Friday, January 13, 2017

Menjaga Kemurnian Batin

Corak kehidupan masyarakat Indonesia tampak sangat agamais. Orang-orang rajin beribadat dan berdoa, apalagi pada saat perayaan hari besar keagamaan. Perhatian orang akan pentingnya ibadat sedemikian besar sampai sulit mentoleransi orang yang melakukan tindakan berbeda dari yang diyakininya. Tata gerak dalam ibadat pun kadang-kadang jadi polemik yang memicu rasa kesal. Ironisnya, di tengah kehidupan yang tampaknya sangat agamais ini berkembang pula aneka kejahatan dan kebobrokan moral. Ada gejala, agama makin ditekankan tetapi iman tidak menjiwai kehidupan nyata.
Kiranya menarik untuk direnungkan apa yang ditulis pada akhir bacaan Injil yang dibacakan pada hari ini. Markus menyebutkan macam-macam kebobrokan moral, yaitu: pikiran jahat atau itikad buruk, percabulan atau kelakuan birahi yang tak bisa dibenarkan, pencurian, pembunuhan, perzinahan atau ketaksetiaan suami-istri, keserakahan, kejahatan atau tindak kekerasan, kelicikan atau tipu daya untuk mencelakakan, perbuatan tak senonoh atau tak menghargai perasaan orang lain, iri hati, hujat atau fitnah untuk menjatuhkan nama orang, kesombongan termasuk sikap kurang menghormati yang keramat, kebebalan atau tak bisa membedakan yang boleh dan tak boleh dikerjakan.
Benih-benih kebobrokan moral itu bersumber dari dalam batin manusia yang tidak peduli akan sisi-sisi rohani. Di dalam batin yang lemah akan kebijakan-kebijakan, bibit kebusukan mudah berkembang. Kalau kebusukan itu keluar dari batin akan menjadi sikap dan tindakan seperti dalam daftar kebobrokan di atas yang baunya tidak sedap.
Oleh karena itu, tertib ibadat memang penting, tetapi memurnikan batin manusia tidak boleh dinomorduakan. Yesus menekankan bahwa ibadat yang tulus, bukan sekadar puji-pujian dangkal tetapi harus disertai keyakinan rohani. Ibadat dan kehidupan sehari-hari tidak boleh dipisahkan. Yesus mengingatkan akan kecaman Nabi Yesaya terhadap kehidupan beragama orang-orang di Yerusalem yang menjalankan ibadat dengan tertib tetapi korupsi, ketidakadilan, dan kemelaratan dalam masyarakat dibiarkan. Dalam hal itu, hidup rohani dan kehidupan nyata terpisah.
Hidup beragama yang sejati bertujuan untuk memurnikan batin manusia Dengan batin yang bersih dan murni manusia tidak perlu khawatir untuk hidup di dalam masyarakat yang tidak semuanya bersih. Orang yang mempunyai batin bersih dan murni siap untuk membuat yang di luar menjadi bersih. Oleh karena itu, mengurus sikap batin agar makin bersih dan murni sangatlah penting.
Jika batin kita bersih dan murni, maka sikap dan perbuatan yang keluar juga akan baik, tidak menimbulkan kebusukan. Dalam kehidupan menggereja kiranya perlu kita mawas diri: Apakah kita telah mempunyai cara pandang yang tepat terhadap lingkungan sekitar atau masih sekadar aktif melakukan kegiatan dalam masyarakat. Sejauh mana kegiatan-kegiatan yang kita lakukan berdasar pada batin yang murni dan bersih untuk mengangkat kehidupan menjadi makin manusiawi, toleran, dan damai.

http://www.santo-laurensius.org/2012/09/02/menjaga-kemurnian-batin/
file: Ditulis oleh Andreas Budi Wiryawan pada tanggal     


Melebihi Pemikiran Manusia

Apakah kamu tidak mau pergi juga?
Ini adalah pertanyaan yang sangat menantang dari Yesus yang Dia tujukan kepada kedua belas murid-Nya. Pertanyaan sangat refleksif ini Dia lontarkan dipicu oleh sikap para murid lainnya yang memilih mengundurkan diri dan tidak mau lagi mengikuti Dia. Mengapa?
Hal ini berawal dari apa yang disampaikan Yesus kepada mereka, khususnya perkataan Yesus bahwa Dia adalah roti yang telah turun dari surga, roti hidup. Dan lebih lagi Yesus mengatakan bahwa roti yang Dia berikan itu adalah daging-Nya sendiri, dan barangsiapa makan daging-Nya dan minum darah-Nya, dia akan mempunyai hidup yang kekal, dan akan dibangkitkan pada akhir zaman. Perkataan dan ajaran ini dianggap sebagai perkataan keras oleh para murid yang banyak itu. Mereka tidak mampu memahaminya, karena apa yang disampaikan oleh Yesus itu sangat tidak masuk akal, jauh dari pengalaman manusiawi biasa. Maka mereka, dengan hanya menggunakan pikiran semata, bukan hanya tidak mengerti ajaran dan tindakan Yesus, melainkan lebih dari itu, mereka tidak mampu mengenal siapa Yesus sesungguhnya. Lalu merekapun mengundurkan diri.
Sebaliknya dengan kedua belas murid Yesus. Iman kepercayaan mereka lebih banyak berperan, sehingga mereka lebih mampu menyelami makna yang jauh lebih dalam dari ajaran dan kehidupan Yesus, lebih dari apa yang sekedar dilihat oleh mata dan didengar oleh telinga serta disimak hanya oleh pikiran semata. Inilah kelebihan dari para pengikut Yesus yang sesungguhnya. Sikap seperti ini dengan sangat baik diperlihatkan oleh seorang tokoh abad ke-XI, dia adalah seorang Uskup sekaligus teolog dari Canterbury, bernama Anselmus. Beliau merumuskan teologi sebagai “fides quaerens intellectum” (iman yang mencari pengertian atau iman berusaha untuk mengerti). Dia tidak berusaha mengerti supaya percaya, melainkan dia percaya supaya mengerti. Salah satu ungkapan pribadinya yang cukup terkenal adalah “Credo ut intelligam” (saya percaya supaya saya mengerti). Salah satu penggalan tulisannya berbunyi:
Saya bukannya mencoba menyelami keagungan-Mu ya Tuhan, sebab saya sama sekali tidak membandingkanakalku dengan keagungan-Mu itu. Tetapi saya ingin sedikit melihat kebenaran-Mu, yang dipercayai dan dicintai oleh hatiku. Dan saya tidak bermaksud untuk memahami agar percaya, tetapi saya percaya agar bisa memahami. Sebab saya percaya juga bahwa saya tak akan mampu memahami kecuali jika saya percaya.

