Showing posts with label kaj. Show all posts
Showing posts with label kaj. Show all posts

Sunday, January 15, 2017

Surat Keluarga Februari 2014

Setiap keluarga berpilar cinta
 Tetapi cinta sendiri tidak berpilar
 Karena cinta hanya perlu dasar
 Yang menetapkannya menjadi kekuatan
 Bukan batasan dan syarat yang bertepi

Cinta juga tanpa ujung
 Sebab cinta sejati sepanjang masa
 Dan tindakan adalah seni menampilkannya
 Supaya orang melihat cinta yang nyata
 Dalam kata-kata yang tidak kosong belaka.

 Bersama Allah dan kasih-Nya
 Mari membuat cinta menjadi karya nyata
 Lawan kesempitan cinta diri
 Supaya Allah jangan menjadi pendusta
 Tetapi menampilkan wajah ramah-Nya
 Keluarga-keluarga Katolik yang terkasih

Saya mengucapkan Selamat Tahun Baru Imlek untuk Anda yang merayakannya. Saya juga mengucapkan Selamat Hari Kasih Sayang. Semoga di hari-hari indah itu kita bisa terus mengembangkan kemampuan dan talenta kita untuk mengasihi orang yang paling dekat, yaitu pasangan dan keluarga kita. Betapa indahnya memperingati hari-hari yang berpesan kasih.
Semoga di tahun baru ini Anda semua mengalami damai sejahtera, semangat kerja, dan terus mengasihi keluarga Anda masing-masing. Tradisi Imlek adalah tradisi filosofis yang mengatakan kepada kita bagaimana kita bisa mengungkapkan kemanusiaan kita melalui tradisi yang manusiawi, tradisi kekeluargaan, tradisi yang bisa mengekspresikan kasih kepada orangtua dan anggota keluarga lainnya.
Melalui tradisi macam-macam yang kita rayakan, kita diperlengkapi oleh pengetahuan mengenai bagaimana seseorang harus menempatkan dirinya di tengah keluarga dan bagaimana ia sendiri mengungkapkan rasa syukur dalam keluarga melalui tindakan yang baik penuh kasih kepada mereka, khususnya yang lebih tua, dan kepada anak-anak dan kerabat yang lain.
Beberapa tradisi menjadi begitu bernilai kemanusiaan yang baik. Tradisi yang sangat luhur ini sangat cocok dengan iman katolik kita, yaitu menghormati orang tua dan mencintai mereka sepenuh hati kita, khususnya mereka yang sudah lanjut usia dan mengalami kesulitan atau sakit. Lebih khusus lagi untuk orangtua yang sulit dipahami, mengalami kesepian, atau kesulitan komunikasi.
Hari Kasih Sayang (Valentine’s Day) memang sangat dekat pesannya dengan Tahun Baru Imlek, yaitu pesan moral keluarga. Maka memperhatikan orang-orang di rumah kita adalah tindakan perayaannya. Khususnya, untuk anak-anak kita yang mengalami kesulitan kepribadian, belajar, pergaulan, atau komunikasi dengan kita. Atau untuk pasangan yang mengalami kesulitan berelasi dengan kita.
Hal yang lain lagi adalah mencintai mereka dalam iman. Apakah kita sudah selalu mendoakan anak-anak, orangtua, atau pasangan kita dalam iman? Sebenarnya ada banyak kesulitan dialami justru karena iman yang dangkal atau bahkan kering. Mendoakan keluarga untuk kesuksesan itu penting, tetapi lebih penting lagi memperhatikan hidup beriman mereka. Inilah cinta sejati dalam Tuhan!
Keluarga-keluarga di Keuskupan Agung Jakarta, keluarga adalah tempat persemaian iman yang pertama, maka jangan lewatkan kesempatan itu mulai hari ini juga. Ketika kita berusia lanjut, kita akan menuai kepuasan batin melihat putera-puteri kita bertumbuh bukan hanya dalam pengetahuan, atau harta, tetapi bertumbuh menjadi “kekasih-kekasih Tuhan”. Apa yang harus kita buat untuk mereka? Sekali lagi mencintai dan melayani mereka dalam iman.
Ajaklah secara rutin keluarga Anda, tanpa kecuali, ke Gereja. Ciptakan suasana rohani atau ajaklah mereka mengikuti perayaan ekaristi di luar hari minggu untuk menjamin kedekatan mereka dengan liturgi Gereja dan doa.
Paus Fransiskus mengajak seluruh keluarga di dunia untuk menjadi “Misionaris Keluarga” dengan mengadakan evangelisasi injil melalui cinta kasih yang sungguh. “Menginjili dengan kasih, membawa semua orang kepada Allah”, demikian Paus mengatakannya. “Katakanlah kepada semua orang yang Anda jumpai di jalan bahwa Allah mengasihi manusia sebagaimana adanya, meskipun penuh keterbatasan, kesalahan dan dosa.
Katekese baru yang disampaikan oleh Paus ini pantas kita cermati. Syarat melakukan itu adalah memiliki “Sukacita Iman” dan “Semangat komunitas Kristiani”. Inilah cara kerja kita sebagai umat dan keluarga pilihan Allah: memberi warna “merah muda” pada pewartaan kasih Tuhan  di dalam keluarga. Paus juga melengkapi seruannya dengan ini: “Kita perlu memberi perhatian khusus kepada anggota keluarga yang paling lemah”.
Di atas semua itu, kita perlu mengingat bahwa karya cinta kasih adalah karya Roh Kudus. Roh Allah itu selalu mendahului kita melakukan kasih. Maka mintalah rahmat Roh Kudus, berdoalah dengan iman dan kasih, maka segala sesuatu akan lebih mudah kita alami dan jalani. Semoga rahmat Allah memberi pengharapan baru bagi keluarga kita semua. Amin
Salam Yesus, Maria, dan Yusuf
Rm. Alexander Erwin Santoso, MSF
by : jw
http://www.santo-laurensius.org/2014/02/11/surat-keluarga-februari-2014/

