohani yang sehat, perlu untuk menghindari baik fideisme maupun aktivisme moral.
Kehidupan Kristiani mencakup secara terus-menerus pendakian gunung untuk berjumpa Allah dan kemudian turun kembali, memberikan kasih dan kekuatan yang diambil dari-Nya, agar supaya melayani saudara dan saudari kita dengan kasih Allah sendiri. Dalam Kitab Suci, kita melihat bagaimana semangat para Rasul untuk mewartakan Injil dan membangkitkan iman orang-orang terkait erat dengan kepedulian mereka yang bersifat amal untuk pelayanan kepada kaum miskin (bdk. Kis 6:1-4). Dalam Gereja, kontemplasi dan aksi, yang dilambangkan dalam beberapa cara oleh tokoh Injil, Maria dan Marta, harus saling berdampingan dan saling melengkapi (bdk. Luk 10:38-42). Hubungan dengan Allah harus selalu menjadi prioritas, dan setiap pembagian harta benda, dalam semangat Injil, harus berakar dalam iman (bdk. Audiensi Umum, 25 April 2012). Kadang-kadang kita cenderung, pada kenyataannya, mengecilkan istilah “amal” untuk solidaritas atau bantuan kemanusiaan belaka. Namun, penting diingat bahwa karya terbesar dari amal adalah evangelisasi, yang adalah “pemerintahan sabda”. Tidak ada tindakan yang lebih bermanfaat – dan karena itu lebih beramal – terhadap salah seorang dari sesama daripada memecahkan roti sabda Allah, berbagi bersama Dia Kabar Baik akan Injil, memperkenalkan Dia kepada hubungan dengan Allah: evangelisasi adalah yang promosi tertinggi dan paling menyeluruh dari pribadi manusia. Sebagai hamba Allah Paus Paulus VI menulis dalam Ensiklik Populorum Progressio, pernyataan akan Kristus adalah penyumbang pertama dan utama bagi pembangunan (bdk. no. 16). Ini adalah kebenaran primordial kasih Allah bagi kita, yang hidup dan dinyatakan, yang membuka hidup kita untuk menerima kasih ini dan memungkinkan pengembangan menyeluruh dari kemanusiaan dan dari setiap orang (bdk. Caritas in Veritate, 8).
Pada dasarnya, segala sesuatu berasal dari Kasih dan cenderung menuju Kasih. Kasih Allah yang tanpa syarat dibuat kenal kepada kita melalui pewartaan Injil. Jika kita menyambutnya dengan iman, kita menerima kontak pertama dan sangat diperlukan dengan Yang Ilahi, mampu membuat kita “jatuh cinta dengan Kasih”, dan kemudian kita tinggal di dalam Kasih ini, kita tumbuh di dalamnya dan kita dengan sukacita mengkomunikasikannya kepada orang lain.
Mengenai hubungan antara iman dan karya amal, ada bagian dalam Surat Efesus yang mungkin menyajikan catatan terbaik keterkaitan antara keduanya : “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri. Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya” (2:8-10). Dapat dilihat di sini bahwa prakarsa penebusan seluruhnya berasal dari Allah, dari kasih karunia-Nya, dari pengampunan-Nya yang diterima dalam iman; tetapi prakarsa ini, jauh dari pembatasan kebebasan kita dan tanggung jawab kita, sebenarnya adalah apa yang membuat mereka otentik dan mengarahkan mereka menuju karya amal. Ini terutama bukan hasil dari usaha manusia, yang di dalamnya mengandung kebanggaan, tetapi karya amal tersebut lahir dari iman dan karya amal itu mengalir dari kasih karunia yang diberikan Allah dalam kelimpahan. Iman tanpa perbuatan adalah seperti pohon tanpa buah: dua keutamaan saling memaknai. Masa Prapaskah mengundang kita, melalui praktek-praktek tradisional dari kehidupan Kristiani, memelihara iman kita dengan seksama dan memperbesar pendengaran akan sabda Allah serta dengan penerimaan sakramen-sakramen, dan pada saat yang sama bertumbuh dalam amal dan dalam kasih kepada Allah dan sesama, tidak sekedar melalui praktik puasa, pengampunan dosa dan derma.
4. Pengutamaan iman, keunggulan amal
Seperti setiap karunia Allah, iman dan amal memiliki asal mereka dalam tindakan Roh Kudus yang satu dan sama (bdk. 1 Kor 13), Roh dalam diri kita yang berseru “Abba, Bapa” (Gal 4:6), dan membuat kita berkata: “Yesus adalah Tuhan!” (1 Kor 12:3) dan “Maranatha!” (1 Kor 16:22, Why 22:20). Iman, sebagai karunia dan tanggapan, menjadikan kita mengetahui kebenaran Kristus sebagai Kasih yang menjelma dan disalibkan, sebagai ketaatan penuh dan sempurna pada kehendak dan rahmat ilahi yang tak terbatas terhadap sesama; iman tertanam dalam hati dan memikirkan keyakinan teguh bahwa hanya Kasih ini mampu menaklukkan kejahatan dan kematian. Iman mengajak kita untuk melihat ke masa depan dengan keutamaan harapan, dengan pengharapan yang pasti bahwa kemenangan kasih Kristus akan datang kepada penggenapannya. Untuk bagian ini, amal mengantar kita ke dalam kasih Allah yang terwujud dalam Kristus dan menggabungkan kita dalam cara yang bersifat pribadi dan nyata terhadap pemberian diri Yesus yang menyeluruh dan tanpa syarat kepada Bapa serta saudara dan saudari-Nya. Dengan memenuhi hati kita dengan kasih-Nya, Roh Kudus membuat kita mengambil bagian dalam pengabdian Yesus kepada Allah dan pengabdian persaudaraan bagi setiap orang (bdk. Rm 5:5).
Hubungan antara kedua keutamaan ini menyerupai antara dua sakramen dasariah Gereja: Baptis dan Ekaristi. Baptis (sacramentum fidei) mendahului Ekaristi (sacramentum caritatis), tetapi diarahkan kepadanya, Ekaristi menjadi kepenuhan perjalanan Kristiani. Dalam cara yang sama, iman mendahului amal, tetapi iman adalah sejati hanya jika dimahkotai oleh amal. Segala sesuatu dimulai dari penerimaan iman yang sederhana (“mengetahui bahwa manusia dikasihi oleh Allah”), tetapi harus sampai pada kebenaran amal (“mengetahui bagaimana untuk mengasihi Allah dan sesama”), yang tetap untuk selama-lamanya, sebagai pemenuhan semua keutamaan (bdk. 1 Kor 13:13).
Saudara dan saudari terkasih, dalam Masa Prapaskah ini, ketika kita mempersiapkan diri untuk merayakan peristiwa Salib dan Kebangkitan – di dalamnya kasih Allah menebus dunia dan menyorotkan cahayanya di atas sejarah – Saya mengungkapkan kehendak saya sehingga Anda semua dapat menghabiskan waktu berharga ini menyalakan kembali iman Anda dalam Yesus Kristus, agar supaya masuk bersama Dia ke dalam kasih dinamis bagi Bapa dan bagi setiap saudara dan saudari yang kita jumpai dalam kehidupan kita. Untuk maksud ini, saya memanjatkan doa saya kepada Allah, dan saya memohonkan berkat Tuhan atas setiap orang dan atas setiap komunitas!
Dari Vatikan, 15 Oktober 2012
BENEDIKTUS XVI
(diambil dari HIDUP)
http://www.santo-laurensius.org/2013/02/15/pesan-paus-benediktus-xvi-untuk-masa-prapaskah-2013/