Kita butuh iman agar lebih bisa memahami ajaran-ajaran dan kehidupan Yesus, yang membuat kita bisa setia seperti sikap kedua belas murid itu, yang diwakili oleh Simon Petrus dalam dialog itu. Bahwa ada dari antara kedua belas murid itu yang akhirnya bukan hanya mengundurkan diri melainkan mengkhianati Yesus, hal itu menunjukkan bahwa walau sudah menjadi pengikut Yesus, tetap saja kita memiliki kelemahan, tidak sempurna. Segala kekuatan dan rahmat ilahi yang kita terima melalui Sakramen-sakramen, kita bawa dalam “bejana tanah liat”, yang karena rapuh cenderung berdosa kembali dan jatuh. Kita perlu bangkit melalui pertobatan dan pembaharuan diri terus menerus, sehingga dengan iman yang teguh kita selalu siap menyambut kedatangan Kristus pada akhir zaman.

http://www.santo-laurensius.org/2012/08/26/melebihi-pemikiran-manusia/

file: 26 Agustus 2012

Kurban Kristus Jaminan Hidup Kita

Dalam seni religius, burung pelikan dijadikan simbol pengorbanan diri. Menurut legenda, bila induk pelikan tidak dapat mencari makanan untuk anaknya, ia akan menusukkan paruhnya ke dalam dadanya dan memberikan darahnya sendiri untuk anaknya. Hal ini dilakukan supaya anaknya bisa tetap hidup meskipun induknya sendiri harus mati. Gereja mula-mula memandang kisah itu sebagai sebuah gambaran yang indah tentang apa yang telah diperbuat Kristus bagi kita dan tentang apa yang harus kita perbuat bagi sesama.
Hari ini kita mendengar sabda Yesus “Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman. Sebab daging-Ku adalah benar-benar makanan dan darah-Ku adalah benar-benar minuman.” (6:54-55). Allah Bapa mengurbankan PuteraNya yang tunggal, Yesus Kristus, agar manusia dapat hidup dan mengalami keselamatan. Dengan makan daging dan minum darah Yesus kita menghadirkan unsur-unsur kehidupan Yesus ke dalam diri kita. Sifat dan sikap Yesus sebagai teladan utama kehidupan dihadirkan ke dalam diri kita supaya hidup kita juga seperti Kristus.
Rasul Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Efesus menasihatkan agar kita dapat memperhatikan dan merefleksikan kehidupan yang sedang kita jalani. Kita diingatkan agar memanfaatkan waktu yang Tuhan berikan karena ada begitu banyak kejahatan yang mengintai kita setiap hari. Kita diajak untuk belajar mengerti kehendak Tuhan sambil mengucap syukur atas segala rahmatNya supaya kita terhindar dari sikap hidup yang bebal dan tidak mengenal Allah (Efesus 5:15-20).
Supaya kita terhindar dari kejahatan, kita harus menjadikan Yesus sebagai sumber iman dan hidup kita. Kita diajak untuk memanfaatkan waktu sebaik-baiknya untuk terus menjalin relasi dengan Yesus. Bagaimana caranya? Cintailah Ekaristi! Sebagai orang Katolik kita percaya bahwa roti dan anggur dalam perayaan ekaristi berubah sepenuhnya menjadi Tubuh dan Darah Kristus. Di sanalah terdapat Jiwa dan KeAllahan Yesus. Yesus adalah “roti yang telah turun dari sorga, bukan roti seperti yang dimakan nenek moyangmu dan mereka telah mati. Barangsiapa makan roti ini, ia akan hidup selama-lamanya” (6:58).
Yesus memberikan kehidupan kepada manusia dan melalui ekaristi manusia disegarkan dan dikuduskan. Yesus yang mengurbankan diriNya hadir dalam ekaristi dalam rupa roti dan anggur. Kalau kita setia menyambut Tubuh Kristus, kita akan dijiwai olehNya. Kalau kita sudah dijiwai Kristus maka kita juga dapat hidup bagaikan Roti yang dipecah-pecah lalu dibagi, mampu berkurban dan berbagi dengan sesama. Inilah jalan menuju kekudusan dan hidup kekal.
http://www.santo-laurensius.org/2012/08/19/kurban-kristus-jaminan-hidup-kita/
file: 19Agustus2012

INFORMASI PAROKI & KEGIATAN PAROKI - 23/09/2018

INFORMASI PAROKI & KEGIATAN PAROKI MISA REMAJA 30 SEPTEMBER 2018. Seluruh remaja usia BIR(10- 15th) diundang hadir untuk menghadiri Misa...