SURAT KELUARGA DESEMBER 2013

Salam sejahtera
Keluarga keluarga KAJ terkasih, memasuki masa adven ini sangat menggembirakan, karena kita kembali memasuki bulan keluarga. Tema "Bertumbuh di Nazareth" dipilih supaya keluarga-keluarga semakin membekali diri untuk bertumbuh dalam iman, pengharapan dan kasih. Semua itu dapat terjadi kalau kita bertumbuh dalam kebersamaan juga.Dengan penuh harapan, saya berharap kita semua dapat hadir di lingkungan dan wilayah bersama seluruh keluarga. Kesadaran untuk beracara bersama seluruh keluarga saja sudah menjadi modal awal untuk memulai suatu babak baru perubahan hidup bersama dan rohani keluarga. Saya ingin Anda sekeluarga mengalaminya. Ada banyak keluhan tentang sulitnya mengumpulkan seluruh keluarga mengikuti acara adven di lingkungan. Hal itu tentu menjadi perjuangan kita semua yang belum biasa datang ke pertemuan bersama. Saya sangat memahami kesulitan ini. Akan tetapi, sesuatu yang sulit semoga jangan melemahkan semangat kit bersam untuk mewujudkan pertemuan yang makin "ramah keluarga". Dalm setiap pertemuan Adven, Tuhan, melalui Gereja memberi kesempatan kepada kita untuk berjumpa, beracara, dan berbicara. Kerinduan kita semua adalah menjadikan keluarga sebagai contoh hidup beriman dan hidup bersama yang membuat "kerasan" bagi anggota naggotanya. Kita semua tentu mendambakan sebuah keluarga yang diberkati dan memberkati. Itulah kerinduan dan semangat Bulan Keluarga ini. Jadikanlah kesulitan berkumpul bersama sebagai indikasi masihperlunya menjadikan keluarga sebagai komunitas Gereja terkecil yang paling penting diperhatikan. Anda akan merasakan suatu kegembiraan tersendiri jika suatu saat seluruh keluarga bisa mengikuti acara lingkungan bersama. Kebersamaan seperti itu akan memberi semangat kepada keluarga Anda juga untuk belajar berkomunikasi satu sama lain. Perjuangan untuk berkomunikasi dan berkumpul selalu menjadi bagian dari perjuangan dan pergumulan setiap keluarga. Nikmati dan jalanilah tanggung jawab kita masing-masing untuk saling berbicara, supaya Tuhan semakin kelihatan berkat-Nya dalam keluarga kita. Tidak mungkinlah mengembangkan iman pengharapan dan cinta kasih jika kebersaman tidak terjadi. Meskipun tema bertumbuh dalam kebersamaan ditempatkan di minggu ke-4, tetapi tema ini sebenarnya tema sentral yang memungkinkan tema lain menjadi nyata. Jangan berhenti mengajak dan merayu anak-anak di usia manapun untuk memeriahkan Adven di lingkungan atau wilayah di tempat Anda. Keberhasilan Anda akan menjadi hadiah istimewa bahkan sebelum Natal dirayakan. Bayangkanlah, keluarga Anda menikmati "season greeting" dalam arti yang sebenarnya: saling menyapa dan berinteraksi iman bersama. Bagikanlah pengalaman keluarga Anda sekeluarga apa adanya, khususnya pengalaman yang baik yang bisa memperkaya keluarga yang lain. Lentera tidak disembunyikan di bawah tempat tidur, tetapi ditaruh di tempat yang bisa menerangi jalan orang lain, bukan? Matius 5:16 mengatakan "Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga". Jika keluarga kita berada dalam kesulitan, dengarkanlah tetangga Anda berkisah dan belajarlah dari kebaikan yang mereka alami. Inilah pertemuan yang akan saling memberi inspirasi antar keluarga di lingkungan/wilayah. Jangan bersembunyi di rumah Anda sendiri karena Anda bisa menemukn terang di antara keluarga lain di luar rumah Anda juga. Keluarga Kudus pun mendapat peneguhan dari banyak tamu sederhana di kandang Betlehem. Mereka memberi hadiah sesuai dengan keunikan masing-masing. Yang tak berharta berbagi lagu sukacita dan barang sederhana. Yang punya harta mendukung dengan milik dan kekayaannya (emas, dupa, dan wewangian). Indahnya berbagi! Apa yang akan Anda bagikan tahun ini? Pengalaman baik atau berkat Tuhan yang lain? Mari menjadikan juga bulan keluarga ini menjadi bulan memperluas keluarga kita di dunia, di keuskupan kita. Ambillah kesempatan untuk berbagi di panti-panti asuhan atau panti jompo supaya Natal juga menyukakan hati mereka juga. Blan keluarga, bulan cinta kasih, pengharapan, dan iman dalam kebersamaan. Selamat Adven dan Selamat Natal untuk Anda keluarga- keluarga di Keuskupan Agung Jakarta. Tuhan memberkati. Rm Alexander Erwin MSF