Friday, January 13, 2017

Indian Amerika Segera Miliki Orang Suci


VATICAN CITY, KOMPAS.com – Seorang perempuan yang selamat dari wabah cacar air saat masih kanak-kanak dan meninggal saat baru berusia 24 tahun akan dinobatkan sebagai santa atau orang suci pertama yang berasal dari suku asli Amerika.
Nama calon perempuan suci baru ini adalah Kateri Tekakwitha yang lahir pada 1656 dan dikenal sebagai Bunga Lily suku Mohawk.
Kateri hidup di wilayah yang kini merupakan perbatasan Kanada dan Amerika Serikat. Saat masih kecil, Kateri yang lahir dari ibu berdarah suku Algonquin dan ayah seorang Mohawk itu diyakini memeluk Katolik dengan bantuan seorang misionaris Jesuit.
Setelah selamat dari wabah cacar air, Kateri kemudian memiliki kemampuan spiritual yang membuatnya memiliki banyak pengikut hingga dia meninggal dunia di usia 24 tahun.
Pada Minggu (21/10/2012), menurut rencana Paus Benediktus XVI akan menobatkan Kateri sebagai orang suci di Basilika Santo Petrus, Vatikan. Sebelumnya, Kateri sudah menjalani proses beatifikasi pada 1980 di msa Paus Yohanes Paulus II.
Diharapkan sekitar 1.500 peziarah asal Kanada -sebagian besar dari mereka suku Indian- akan mendatangi upacara ini.
Dalam kesempatan yang sama, Paus Benediktus XVI juga akan menyematkan gelar santo dan santa untuk enam orang lainnya, termasuk seorang misionaris Perancis di Madagaskar, seorang martir Filipina yang meninggal di usia 17 tahun, seorang imigran Jerman di AS yang merawat penderita lepra serta seorang biarawati Spanyol yang mengampanyekan hak-hak perempuan.
Para pengamat Vatikan menilai penobatan sejumlah orang suci baru ini terkait upaya Gereja Katolik Roma melakukan  “evangelisasi baru” di saat kekuatan gereja di Eropa dan Amerika Serikat semakin lemah.
Kanonisasi terbaru ini membuat jumlah santo dan santa baru yang dinobatkan Paus Benediktus XVI sejak dia menjadi pemimpin Gereja Katolik pada 2005 menjadi 44 orang.
Untuk menjadi orang suci versi Gereja Katolik tidaklah mudah. Seseorang harus memiliki dua mujizat yang harus diverifikasi Vatican yang prosesnya bisa memakan waktu bertahun-tahun.




Editor : Ervan Hardoko
Sumber : kompas.com
http://www.santo-laurensius.org/2012/10/20/indian-amerika-segera-miliki-orang-suci/