http://www.santo-laurensius.org/2013/12/17/surat-keluarga-desember-2013/

SURAT KELUARGA NOVEMBER 2013

SURAT KELUARGA NOVEMBER 2013
Menemukan Kembali Sukacita Yang Tertunda
Bukan membayar banyak hal dengan barang-barang
Tetapi menjadikan harta di dalam hati yang baik dan tulus
Sebagai jembatan menemukan kebahagiaan
Bersama keluarga di rumah.
Keluarga-keluarga di KAJ yang  terkasih, Di penghujung tahun liturgi (berakhir di bulan November) ini, saya ingin mengajak Anda semua untuk melihat betapa indahnya hidup yang berlimpah bersama keluarga.Ada banyak hal yang dapat kita kenang dalam keluarga. Ada jutaan kenangan di pikiran kita saat kita memikirkan keluarga. Tanpa sadar, sebenarnya kita pun selalu menampilkan masa lalu keluarga ketika kita bekerja, bertindak, atau berpikir dan berkeputusan. Semua dipengaruhi masa bersama keluarga.
Keluarga memang kekayaan yang tak habis digali, karena kita semua pernah berada di sana dan masih akan terus berada di sana. Lihatlah pada bulan ini, kita masih mengenang para arwah yang kita doakan, karena kita pernah dan selalu mengasihi mereka. Kita bahkan ingin segala kebaikan untuk mereka, meskipun mereka tiada lagi bersama kita. Indahnya memikirkan kebaikan mereka yang sudah tiada!
Lebih indah lagi kalau kita boleh menikmati kebersamaan yang indah selamakita bersama hidup! Mengenang memang indah, tetapi keindahan itusudah berlalu dan tiadalagi. Kalau kita menciptakan dan menikmatinya selama hidup, maka kebahagiaan itu menjadi nyata, bukan kenangan masa lalu saja.
Untuk diskusi tentang hal-hal yang tidak sangat penting, bersikaplah rendahhati untuk memberikan ruang bagi orangtua untuk merasa diterima. Kapan lagi kita member kebahagiaan jika tidak sekarang? Berbahagialah jika Anda masih bersama orangtua, karena Anda masih mempunyai waktu untuk membahagiakan mereka, bukan hanya mempersembahkan doa arwah!
Bahagiakan anak-anak kita! Kenangan yang indah bersama orangtua adalah bekal yang akan membuat hari-hari anak-anak di kemudian hari lebih “ringan”, karena dipenuhi kenangan indah bersama orangtua mereka. Jangan buat anak-anak tertekan terlalu banyak oleh kewajiban danambisi Anda. Berilahruang kepada mereka menjadi diri sendiri dan menikmati masa anak-anak dengan sewajarnya.
Jika para orang tua memberi tempat untuk pendidikan nilai seperti sopan santun, kesabaran, kejujuran, ketekunan, kepercayaan, ketulusan, kemurahan hati, dan kerendahan hati, maka anak-anak akan mendapat “sekolah nilai” terbaik semasa hidup kanak-kanaknya. Musuh dari pendidikan nilai itu adalah ambisi membuta, semangat materialis, sikap acuh takacuh, individualisme, dan relativisme iman (kurang beriman).
Sebentar lagi juga kita akan mendatangi BULAN KELUARGA, pada masa ADVEN. Saya ingin mengajak Anda semua keluarga-keluarga yang sangat saya kasihi, untuk hadir bersama-sama dalam pertemuan iman dan rekoleksi keluarga di lingkungan dan wilayah.Sengaja ajakan ini saya mulai sekarang, agar Anda semua menyambutnya dengan penuh kegembiraan seperti tahun lalu. Ajak seluruh keluarga, anak-anak maupun orang tua.
Bahagiakan orangtua kita! Lakukan apapun semampu kita, sewajarnya, sekedar membuat bahagia dalam keterbatasan usia lanjut mereka. Buat para orangtua mensyukuri kehadiran kita anak-anaknya. Sedapat mungkin belajarlah untuk memahami dan mengambil risiko untuk suatu hubungan yang mungkin bisa melukai kita.
Kita melihat ada begitu banyak keluarga Katolik yang baik. Kita menyaksikan ada banyak kesaksian hidup keluarga yang baik di antara kita. Mari menambah jumlah keluarga-keluarga yang baik. Persembahkan sebuah keluarga yang menyenangkan hati Tuhan.Berilah setiap hari suatu keluarga yang hidup dalam ketundukan pada sabda-sabda-Nya; keluarga yang rindu untuk bertemu dalam doa bersama, sebuah keluarga seperti keluarga Nazareth: Yesus, Maria, danYosef.
Semoga bulan November yang disemarakkan hujan ini menjadi kesegaran baruuntuk kita semua.Semoga suasana segar juga tinggal dalam rumah tangga kita masing-masing. Saya ingin selalu berdoa untuk Anda, juga untuk Anda yang masih berada dalam situasi sulit keluarga. Tuhan tidak pernah merencanakan yang buruk karena Ia masih merindukan kita turut terlibat aktif bersama-Nya memperbaiki situasi yang kurang baik.
Selamat memasuki bulan indah ini. Selamat merencanakan pertemuan keluarga.Selamat menemukan cinta kasih yang hangat dalam keluarga Anda masing-masing. Saya dan para imam di paroki dan di mana saja akanselalu berdoa untuk semua keluarga di KAJ tercinta ini. Tuhan Yesus Sang Raja Semesta Alam akan merajai dan memberkati keluarga kita semua. Amin.
Salam dalamYesus, Maria, danYosef
Alexander Erwin Santoso MSF
Ketua Komisi Kerasulan Keluarga KAJ   


http://www.santo-laurensius.org/2013/11/07/3754/

Siapakah Bunda Maria Dalam Perjuangan Keluarga Kita?

Keluarga-keluarga KAJ yang terkasih, Bulan Rosario kembali mendatangi kita sesudah kita diperkaya dengan kekayaan Kitab Suci yang memberi makna bagi hidup keluarga kita. Kali ini kita diajak oleh Gereja untuk mendoakan bersama doa-doa Gereja bersama Maria, Bunda semua orang beriman.
Ketika kita mendoakan Rosario, kadang-kadang hati kita tidak sungguh sedang berdoa. Kita mendoakan butir-butir itu dengan hati yang penuh cinta pada Sang Bunda, sementara merenungkan sikap dan perbuatan Maria sebagai teladan hidup beriman kita dalam keluarga. Maria adalah sungguh pribadi yang tak pernah habis kita gali untuk kekayaan iman.
Hati saya sangat tergugah menyaksikan ada begitu banyak ibu dan bapak, sebagai orangtua yang sangat bertanggung jawab. Mereka yang berjuang dengan gaji pas-pasan, dengan anak-anak yang terus membutuhkan biaya, tetapi mereka dengan gagah berani menjalani hidup tanpa mengeluh atau merasa ditinggalkan oleh Tuhan. Di antara mereka, banyak yang berprofesi sebagai penjual makanan di pinggir jalan, tukang pengangkut sampah, sampai yang biasa menjadi pembantu rumah tangga.
Rasanya, melihat perjuangan para  orangtua yang mencintai keluarganya membuat kehidupan Maria (dan Yusuf) menjadi terwujud kembali. Mereka berhasil menemukan kembali cinta kasih Allah di tengah pengalaman hidup yang, kadang-kadang, menurut banyak orang adalah penderitaan yang sering melemahkan iman.
Seorang nenek, usia 59 tahun,  adalah seorang Katolik yang sederhana. Ia hidup bersama 2 cucunya yang ditinggalkan oleh kedua orangtua mereka karena perceraian dan berjuang untuk menghidupi mereka yang dikasihinya. Sebagai buruh cuci, ia pasti jauh dari cukup. Banyak teman se-Gereja yang menolongnya mencari uang dengan mencucikan pakaian mereka.
Nenek ini tidak mengijinkan kedua cucunya ikut mencuci, tetapi ia memberi mereka kesempatan untuk menemaninya mengantarkan cucian. Kesedihannya bukan karena ia harus bekerja keras dan tetap miskin. Ia sedih membayangkan kedua cucunya tidak beribu dan berayah. Ia tidak tenggelam mengasihani diri, tetapi justru terus mencintai. Di tengah kesibukannya itu, ia tetap menemani kedua cucu yang masih kelas 2 dan  4 ke sekolah dan menjemput mereka juga.
Untuk kebanyakan orang di kota ini, barangkali cerita macam itu mudah terlupakan, karena terlalu banyaknya kisah yang sama. Tetapi kisah perjuangan satu orang seperti Maria jugalah yang membuat Gereja kita masih menghormati pribadi itu. Menghormati bukan semata “meminta-minta” saja, tetapi lebih meneladan hidupnya, sehingga ketika mengalami pengalaman sulit dan menantang, tidak putus asa.