Pesan Bapa Suci, Paus Benediktus XVI untuk Hari Misi Sedunia 2012



“Dipanggil Untuk Memancarkan Sabda Kebenaran” (Surat Apostolik Porta Fidei, no. 6)
Saudara-saudari yang terkasih,
Tahun ini perayaan Hari Misi Sedunia memiliki arti yang sangat khusus. Peringatan 50 tahun dimulainya Konsili Vatikan II dan pembukaan Tahun Iman serta Sinode para Uskup dengan tema Evangelisasi Baru, membantu menegaskan kembali keinginan Gereja untuk terlibat dengan keberanian dan semangat yang lebih besar dalam missio ad gentes (perutusan kepada bangsa-bangsa) agar Injil dapat mencapai seluruh ujung bumi.
Konsili Vatikan II, yang melibatkan para Uskup Katolik dari seluruh penjuru bumi, merupakan suatu tanda yang benar-benar memancarkan universalitas Gereja, karena untuk pertama kalinya konsili menyambut sejumlah besar Bapa-bapa Konsili dari Asia, Afrika, Amerika Latin dan Oseania. Mereka tersebar di tengah bangsa-bangsa non-Kristen: para uskup misionaris dan para uskup pribumi, serta para imam dari pelbagai jemaat Kristiani, hadir dalam Konsili Vatikan II sebagai suatu gambaran Gereja yang hadir di semua benua. Kehadiran mereka dipahami sebagai realitas yang sangat kompleks dari apa yang kemudian disebut “Dunia Ketiga”. Diperkaya oleh pengalaman-pengalaman mereka sebagai gembala-gembala Gereja, mereka yang masih muda dan yang sedang dalam proses pembinaan, digerakkan oleh semangat untuk menyebar-luaskan Kerajaan Allah. Mereka semua memberikan kontribusi yang sangat penting untuk menegaskan kembali kebutuhan dan urgensi penginjilan kepada bangsa-bangsa, dan dengan demikian menempatkan kodrat Gereja yang misioner sebagai pusat eklesiologinya.
Eklesiologi  Misioner
Sesungguhnya, visi Eklesiologi Misioner tersebut hingga kini masih sahih berlaku, bahkan telah menghasilkan buah-buah refleksi teologis dan pastoral yang luar biasa. Dan pada saat yang sama, refleksi teologis-pastoral tersebut disajikan dengan urgensitas yang baru karena jumlah orang yang tidak mengenal Kristus semakin bertambah: “Jumlah  orang yang menantikan Kristus masih sangat besar”, demikian kata Beato Yohanes Paulus II dalam Ensikliknya Redemptoris Missio (RM),  yang berbicara tentang mandat (perintah)misioner yang kekal dan sahih, seraya menambahkan: “kita tidak boleh berpuas diri ketika kita melihat jutaan saudara-saudari kita, yang sama seperti kita telah ditebus oleh Darah Kristus, namun hidup dalam ketidaktahuan tentang Kasih Allah” (no. 86). Dalam mempromulgasikan Tahun Iman ini, saya juga menulis bahwa “hari ini, sama seperti di masa lalu, Dia (Kristus) mengutus kita melalui jalan-jalan raya dunia untuk mewartakan Injil-Nya kepada seluruh bangsa di bumi” (Surat Apostolik Porta Fidei, no. 7). Tugas perutusan tersebut, sebagaimana telah dikatakan oleh Hamba Allah, Paus Paulus VI, dalam Anjuran Apostolik-nya Evangelii Nuntiandi“bukanlah sumbangsih mana-suka dari Gereja, melainkan merupakan tugas yang melekat pada dirinya oleh karena perintah Tuhan Yesus sendiri, supaya orang percaya dan diselamatkan. Pesan ini wajib dan unik. Pesan ini tak tergantikan” (no. 5). Oleh karena itu kita perlu menemukan kembali semangat kerasulan yang  sama seperti yang dialami oleh Jemaat Kristen perdana, yang meskipun kecil dan tak berdaya, mampu – melalui pewartaan dan kesaksian mereka – menyebarkan Injil ke – yang pada waktu itu dikenal sebagai – seluruh dunia.