Keluarga keluarga yang terkasih, Jakarta dan sekitarnya bisa membuat kita hanyut dalam pengalaman berlimpah harta dan gemerlap kota. Akan tetapi tidak sedikit juga yang masih mengalami perjuangan dan duka yang mendalam menjalani hidupnya. Ada juga yang menjadi putus asa dan berhenti berjuang. Perceraian, perpisahan, atau pertengkaran yang terus menerus dapat menjadi cara untuk menyelesaikan masalah.
Akan tetapi sebagai orang beriman, seperti Maria, kita perlu membiarkan Allah mendidik kita dan menguatkan kita  melalui apa saja yang tak terpikirkan. Asalkan kita tidak putus asa, maka pengharapan akan selalu diberikan dan menyelamatkan kita dari pengalaman merasa tak berarti.
Perjuangan setiap orang pasti berbeda. Kesulitan setiap orang pasti ada, betapapun makmur tampaknya. Jangan merasa sendirian di tengah kota yang “berebut” rejeki ini. Masih ada Tuhan yang selalu menjamin hidup kita, seperti Rosario yang tak ada ujungnya, tetapi bergantungkan salib yang membuat segala sesuatu menjadi alasan rohani untuk tanpa putus berdoa kepada Allah. “Sekalipun tentara berkemah mengepung aku, tidak takut hatiku; sekalipun timbul peperangan melawan aku, dalam hal itupun aku tetap percaya.” (Mzm.27:3)
Maria pernah menjadi orang paling “malu” dan takut. Ia pernah menjadi orang yang paling bingung dan tak mengerti. Akan tetapi, ia ternyata justru bisa menjadi ibu yang membuat Sang Putera mempunyai persiapan yang cukup untuk menjadi Orang Besar yang dikagumi sepanjang masa. Ketegaran dan keperkasaan Maria semoga menjadi teladan bagi Bapak-Ibu yang merasa ragu-ragu dan cemas akan keluarganya.
Tuhan punya banyak cara untuk menolong kita, asalkan kita tidak ragu dan kehilangan iman. “Orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi tahir, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik. Dan berbahagialah orang yang tidak menjadi kecewa dan menolak Aku." (Luk.7:22-23). Janji Tuhan ini indah, hanya bagi mereka yang tidak hanya berdoa, tetapi juga mempercayai apa yang didoakannya.
Marilah menyambut Rosario setiap hari dengan hati gembira, karena bersama doa yang panjang itu, kita menemukan saat paling mesra dengan Tuhan. Rosario membuat kita menikmati setiap kata wasiat Salam Maria, Bapa Kami, Kemuliaan, Terpujilah, dan doa pribadi menjadi semakin bermakna bagi hidup dan perjuangan di dalamnya. Selamat merenungkan.
Tuhan Yesus memberkati perjalanan hidup keluarga kita semua. Amin
Rm. Alexander Erwin Santoso MSF
Komisi Kerasulan Keluarga KAJ

http://www.santo-laurensius.org/2013/10/06/surat-keluarga-oktober-2013/

KELUARGA MENCINTAI KITAB SUCI

Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluarga kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib.” (1 Petrus 2:9)
Keluarga-keluarga KAJ yang terkasih, Bulan Kitab Suci sedang mendatangi kita sekalian dan memberkati kita semua dengan sabda-sabda Tuhan yang menghidupkan dan memberi inspirasi hidup kepada kita dan keluarga kita. Banyak hal yang spiritual bisa didapat melalui kebersamaan dalam pendalaman Kitab Suci bulan ini. Semoga Anda semua sudah mulai menjalani dan mengikutinya di lingkungan dan wilayah Anda.
Ada seorang anak muda kelas 2 SMP, Nathanael namanya, bertanya pada saya, “Romo, Tuhan Yesus kan homilinya banyak, kok ditulisnya cuma sedikit ya? Yang banyak kan ceritanya. Lalu kalau kita baca homilinya Tuhan Yesus, apa masih bisa cocok tuh, kan omongnya masih soal pertanian dan nelayan?” Terus terang saya kagum juga dengan anak SMP ini. Amat jarang anak-anak menyukai Kitab Suci, apalagi sampai mendetil seperti itu.
Membaca pikiran anak-anak, buah pikirnya, dan ide-idenya, membuat kita segera sadar apa yang disukai dan diminati dalam hidupnya. Nael, si remaja tadi, tentu paling tidak pernah membaca Kitab Suci secara serius dan mendalaminya. Tulisan Kitab Suci memang harus diakui bukan tulisan untuk anak-anak dan remaja. Bahasa formal dan puitis tentu bukan bahasa mudah untuk dipahami oleh anak-anak seusianya. Tapi apa yang mau kita katakan seandainya pertanyaan itu disampaikan pada kita?
Kitab Suci di satu sisi memang amat penting bagi pengenalan kita akan tokoh-tokoh didalamnya, pesan-pesan, dan terutama Yesus sebagai Tuhan Perjanjian Baru. Di sisi lain, bahasa yang tidak mudah dan kurang familiar menghambat anak-anak muda untuk mencintainya. Usaha memperkenalkan Kitab Suci menjadi bacaan yang diminati harus diusahakan sejak kecil, melalui kisah-kisah manis, kisah-kisah menakjubkan, atau kisah-kisah perumpamaan yang cukup menarik untuk disimak.
Saya penuh harapan pada keluarga-keluarga semua, agar sebagai orangtua, banyak pasutri mau memperkenalkan anak-anak dan remaja pada hidup rohani melalui Kitab Suci. Saya ingin mengatakan pada Nael bahwa sabda Yesus masih sangat bergema bagi hidup kita sekarang, karena kata-katanya adalah dasar pengetahuan hidup rohani bagi kita. Tapi saya dilanda keraguan, apakah anak tadi tertarik kalau saya menerangkannya panjang lebar?
Ternyata saya salah.Anak tadi, sangat tertarik dan mengerti kisah-kisah besar dalam Kitab Suci, karena ayahnya yang seorang petugas Seksi Kitab Suci di paroki, menggemari buku suci ini dan membiasakan anak-anak mereka membacanya sebelum tidur malam. Barangkali agak jarang orangtua membuat tradisi seperti ini. Karena terbiasa, banyak cerita menarik diketahui Nael melalui tradisi cerita ayahnya. Ayahnya hanya berpesan, “ Kalau membaca Alkitabnya membosankan, baca aja cerita-ceritanya di komik itu.”
Bulan Kitab Suci adalah suatu peringatan buat kita, agar kita mengerti pentingnya buku kehidupan itu buat hidup beriman kita. Jangan takut-takuti anak-anak, misalnya dengan mengatakan “Tuhan marah lho!” kalau mereka enggan membacanya. Bacakanlah, sambil mengambil waktu berkualitas bersama, Anda bisa membacakan suatu kisah menarik baginya tanpa memberi ancaman, agar Tuhan tetap ramah buat anak-anak.
Keluarga-keluarga terkasih, khususnya pada orangtua, siapa yang akan memperbesar Kerajaan Allah di dunia ini kelak? Bukankah generasi muda kita? Kalau Anda sangat tertarik dengan hidup menggereja, jangan lupa bahwa pemilik Gereja kita masa depan adalah anak-anak dan cucu-cucu kita. Bantulah Tuhan menjamah mereka melalui kata-kata-Nya sendiri. Anda cukup menyediakan waktu, menyediakan buku cerita, Alkitab, dan kesempatan manis untuk membacanya.
Saya sangat yakin, sabda Allah yang kekal selama-lamanya itu akan tetap ada di hati setiap kita, juga generasi muda kita, jika kita memperkenalkannya. Penuhilah pertemuan lingkungan, ajaklah seluruh keluarga, jika mungkin, supaya mereka tahu bahwa sabda itu masih berkuasa dan berguna sampai saat ini, seperti pertanyaan Nathanael tadi.
Lihatlah tema-tema dalam Bulan Kitab Suci di KAJ ini: Mengampuni saudara, Pasangan yang setia, Mengasihi orangtua, dan menjadi utusan Allah yang berkualitas, semuanya adalah tema-tema yang paling mendasar bagi hidup keluarga dan hidup bersama kita.
Saya berdoa untuk seluruh keluarga di Keuskupan Agung Jakarta ini, agar gema suara Tuhan dalam Kitab Suci menginspirasi, membarui, dan meneguhkan kita semua. Tidak ada buku terbaik yang pernah bisa menginspirasi hidup pribadi dan hidup bersama kita, selain Kitab Suci yang tetap kekal selama-lamanya.Tuhan memberkati kita semua

“Sebab semua yang hidup adalah seperti rumput dan segala kemuliaan-Nya seperti bunga rumput, rumput menjadi kering, dan bunga gugur, tetapi firman Tuhan tetap untuk selama-lamanya.”.. (I Petrus 1:25)
  Salam dalam Yesus, Maria, dan Yusuf Rm. Alexander Erwin Santoso MSF