Oleh karena itu tidaklah mengherankan, kalau Konsili Vatikan II dan Magisterium Gereja berikutnya menekankan mandat misioner ini dengan cara yang sangat istimewa, yaitu mandat yang dipercayakan oleh Kristus kepada para murid-Nya dan yang harus menjadi komitmen seluruh Jemaat Allah: para uskup, para imam, para diakon, para biarawan-biarawati dan kaum awam. Tugas mewartakan Injil di setiap sudut dunia, terutama bagi para uskup yang sedang memangku jabatannya, bertanggung-jawab secara langsung terhadap tugas penginjilan di dunia ini, baik sebagai anggota Konferensi Waligereja maupun sebagai gembala Gereja partikular. Bahkan, mereka itu “telah ditahbiskan bukan hanya untuk keuskupan tertentu saja, melainkan untuk keselamatan seluruh dunia”(Beato Yohanes Paulus II, Ensiklik Redemptoris Missio, no. 63), mereka adalah para“pewarta iman, yang membawa murid-murid baru kepada Kristus “(bdk. Ad Gentes, no. 20) dan mereka harus “menampilkan jiwa dan semangat misioner Umat Allah, sehingga seluruh jemaat keuskupan menjadi misioner” (ibid, no. 38).
Prioritas Penginjilan
Tugas memberitakan Injil bagi seorang gembala tidaklah selesai hanya dengan menaruh perhatian pada umat Allah yang reksa pastoralnya dipercayakan kepadanya atau cukup dengan mengutus para imamnya atau kaum awam Fidei Donum-nyaMelainkan tugas ini harus melibatkan seluruh aktivitas Gereja lokal, di semua sektornya, singkatnya, seluruh keberadaan dan aktivitas Gereja lokal. Konsili Vatikan II dengan jelas menunjukkan hal ini dan Magisterium berikutnya menegaskan kembali hal yang sama secara kuat. Hal ini memerlukan keselarasan gaya hidup, perencanaan pastoral dan organisasi keuskupan yang teratur karena dimensi yang paling fundamental dari keberadaan Gereja tersebut, khususnya di dalam dunia kita yang terus berubah. Dan ini juga berlaku bagi Lembaga-lembaga Hidup Bakti dan Serikat-serikat Hidup Kerasulan, serta bagi gerakan-gerakan gerejani lainnya. Artinya, seluruh bagian dari mosaik besar Gereja harus merasa dipanggil dan dihadapkan pada suatu pertanyaan yang berkaitan dengan tugas memberitakan Injil, agar Kristus dapat diwartakan di mana saja. Kami para pastor, para biarawan-biarawati dan seluruh umat beriman dalam Kristus, harus mengikuti jejak Rasul Paulus, sebagai“orang yang dipenjarakan karena Kristus Yesus untuk kamu orang-orang yang tidak mengenal Allah” (Ef 3:1), yang bekerja, menderita dan berjuang untuk membawa Injil bagi bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah (cf. Kol 1:24-29), tanpa kenal lelah, tanpa kenal waktu atau tanpa sarana apapun untuk membuat Pesan Kristus semakin dikenal.
Juga dewasa ini tugas perutusan kepada bangsa-bangsa (missio ad gentes) harus menjadi horizon dan paradigma yang berkelanjutan bagi setiap usaha gerejani, karena jati diri Gereja itu sendiri dibangun oleh iman kepada Misteri Allah yang mewahyukan Diri-Nya dalam diri Kristus untuk membawa keselamatan bagi kita, dengan memberi kesaksian dan mewartakan tentang Dia kepada dunia sampai Dia datang. Sama seperti Santo Paulus, kita harus memberi perhatian kepada mereka yang jauh, kepada mereka yang belum mengenal Kristus atau yang belum mengalami kebapaan Allah, dengan kesadaran bahwa “kerjasamamisioner itu meliputi bentuk-bentuk baru – bukan hanya bantuan ekonomis, tetapi juga partisipasi langsung” dalam pewartaan Injil (Beato Yohanes Paulus II, Ensiklik RM, no. 82). Perayaan Tahun Iman dan Sinode para Uskup dengan tema Evangelisasi Baru akan menjadi kesempatan yang paling cocok untuk meluncurkan kembali kerjasama misioner, terutama dalam dimensi kedua ini.