http://www.santo-laurensius.org/2013/09/07/keluarga-mencintai-kitab-suci/

Korupsi Bisa Dimulai dari Keluarga

Keluarga-keluarga di Keuskupan Agung Jakarta,
Salam sejahtera..
kita telah memasuki bulan Mei, di mana banyak orang akan mengunjungi tempat-tempat ziarah Maria dan berdoa bersama Sang Bunda yang selalu menjadi perantara setiap doa kita. Saya ingin berdoa bersama Anda dan Sang Bunda untuk segala kebaikan setiap keluarga kita di Keuskupan tercinta ini. Semoga rahmat keibuan Bunda memampukan kita selalu berada dalam situasi rahmat Allah Yang Maharahim. Amin
Melihat situasi Negara kita beberapa dekade ini, korupsi menjadi salah satu ciri khas bangsa dan berita yang tak pernah berhenti dikupas, karena melanda semua kalangan dan  akhirnya menjadi berita yang biasa. Semakin lama, bentuk, macam, dan jumlah korupsi semakin banyak dan seakan-akan fenomena alamiah dan manusiawi. Apakah hal ini akan terus terjadi dan semakin menjadi-jadi?
Setiap hari orang mencemooh para koruptor dan membicarakan mereka di media-media masa, sementara banyak orang juga pada waktu yang sama melakukannya dengan bentuk dan jumlah yang berbeda. Korupsi uang, waktu, kesempatan, dan bahkan korupsi milik orang lain yang lemah. Fenomena ini juga dilakukan tak terbatas pada agama, ras, suku, tingkat ekonomi, dan profesi. Siapa yang masih bisa jujur dan adil sekarang ini?
Mari melihat kehidupan keluarga kita. Sering kali kita menabur benih benih kecurangan sejak anak-anak kita berada di bawah pengasuhan kita. Kehidupan rumah tangga kita telah memperkenalkan dan bahkan mempraktekkan korupsi dengan cara yang halus sampai cara yang paling kasar.
Kita sering membuat manipulasi di rumah, melalui kata-kata yang tidak jujur, bersikap tidak adil pada anggota keluarga, atau menggunakan fasilitas rumah tangga dengan sembarangan. Anak-anak bisa menyaksikan bagaimana orangtuanya tidak masuk kerja dan membuat surat dokter palsu. Mereka juga ada yang terbiasa berbohong dengan menyampaikan pesan palsu “Mama atau Papa tidak ada di rumah..”.
Benih-benih korupsi, kolusi, atau nepotisme (KKN) memang ditaburkan di rumah. Pelajaran pertama berlangsung sangat halus dan mungkin tidak sejelas pencurian. Akan tetapi, anggota keluarga telah dibiasakan menggunakan cara-cara tidak jujur untuk menyelesaikan persoalan dalam hidup mereka. Tindakan korupsi bisa dimulai dari keputusan untuk membolos, memakai uang sekolah untuk bermain games, bahkan sampai kerjasama untuk memanipulasi harga barang yang dibeli dengan menyebutkan nominal yang tidak benar untuk memakai “uang kembalian”.
Iman sebagai orang-orang Katolik mengambil risiko menjadi “lain” di antara banyak orang yang merasa biasa dengan tindakan korupsi dan pembohongan. Kita harus mempunyai ideal dan cita-cita yang tinggi untuk menjunjung kebenaran dan tidak merugikan banyak orang yang lemah. Melalui latihan yang praktis dalam hidup keluarga sehari-hari, kita bisa membiasakan anggota keluarga untuk bersikap jujur dan tidak mencari keuntungan sendiri.
Surat pertama St. Petrus menyebutkan demikian: “Gembalakanlah kawanan domba Allah yang ada padamu, jangan dengan paksa, tetapi dengan sukarela sesuai dengan kehendak Allah, dan jangan karena mau mencari keuntungan, tetapi dengan pengabdian diri.” (I Pet. 5:2) Pengabdian dan kerelaan membantu sesama adalah keutamaan yang dijunjung tinggi oleh pengikut Kristus, maka kita pun perlu terus memperjuangkan nilai ini sebagai bentuk kesaksian yang asli.
Sungguh indah menyaksikan seorang anak mengembalikan barang yang ditemukannya di kelas. Menyenangkan melihat setiap anak sekolah berusaha keras untuk berlaku jujur dalam menyelesaikan soal-soal ujiannya dan tidak suka membolos. Pencatatan yang teliti dan terbuka untuk setiap transaksi keuangan, bahkan untuk keperluan kecil di rumah, bisa menjadi cara efektif untuk membiasakan budaya anti korupsi dan anti ketidakadilan.
Keluarga-keluarga Katolik yang terkasih, mari kita sempurnakan hidup kita, bukan hanya dengan mengevaluasi orang lain yang melakukan kejahatan korupsi, kolusi, dan nepotisme, melainkan juga mau memulai segala sesuatunya dari dunia kecil keluarga kita. Kita budayakan suatu cara hidup yang lebih adil, tangguh, mencintai proses, dan tentu saja mengimani bahwa Allah melihat segala sesuatu yang kita lakukan setiap saat. Semoga Dia membantu kita untuk mewujudkan dunia kita yang lebih baik lagi. Amin
Salam Keluarga Kudus
Alexander Erwin MSF
http://www.santo-laurensius.org/2013/05/02/korupsi-bisa-dimulai-dari-keluarga/