Iman dan Pewartaan
Semangat untuk mewartakan Kristus juga mendorong kita untuk membaca sejarah sehingga dapat memahami aneka persoalan, cita-cita dan harapan-harapan umat manusia yang harus disembuhkan, dimurnikan dan dipenuhi oleh Kristus dengan kehadiran-Nya.Pesan-Nya selalu tepat waktu, jatuh tepat di jantung sejarah dan mampu menjawabi kegelisahan yang paling dalam dari setiap manusia. Karena alasan inilah maka semua anggota Gereja harus menyadari bahwa “betapa luas cakrawala misi Gereja dan betapa kompleksnya kondisi dewasa ini untuk menemukan cara-cara baru untuk mengkomunikasikan Firman Allah secara efektif” (Paus Benediktus XVI, Pasca-sinode Anjuran Apostolik Verbum Domini, no. 97). Tuntutan ini, pertama-tama merupakan suatu kesetiaan kepada iman yang diperbaharui baik secara pribadi maupun secara komunitas terhadap Injil Yesus Kristus, “terutama pada era  perubahan yang sangat mendalam dalam diri manusia sebagaimana yang sedang mereka alami dewasa ini” (Surat Apostolik,Porta Fidei, no. 8).
Sejatinya, salah satu kendala terhadap semangat untuk berevangelisasi adalah krisis iman. Krisis ini tidak hanya mendera dunia Barat, tapi juga ternyata telah mendera sebagian besar umat manusia, yang justru sedang mengalami lapar dan haus akan Allah. Karena itu haruslah dihadirkan dan dibawakan roti dan air hidup, seperti seorang perempuan Samaria yang pergi ke sumur Yakub dan bercakap-cakap dengan Kristus. Sebagaimana dikisahkan oleh Penginjil Yohanes, cerita tersebut sangat menarik (bdk. Yoh 4:1-30): perempuan itu bertemu dengan Kristus, yang meminta minum dari padanya. Tetapi kemudian Yesus berbicara kepadanya tentang air baru yang dapat memuaskan dahaga untuk selama-lamanya. Pada awalnya perempuan itu tidak memahami, karena dia berada pada tingkat makna material saja. Tetapi perlahan-lahan perempuan itu dibimbing oleh Tuhan untuk mengalami suatu peziarahan iman yang menghantar perempuan itu mengenal Diri-Nya sebagai Mesias. Dan St. Agustinus mengatakan tentang hal ini: “setelah menerima Kristus Tuhan dalam hatinya, apa lagi yang bisa dilakukan oleh perempuan tadi selain meninggalkan timbanya dan lari ke kampung untuk mewartakan kabar baik?” (Bdk.Homili 15, 30).
Perjumpaannya dengan Kristus sebagai seorang Pribadi yang hidup, yang mampu memuaskan dahaga batin, mau tidak mau menghantar orang kepada keinginan untuk berbagi dengan orang lain tentang sukacita atas kehadiran-Nya dan membuat Diri-Nya semakin dikenal, supaya semua orang dapat mengalami sukacita tersebut. Sangat perlulah untuk memperbarui semangat untuk mengkomunikasikan iman untuk mengembangkan suatu evangelisasi baru bagi jemaat-jemaat dan negara-negara dengan tradisi Kristen yang sangat kuat namun telah kehilangan rujukan dengan Allah sehingga mereka diharapkan dapat menemukan kembali kegembiraan dalam beriman. Perhatian untuk evangelisasi  tidak boleh pernah ada di pinggiran kegiatan-kegiatan gerejawi dan kehidupan pribadi orang-orang Kristen. Sebaliknya, evangelisasi harus menjadi karakter utama dalam kesadaran bahwa mereka adalah tujuan dari pewartaan Injil tersebut dan pada saat yang sama, menjadi misionaris-misionaris Injil. Inti dari pewartaan Injil selalu sama: yaituKerygma tentang Kristus yang wafat dan bangkit kembali demi keselamatan dunia;Kerygma tentang kasih Allah yang mutlak dan total bagi setiap pria dan wanita, yang mencapai puncaknya pada perutusan Putera Tunggal yang kekal abadi, Tuhan Yesus, yang tidak merasa terhina untuk mengambil kerapuhan kodrat manusiawi kita, mencintai dan menebus kodrat manusiawi yang rapuh itu dari dosa dan kematian melalui pengurbanan Diri di kayu Salib.