Saturday, January 14, 2017

PERATURAN PANTANG DAN PUASA KEUSKUPAN AGUNG JAKARTA TAHUN 2013

TEMA : “Makin Beriman, Makin Bersaudara, Makin berbelarasa”
Masa Prapaskah/ Waktu Puasa Tahun 2013 dimulai pada hari Rabu Abu, 13 Februari sampai dengan hari Sabtu, 30 Maret 2013.
“Semua orang beriman kristiani menurut cara masing-masing wajib melakukan tobat demi hukum Ilahi’ (KHK k.1249). Dalam masa tobat ini Gereja mengajak umatnya “secara khusus meluangkan waktu untuk berdoa, menjalankan ibadat dan karya amalkasih, menyangkal diri sendiri dengan melaksanakan kewajiban-kewajibannya secara lebih setia dan terutama dengan berpuasa dan berpantang” (ibid). Semua orang beriman diajak untuk merefleksikan pengalaman hidup dan mengadakan pembaharuan untuk semakin setia sebagai murid Yesus.
Dalam rangka pertobatan dan pembaharuan hidup beriman, Gereja mengajak kita semua untuk mewujudkannya, terutama dalam masa prapaskah ini dengan memperhatikan beberapa ketentuan berikut ini :
Dalam Masa Prapaskah kita diwajibkan:
  • Berpantang dan berpuasa pada hari Rabu, 13 Februari dan hari Jumat Suci, 29 Maret 2013. Pada hari Jumat lain-lainnya dalam Masa Prapaskah hanya berpantang saja.
  • Yang diwajibkan berpuasa menurut Hukum Gereja yang baru adalah semua yang sudah dewasa sampai awal tahun ke enam puluh (KHK k.1252). Yang disebut dewasa adalah orang yang genap berumur delapanbelas tahun (KHK k.97 §1).
  • Puasa artinya: makan kenyang satu kali sehari.
  • Yang diwajibkan berpantang: semua yang sudah berumur 14 tahun ke atas (KHK k.1252).
  • Pantang yang dimaksud di sini: tiap keluarga atau kelompok atau perorangan memilih dan menentukan sendiri, misalnya: pantang daging, pantang garam, pantang jajan, pantang rokok, dll.
  • Dalam rangka mewujudkan pertobatan ekologis, kita diajak untuk ambil bagian dalam gerakan pantang plastik dan styrofoam.
Untuk memaknai masa prapaskah ini marilah kita mengusahakan orientasi dan perilaku yang membuat kita semua makin beriman, makin bersaudara dan makin berbela rasa. Kita usahakan agar suasana tobat dan syukur mewarnai masa penuh rahmat ini. Sangat dianjurkan agar berbagai kegiatan yang bersuasana pesta, misalnya: perkawinan, tidak dilakukan dalam kesempatan ini. Namun jika ada alasan yang berat untuk melakukannya, hendaklah tetap dilaksanakan secara sederhana.
Semoga dengan menjalani masa prapaskah ini, iman kita semakin diteguhkan. Kita percaya dengan-Nya persaudaraan kita akan semakin diakrabkan dan pada gilirannya kita semakin berbela rasa terhadap saudara-saudari kita yang menderita.
Jakarta, 9 Februari 2013
Mgr. Ignatius Suharyo
Uskup Keuskupan Agung Jakarta
http://www.santo-laurensius.org/2013/02/14/peraturan-pantang-dan-puasa-keuskupan-agung-jakarta-tahun-2013/

Mars “Berbela Rasa” APP 2013 KAJ



http://www.santo-laurensius.org/2013/02/07/mars-berbela-rasa-app-2013-kaj/

Friday, January 13, 2017

BERANI JADI IMAM DIOSESAN JAKARTA ?

Seminari Tinggi KAJ mengundang pelajar, mahasiswa, karyawan atau Profesional Muda (18-35 tahun) untuk mengikuti Retret Panggilan untuk menjadi Imam Diocesan KAJ di Wisma Samadi, Klender pada tanggal 16-18 November 2012.
Jika Anda berminat, harap menghubungi Frater Patrick atau Camel 021-4203374, Hp. 91078610; 081617446114; 085718314615).
Kami tunggu kedatangan Anda (Come n Join Us!)!
Pax Christi
Fr. Budi Nahiba (Promotor Panggilan)
Sumber : KAJ

http://www.santo-laurensius.org/2012/09/23/berani-jadi-imam-diosesan-jakarta/
file: 23 September 2012

INFORMASI PAROKI & KEGIATAN PAROKI - 23/09/2018

INFORMASI PAROKI & KEGIATAN PAROKI MISA REMAJA 30 SEPTEMBER 2018. Seluruh remaja usia BIR(10- 15th) diundang hadir untuk menghadiri Misa...