Iman kepada Allah, dalam proyek cinta kasih yang terlaksana dalam Kristus, pertama-tama dan terutama adalah suatu hadiah dan rahasia (misteri) yang harus diterima dalam sanubari dan dalam kehidupan dengan penuh rasa syukur kepada Tuhan. Namun, iman adalah karunia yang diberikan kepada kita untuk dibagikan. Iman adalah suatu bakat yang diterima supaya dapat menghasilkan buah. Iman adalah cahaya yang tidak boleh disembunyikan, melainkan harus menerangi seluruh rumah. Inilah karunia yang telah diperbuat bagi kita dalam kehidupan kita dan yang tidak boleh disimpan hanya untuk diri kita sendiri.
Pewartaan Menjadi Amal Kasih
“Celakalah aku jika aku tidak memberitakan Injil!”, demikian seruan Rasul Paulus (1 Kor 9:16). Ayat ini memiliki gaung yang kuat bagi setiap orang Kristen dan bagi setiap jemaat Kristen di seluruh dunia. Kesadaran misioner ini juga telah menjadi unsur alamiah bagi Gereja-gereja di tanah-tanah misi, yang sebagian besar anggotanya masih muda, meskipun mereka sendiri masih membutuhkan para misionaris. Banyak imam, biarawan-biarawati dari berbagai belahan dunia, banyak kaum awam dan bahkan seluruh keluarga meninggalkan negara mereka dan komunitas lokal mereka pergi ke Gereja-gereja lain untuk bersaksi dan mewartakan nama Kristus, di mana manusia menemukan keselamatan di dalam nama-Nya. Perutusan semacam ini merupakan ungkapan persekutuan yang mendalam, berbagi dan beramal di antara Gereja-gereja, supaya setiap pria dan wanita dapat mendengar atau mendengarkan kembali pewartaan yang menyelamatkan dan merayakan sakramen-sakramen, sumber kehidupan sejati.
Bersama dengan tanda iman yang luhur-mulia ini dan yang telah diubah menjadi cinta, saya mengenang kembali dan berterima kasih kepada Serikat-serikat Misioner Kepausan, yang telah menjadi sarana-sarana kerjasama dalam misi universal Gereja di seluruh dunia. Melalui aktivitas Serikat-serikat Misioner Kepausan tersebut, pewartaan Injil menjadi suatu tindakan nyata demi sesama, keadilan bagi yang paling miskin dan pendidikan di kampung-kampung yang terpencil dimungkinkan. Demikian juga bantuan medis di daerah-daerah terpencil, pembebasan dari kemiskinan, rehabilitasi terhadap yang terpinggirkan, dukungan untuk pembangunan masyarakat, solusi terhadap perpecahan suku dan hormat terhadap kehidupan dalam semua tahap-nya, dimungkinkan.
Saudara-saudari yang terkasih, saya mohon pada hari misi evangelisasi bagi bangsa-bangsa (ad gentes), khususnya bagi para pelayan, suatu pencurahan Roh Kudus bagi mereka, agar rahmat Allah memampukan mereka untuk memajukan misi evangelisasi dengan teguh dalam sejarah dunia. Bersama dengan Beato John Henry Newman, saya berdoa: “Ya Tuhan, dampingilah para misionaris-Mu di tanah-tanah misi, taruhlah kata-kata yang benar di bibir mereka dan buatlah jerih payah mereka menghasilkan buah berlimpah.” Semoga Santa Perawan Maria, Bunda Gereja dan Bintang Evangelisasi, menyertai semua misionaris Kabar Sukacita (Injil).
Dari Vatikan, 6 Januari 2012, Pesta Penampakan TuhanPaus Benediktus XVI

Terjemahan resmi oleh Karya Kepausan Indonesia (KKI),
Dikutip dari :  katolisitas.org

http://www.santo-laurensius.org/2012/10/20/pesan-bapa-suci-paus-benediktus-xvi-untuk-hari-misi-sedunia-2012/

Berkat Luar Biasa Bagi OMK Indonesia

Dalam Tahun Iman, Bapa Suci Benediktus XVI memberikan indulgensi penuh dengan syarat:
  1. Menginginkannya,
  2. Mengaku Dosa,
  3. Merayakan ekaristi dan menerima komuni,
  4. Mendoakan intensi paus untuk bulan yang bersangkutan (lihat kalendarium liturgi, ujud umum dan ujud misi).
Yang melakukannya secara penuh akan mendapatkannya secara penuh, yang melakukannya sebagian akan mendapatkannya secara sebagian. Indulgensi bisa dimohon untuk diri sendiri maupun orang lain, untuk yang masih di dunia maupun yang sudah meninggal dunia. Pengertian indulgensi silahkan klik http://katolisitas.org/2193/indulgensi-harta-kekayaan-gereja
Khusus untuk peserta IYD 20-26 Oktober 2012, Bapa Suci Benediktus XVI melalui Nuncio Apostolik Indonesia Msgr Antonio Guido Filipazzi akan memberikan berkat apostolik khusus bagi mereka pada tanggal 26 Oktober 2012 di Sanggau serta tanda pelaksanaan penganugerahan indulgensi bagi peserta IYD.
Bapa Suci pun memberikan pesan khusus kepada OMK Indonesia yang akan disampaikan oleh Msgr Antonio Guido Filipazzi. Bapa Suci memandang perlu memberikan semangat kepada OMK Indonesia oleh karena alasan
  1. bahwa OMK Indonesia ada di tengah bangsa yang sedang berjuang menuju ke arah yang lebih berkeasilan dan bermartabat, dan untuk itu OMK diutus mengambil peran penting.
  2. Bahwa OMK Indonesia mengadakan Indonesian Youth Day untuk pertama kalinya, sehingga dipandang perlu diberi berkat khusus yang berlimpah sebagai kekuatan bagi pembinaan OMK dan IYD-IYD selanjutnya yang lebih berbuah kedamaian dan suka cita serta keberanian mewartakan Injil agar berbuah.

RD Johanes Dwi Harsanto,  Imam Diosesan KAS – Sekretaris Eksekutif Komisi Kepemudaan KWI (Komkep KWI)
http://www.santo-laurensius.org/2012/10/12/berkat-luar-biasa-bagi-omk-indonesia/

Paus meresmikan Tahun Iman dan mengajak untuk menemukan kembali Konsili Vatikan II (Video)




INFORMASI PAROKI & KEGIATAN PAROKI - 23/09/2018

INFORMASI PAROKI & KEGIATAN PAROKI MISA REMAJA 30 SEPTEMBER 2018. Seluruh remaja usia BIR(10- 15th) diundang hadir untuk menghadiri Misa...